Senin, 16 Oktober 2017

kinerja MI Reksa Dana (2)




@ tgl 13 Oktober 2017, tren REKSA DANA bermacam-macam kategori maseh POSITIF KOK, well, para MI mesti TANCAP GAS, tapinya: 

🌳

TEMPO.COJakarta - PT BNP Paribas Investment Partners (BNPP IP) berkomitmen terus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui literasi keuangan. Di usianya yang ke-25, perusahaan manajer investasi itu berfokus menyelenggarakan lebih banyak program edukasi.

Presiden Direktur BNPP IP, Vivian Secakusuma, mengatakan Indonesia adalah negara kelima dengan ekonomi terbesar di Asia. "Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi BNPP IP," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 14 Agustus 2017

Indonesia juga telah mengantongi investment grade dari Moodys Investor Service, Fitch Ratings dan Standard & Poors (S&P) Global Rating. Vivian mengatakan peringkat tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan utama penanaman modal di dunia.

Baca: Jokowi Ingin Kepala Daerah Percepat Waktu Perizinan Bagi Investor

Perusahaan manajer investasi yang berasal dari Paris, Prancis, itu berharap dapat meningkatkan jumlah investor di Indonesia. Salah satunya melalui program edukasi investasi melalui BNP Paribas Investment Partners Investment Academy.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terdapat sekitar 525 ribu investor reksa dana yang terdaftar di Indonesia hingga Juni 2017. "Kami berharap program edukasi kami dapat membantu meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi di Indonesia dalam jangka panjang," kata dia.

BNPP IP merupakan salah satu pelopor di industri reksa dana. Sejak berdiri 1992 di Indonesia, BNPP IP telah dikenal sebagai perusahaan pertama yang bekerja sama dengan bank untuk mendistribusikan reksadana serta memperkenalkan reksadana tematik, reksadana kuantitatif, reksadana terproteksi. Tak hanya itu, pada tahun 2016, BNPP IP menjadi manajer reksadana syariah pertama yang berinvestasi pada efek luar negeri.

VINDRY FLORENTIN
Read more at https://www.tempo.co/read/news/2017/08/14/087899822/bnp-paribas-indonesia-tujuan-utama-penanaman-modal-dunia#D2mVROy2ESE12u8H.99

👌
JAKARTA–Total dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana hingga akhir tahun ini diperkirakan tembus Rp 444 triliun, naik 31% dari posisi akhir Desember 2016 yang mencapai Rp 338,8 triliun. Selama tahun berjalan (year to date/ytd) atau periode awal Januari hingga 25 Juli 2017), total AUM industri reksa dana tumbuh 14,6% dari Rp 337,8 triliun menjadi Rp 387,2 triliun.

“Jadi, industri reksa dana akan terus bertumbuh dengan pencapaian AUM hingga akhir tahun ini menjadi sekitar Rp 444 triliun,” ujar Dewan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Asri Natanegeri di Jakarta, Jumat (28/7).

Sementara itu, Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sujanto menjelaskan, selama tujuh tahun terakhir, pertumuhan AUM mencapai 152%. “Kalau lihat kenaikan dibandingkan kurun waktu tujuh tahun lalu sebesar Rp 153 triliun,” tutur dia.

Menurut Sujanto, pada kuartal II-2017, jumlah investor berdasarkan single identity number (SID) rekss dana naik menjadi 500 ribu dibandingkan pada kuartal I-2017 sekitar 450 ribu. Sedangkan dibandingkan pada akhir 2015 terjadi peningkatn 114%.

Menanggapi target 5 juta investor yang dipatok APRDI hingga lima tahun ke depan, Asri Natanegeri mengungkapkan target itu hanya bisa dicapai jika para manajer investasi (MI) melakukan penetrasi pasar secara agresif. “Soalnya angka pertumbuhan rata-rata masih 20-30%,” tandas dia.

Asri memperkirakan jumlag investor mencapai 750 ribu hingga 1 juta sampai akhir tahun ini. “Terutama dengan akses yang lebih luas, proyeksi itu memungkinkan,” ucap dia.

Dia menambahkan, hingga 26 Juli 2017, portofolio terbesar pada investasi reksa dana adalah reksa dana saham dengan total dana kelolaan Rp 108 triliun. Selebihnya merupakan reksa dana terproteksi dengan nilai dana kelolaan Rp 90,7 triliun, reksa dana pendapatan tetap (fixed-income) senilai Rp 83,8 triliun, dan reksa dana pasar uang senilai Rp 50 triliun.

Lainnya, menurut Asri, adalah reksa dana campuran dengan nilai dana kelolaan Rp 24,3 triliun, reksa dana syariah Rp 18 triliun, exchange traded fund (ETF) senilai Rp 7,4 triliun, dan reksa dana indeks sebesar Rp 1 triliun. (az)



JAKARTA kontan. Kado dari Standard & Poor's (S&P) untuk Indonesia berupa ratinginvestment grade membawa angin segar pada perkembangan pasar modal. Akibatnya, aliran dana asing yang masuk ke surat utang dalam negeri semakin deras.
Alhasil, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak dan meningkatkan investor reksadana. Kabar ini menjadi berkah bagi beberapa manajer investasi(MI). Bahkan sejumlah MI sudah meraih dana kelolaan melebihi target sampai akhir tahun.
PT Avrist Asset Management (Avram) misalnya telah memperoleh asset under management (AUM) per Mei 2017 sebesar Rp 1,67 triliun. Padahal, targetnya hanya Rp 1,5 triliun hingga akhir 2017.
"Kondisi pasar modal memang sedang mendukung, dampak S&P cukup positif mendorong investor yang tadinya menahan masuk ke pasar modal dan sekarang perlahan mulai berani masuk," ujar Direktur Avrist Asset Management Hanif Mantiq.
Ia optimistis, Avram bakal mencetak kinerja kinclong hingga tutup tahun ini. Karena itu, Avram mengerek target dana kelolaan hingga akhir tahun ini menjadi Rp 2 triliun.
Mengincar ritel
Demi mendongkrak target AUM, Avram menerbitkan produk anyar. Rencananya ada enam produk baru meluncur tahun ini. "Dua produk itu diantaranya terproteksi dan sukuk yang membagikan dividen," jelas Hanif. Selain itu, Avram juga akan menambah penjualan ke segmen ritel.
Dana Bahana TCW Investment Management juga sudah melebihi target. Soni Wibowo, Direktur Bahana TCW Investment Management mengatakan, perolehan AUM hingga Mei 2017 sebesar Rp 43 triliun, melesat 13,16% dibandingkan periode sama tahun lalu.
Hingga akhir 2017, Bahana menargetkan dana kelolaan Rp 42 triliun. "Sampai saat ini kami belum merevisi target karena masih menunggu kondisi pasar," ujar Soni.
investor institusi masih menjadi kontribusi terbesar dana kelolaan Bahana. "Ritel tetap menjadi fokus kami untuk produk-produk yang berisiko rendah. Kami tidak mematok target tertentu, tergantung demand saja," kata dia.
Sementara, Plt CEO PT Sucor Asset Management Jemmy P. Wawointana menuturkan dana kelolaan per Mei 2017 sebesar Rp 4,7 triliun melonjak 34,28% dibandingkan akhir tahun lalu.
Adapun hingga tutup tahun ini, Sucor menargetkan bisa memiliki dana kelolaan Rp 5,3 triliun. Nominal tersebut naik 26,19% dibandingkan realisasi akhir 2016 yang mencapai Rp 4,2 triliun. "Saat ini, jumlah investor bertambah dari distribusi yang menjual langsung ke ritel," kata Jemmy.
👄
JAKARTA kontan. Sepanjang April 2017, kinerja reksadana saham berhasil mengungguli reksadana jenis lainnya. Faktor pendongkrak kenaikan kinerja saham tak lain berkat saham-saham bluechip.

Data Infovesta Utama menunjukkan, kinerja reksadana saham seperti yang terlihat pada pergerakan Infovesta Equity Fund Index (IRDSH) mengalami kenaikan sebesar 0,93%. Namun masih di bawah rata-rata Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 2,11%.


Kemudian diikuti oleh return reksadana campuran yang terlihat dalam Infovesta Balanced Fund Index (IRDCP) yang naik 0,74%. Lalu, kinerja reksadana pendapatan tetap pada Infovesta Fixed Income Fund Index (IRDPT) melaju 0,57% dan di posisi terakhir terdapat reksadana pasar uang yang terlihat pada Infovesta Money Market Fund (IRDPU) naik 0,37%.

Meski begitu, secara year to date (ytd) hingga 28 April 2017, kinerja reksadana pendapatan tetap terlihat paling unggul yang mengalami kenaikan 4,43%. Sementara, kinerja reksadana saham baru naik 3,76%. Kenaikan tersebut masih di bawah rata-rata IHSG yang telah melesat 7,34% di periode yang sama.

Research & Investment Analyst Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai kinerja reksadana saham sepanjang April bisa paling melesat lantaran didukung oleh hasil laporan keuangan tahun 2016 dan kuartal I-2017 yang berhasil mencatatkan kinerja positif bahkan di atas ekpektasi.

Selain itu, juga didukung oleh kinerja emiten bluechip yang terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Apalagi harga-harga komoditas yang kian menanjak. “Otomatis ini membawa angin segar untuk reksadana saham,” paparnya.

Wawan optimistis, saham-saham bluechip seperti sektor keuangan bakal mengalami kenaikan 12%, komoditas 20%, infrastruktur dan konsumsi akan melaju masing-masing 15% dan 8%-10%.

Namun tak dipungkiri, Ia melihat kinerja reksadana pendapatan tetap masih paling unggul sepanjang empat bulan pertama ini lantaran ditopang oleh suku bunga yang relatif rendah juga derasnya dana asing yang terus merangsek masuk ke Surat Utang Negara (SUN). “Apalagi sikap optimis investor terkait rencana kenaikan rating dari Standard & Poor's,” jelas dia.

Hingga akhir tahun, Wawan memprediksi return reksadana saham bakal mencapai 10%-12%, campuran 7%-9%, pendapatan tetap 7%-8% dan pasar uang 4%-5%. Sementara, Ia optimistis IHSG akan melaju ke level 5.900-6.100 hingga akhir tahun 2017 nanti.
💃
Bisnis.com, JAKARTA--Kinerja reksa dana saham naik signifikan sepanjang pekan lalu dengan return sebesar 0,53% sepanjang 13 April-21 April 2017 menjadi 3,37% sepanjang tahun berjalan.
Reza Viola Purba, Research Analyst PT Infovesta Utama, menuturkan seluruh indeks reksa dana mencetak kinerja positif pada pekan lalu. Kinerja positif seluruh indeks reksa dana ditopang oleh menguatnya kondisi pasar saham dan obligasi, baik pemerintah maupun obligasi.
Pada pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) naik 0,85% atau 6,94% year-to-date ke level 5.664,48. Sementara itu, Infovesta Government Bond Index dan Infovesta Corporate Bond Index naik 0,14% dan 0,16% dalam 1 minggu.
"Indeks reksa dana saham mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada Jumat (21/4) dan berhasil mencatat kinerja mingguan tertinggi pada periode ini. Sebaliknya, kinerja mingguan terendah dicatat oleh indeks reksa dana pendapatan tetap," tulisnya dalam riset, Senin (25/4).
Berdasarkan data Infovesta Utama, Indeks Reksa Dana Saham mencetak return 0,53% sepanjang pekan lalu. Bahkan Indeks Reksa Dana Saham Syariah mampu tumbuh 1,31% sepanjang 13-21 April 2017.
Pada periode yang sama, kinerja Indeks Reksa Dana Campuran naik 0,11%, Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap naik 0,0002%, dan Indeks Reksa Dana Pasar Uang naik 0,12%.

Adapun sepanjang tahun berjalan, kinerja Indeks Reksa Dana Saham naik 3,37%, Indeks Reksa Dana Campuran 3,97%, Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap 4,19%, dan Indeks Reksa Dana Pasar Uang 1,52%.

Adapun lima produk reksa dana saham yang membukukan return month-to-date paling tinggi, yakni SAM Dana Cerdas 3,34%, PNM Ekuitas Syariah 3,34%, Reliance Saham Syariah 3,02%, Batavia Dana Saham Syariah 2,97%, dan Danareksa Syariah Saham 2,79%.

👄

Bisnis.com, JAKARTA - Reksa dana merupakan wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan ke dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi (MI) dan diadministrasikan Bank Kustodian.
Namun, sebagai instrumen investasi, reksa dana bukannya tidak memiliki risiko yang dapat mempengaruhi rencana keuangan Anda.
Terdapat sejumlah tips untuk memilih reksa dana yang tepat bagi kebutuhan Anda.
Lilis Setiadi, President Director PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, menjelaskan langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengecek keabsahan MI dan produk yang ditawarkan.
"Cek keabsahan MI dan reksa dana yang ditawarkan. Bisa melalui laman resmi www.ojk.go.id," jelasnya di sela-sela Seminar Optimalisasi Waspada Investasi, Selasa (11/4/2017).
Selanjutnya, jelas Lilis, kenali dan teliti lebih jauh MI yang Anda akan pilih. Bagaimana latar belakang pendiri dan pihak manajemen, berapa lama telah beroperasi, berapa besar dana kelolaannya dan pihak-pihak yang bekerjasama, seperti Bank Kustodian, auditor, serta agen penjual.
"Patut dipertanyakan jika MI itu sudah beroperasi dalam kurun waktu 20 tahun, namun dana kelolaannya baru Rp10 miliar, " jelasnya.
Lilis mengingatkan pada akhirnya calon investor wajib untuk memahami reksa dana yang akan diinvestasikan. Anda perlu mengecek sejak kapan produk tersebut telah diluncurkan dan bagaimana kinerjanya selama ini.
"Berapa besar portofolionya, pihak-pihak yang bekerjasama, dan kemudahan akses informasi," ingatnya.
👍
Jakarta - Reksa dana merupakan salah satu instrumen investasi yang memberikan tingkat keuntungan (return) yang cukup besar. Produk yang dijajakan oleh perusahaan manajer investasi (MI) itu mulai dikenal masyarakat luas.

Masing-masing MI biasanya menyajikan produk reksa dana yang berbeda-beda dengan daya tarik yang berbeda pula. Namun pada dasarnya ada 4 jenis produk reksa dana yang terbagi dari jenis saluran investasinya, yakni reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana pendapatan tetap, dan reksa dana pasar uang.

Tentunya pula masing-masing produk reksa dana dari masing-masing MI juga memiliki kinerja yang berbeda. DetikFinance telah merangkum kinerja produk reksa dana sepanjang Maret 2017, yang melansir data dari Infovesta, Jumat (7/4/2017). Namun data ini diambil sebelum Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlari kencang pada seminggu terakhir ini.

Reksa Dana Saham:
  1. KAM Kapital Syariah return 31,37%
  2. DMI Dana Saham Syariah return 29,01%
  3. Millenium Equity Prima Plus 25,43%
  4. Corfina Equity Syariah return 22,04%
  5. Treasure Saham Berkah Syariah 21,68%
Reksa Dana Campuran 
  1. Millenium Balance Fund return 13,15%
  2. Pacific Balance Syariah return 8,7%
  3. MNC Dana Kombinasi return 7,3%
  4. Mega Asset Mixed return 6,9%
  5. Mega Dana Kombinasi 6,8%
Reksa Dana Pendapatan Tetap
  1. Mega Asset Mantap return 11,06%
  2. PNM SBN 90 return 4,18%
  3. SAM Dana Obligasi return 4,16%
  4. Archipelago Sukuk Syariah I return 4,13%
  5. Bahana Prime Income Fund return 4,11%
Reksa Dana Pasar Uang
  1. Reksa Dana Pratama Dana Likuid return 0,75%
  2. Sucorinvest Money Market Fund return 0,72%
  3. Insight Money return 0,69%
  4. Insight Money Syariah return 0,62%
  5. TRAM PUNDI KAS 3 return 0,61%
(wdl/wdl)
👄

Bisnis.com, JAKARTA— Sepanjang tahun berjalan, sejumlah produk reksa dana berhasil mencatatakan return yang cukup tinggi.
Berdasarkan data Infovesta Utama yang dipublikasikan Senin (20/3/2017) dikemukakan bahwa seluruh reksa dana berhasil mencatatkan kinerja positif secara year-to-date. Kinerja tertinggi dicatat oleh reksa dana pendapatan tetap yang berhasil menguat sebesar 2,86% hingga 17 Maret 2017.
Adapun, indeks reksa dana saham menguat 1,72%. Kinerja ini terbilang sangat baik mengingat beberapa waktu lalu indeks reksa dana ini masih berada pada nilai negatif.

Berikut top 5 reksa dana dengan return tertinggi sepanjang tahun (per 17 Maret 2017):
Reksa Dana Saham
Sucorinvest Maxi Fund
14,22%
Sucorinvest Equity Fund
13,96%
HPAM Investa Ekuitas Strategis
12,55%
Syailendra Midcap Alpha Fund
8,38%
Eastpring Investments Value Discovery
7,76%

Reksa Dana Campuran
HPAM Flexi Plus
12,58%
Sucorinvest Flexi Fund
12,42%
HPAM Premium 2
8,54%
Archipelago Balance Fund
6,62%
Syailendra Dana Investasi Dinamis
6,60%

Reksa Dana Pendapatan Tetap
Simas Pendapatan Prima
5,47%
Mandiri Obligasi Optima
5,45%
SAM Dana Obligasi
5,22%
BNP Paribas Maxi Obligasi
4,94%
Pacific Fix Income
4,92%

Reksa Dana Pasar Uang
Reksa Dana Pratama Dana Likuid
1,89%
Insight Money
1,65%
CIMB Principal Cash Func
1,59%
Syailendra Dana Kas
1,58%
Sucorinvest Money Market Fund
1,58%
Sumber: Infovesta Utama
JAKARTA -- Bertumbuh 25% setahun dalam delapan tahun terakhir, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana bakal menembus Rp 1.000 triliun dalam beberapa tahun ke depan. Dengan sosialisasi dan edukasi yang lebih gencar serta pemanfaatan teknologi informasi, jumlah investor reksa dana bisa mencapai 10 juta dalam dua tahun yang akan datang.
Penipuan berkedok investasi yang masih terus terjadi menunjukkan besarnya potensi yang belum tergarap dengan baik.

Jumlah investor reksa dana saat ini yang baru sekitar 500.000 dan NAB sebesar Rp 352,7 triliun atau sekitar US$ 26 miliar belum mencerminkan kemampuan riel penduduk dan ekonomi Indonesia. Malaysia dengan penduduk 30,5 juta memiliki 18,2 juta investor reksa dana dengan NAB di atas US$ 155 miliar.

Para pelaku pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonsia (BEI), pemerintah, dan institusi pendidikan perlu bahu-membahu meningkatkan sosialisasi dan edukasi pasar modal, meningkatkan literasi dan akses pasar.

Pandangan, optmisme, dan imbauan ini mengemuka dalam diskusi tentang Prospek Reksa Dana di Indonesia yang diadakan Majalah Investor di Jakarta, Kamis (16/3). Diskusi yang dipandu Pemred MajalahInvestor Primus Dorimulu menampilkan lima pembicara, yakni Direktur Pengelolaan Investasi OJK Sujanto, Presidium Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Edward Lubis, Ketua I Asosiasi Bank Agen Penjual Efek Reksa Dana Indonesia (ABAPERDI) Mushidahat, Wakil Ketua Asosiasi Daan Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri, dan Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito. (jn)


Di sisi lain, kinerja reksa dana masih di bawah target. Target NAB reksa dana sebesar Rp 1.000 triliun pada 2017, namun faktanya baru mencapai Rp 352 triliun. Sedangkan jumlah investor yang diharapkan menembus 5 juta investor pada akhir 2017, namun faktanya baru sekitar 500 ribu investor.

Saat ini ada 4 isu utama di industri reksa dana. Pertama, iuran yang dipungut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih dikeluhkan oleh manajer investasi. OJK membebankan fee sebesar 0,45% dari nilai aktiva bersih (NAB) atau dana kelolaan manajer investasi. Persoalannya, manajer investasi menganggap dana yang mereka setorkan tidak sebanding dengan dana yang sudah dikembalikan kepada industri untuk sosialisasi dan edukasi.

Kedua, pengembangan agen penjual dalam bentuk distribusi baru di luar bank. Diharapkan, reksa dana nantinya semakin mudah dibeli di tempat lain seperti di mini market, selain pemanfaatan teknologi yang menjadi faktor penting.

Ketiga, untuk membangkitkan kebutuhan terhadap reksa dana, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bisa menjadi potensi penambahan investor reksa dana, tidak cukup hanya menarik iuran jaminan sosial sebesar 3% dari penghasilan. Sebagai contoh, BPJS Malaysia mengelola 23% penghasilan tiap pekerja (11% diambil dari gaji dan 12% dari perusahaan). Private pension plan bisa disosialisasikan untuk masuk ke reksa dana.

Keempat, dibutuhkan reksa dana khusus untuk menampung dana repatriasi. Reksa dana khusus ini memungkinkan dibukanya potensi investasi ke luar negeri. (jn)

💪
Jakarta - Majalah Investor kembali memberikan penghargaan kepada reksa dana yang dinilai memiliki kinerja terbaik. Penghargaan itu diberikan pada acara "Penganugerahan Reksa Dana Terbaik 2016" yang diselenggarakan di Soehanna Hall, Energy Building Jakarta, Rabu (3/3). Tahun ini adalah tahun ke-15 Majalah Investor melakukan pemeringkatan reksa dana dibantu lembaga riset Infovesta Utama.
Tahun ini, sebanyak 36 penghargaan diberikan kepada 29 reksa dana yang dikelola 20 manajer investasi. Selain itu, ada 4 reksa dana dan satu manajer investasi favorit, serta dua penghargaan khusus untuk manajer investasi yang berkontribusi terhadap sektor riil.
“Pemberian penghargaan ini merupakan apresiasi terhadap reksa dana yang mampu bertahan dan memiliki kinerja terbaik, sekaligus mendorong pengelola reksa dana agar terus meningkatkan kinerja,” kata Pemimpin Redaksi Majalah Investor, Primus Dorimulu.
Serupa dengan tahun sebelumnya, ada dua kategori pemeringkatan, yaitu, "Best Performance" dan "Most Favorite". "Best Performance" ditentukan berdasarkan reksa dana yang memenuhi kriteria tertentu dan memiliki penilaian tertinggi, sedangkan "Most Favorite" ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak dalam survei.
Penilaian dilakukan terhadap kinerja reksa dana yang mencerminkan ketepatan strategi dan fleksibilitas manajer investasi dalam mengelola reksa dana dan penilaian atas pertumbuhan unit penyertaan (UP) reksa dana sebagai gambaran kepercayaan investor terhadap produk reksa dana tersebut. Seluruh jenis reksa dana dinilai menggunakan bobot yang sama, yaitu 70 persen untuk aspek kinerja dan 30 persen untuk aspek pertumbuhan unit penyertaan (UP).
Pemeringkatan yang dibuat PT Infovesta Utama, lembaga riset reksa dana yang membantu tim litbang Majalah Investor dalam melakukan pemeringkatan reksa dana menghasilkan 12 penghargaan untuk reksa dana saham. Berikutnya, sembilan reksa dana campuran, enam reksa dana pendapatan tetap rupiah, tiga reksa dana pendapatan tetap USD dan enam reksa dana pasar uang.
PT Sinarmas Asset Management tahun ini memborong penghargaan dengan meraih 7 awards. Berikutnya PT Schroder Investment Management Indonesia dengan lima penghargaan. Manajer investasi lain yang menerima awards untuk reksa dana yang dikelolanya adalah PT Pacific Capital Investment, PT Corfina Capital, PT Pratama Capital Asset Management, PT Henan Putihrai Asset Management, PT Ciptadana Asset Management, PT Batavia Prosperindo Asset Management, PT Panin Asset Management, PT Nikko Securities Indonesia, PT Kresna Asset Management, PT MNC Aset Management, PT BNI Asset Management, PT NET Asset Management, PT Manulife Aset Manajemen, PT Mega Capital Investama, PT Philip Asset Management, dan PT Trimegah Asset Management.
Penghargaan khusus juga diberikan untuk manajer investasi yang memiliki kontribusi terbesar terhadap sektor riil, dengan mengelola reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) berbasis proyek. Penghargaan khusus ini diberikan kepada PT PNM Investment Management dan PT Danareksa Investment Management.
Sementara penghargaan sebagai reksa dana favorit diberika kepada reksa dana Schroder Dana Prestasi sebagao reksa dana saham favorit, reksa dana Schroder Dana Kombinasi sebagai reksa dana campuran favorit, reksa dana CIMB-Principal Bond sebagai reksa dana pendapatan tetap favorit, reksa dana Bahana Dana Likuid sebagai reksa dana pasar uang favorit. Dan manajer investasi favorit diberikan kepada PT Schroders Investment Management Indonesia.
Kategori Penilaian
Sebelum melakukan penilaian, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh reksa dana yang akan diperingkat, yaitu minimal berusia 1 tahun per 30 Desember 2015, termasuk reksa dana jenis saham, campuran, pendapatan tetap, pasar uang, indeks, atau ETF (exchange traded fund); dalam denominasi rupiah, kecuali jenis pendapatan tetap; bukan reksa dana syariah; tidak membagikan dividen; serta minimal memiliki dana kelolaan Rp 25 miliar per 30 Desember 2015.
Pemeringkatan diikuti oleh 338 reksa dana dari 53 manajer investasi. Seluruh reksa dana tersebut kemudian dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yakni jenis reksa dana, terdiri dari lima  kategori, yaitu saham, campuran, pendapatan tetap denominasi rupiah, pendapatan tetap denominasi dolar AS, dan pasar uang. Reksa dana indeks dan ETF dikelompokkan ke kategori saham atau pendapatan tetap sesuai dengan alokasi portofolio dominannya. Periode penilaian, terdiri dari tiga kategori, yaitu 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun. Khusus untuk jenis saham, ditambahkan kategori 10 tahun.
Kelas AUM, terdiri dari 3 kategori, yaitu Rp 25 miliar-Rp 250 miliar, Rp 25 miliar–Rp 1,5 triliun, dan di atas Rp 1,5 triliun. AUM dilihat berdasarkan posisi per akhir Desember 2015. Apabila dalam satu kelompok terdapat kurang dari 5 reksa dana, maka akan digabungkan ke kelompok di atas/di bawahnya. Kategori ini tidak berlaku bagi reksa dana jenis pendapatan tetap berdenominasi dolar dan reksa dana jenis campuran. Sebagai tambahan, kategori ini sedikit berbeda dibandingkan dengan tahun lalu yang memiliki batasan Rp 25 miliar-Rp 100 miliar, Rp 100 miliar-Rp1 triliun, dan di atas Rp 1 triliun.
Profil risiko (khusus untuk reksa dana jenis campuran), terdiri dari 3 kategori dibagi berdasarkan rata-rata bulanan alokasi portofolio pada saham selama periode penilaian, yaitu agresif, dengan rata-rata > 60 persen, moderat dengan rata-rata 41- 60 persen, dan konservatif dengan rata-rata < 41 persen
Untuk pemeringkatan "Most Favorite", Infovesta melakukan survei terhadap produk reksa dana jenis saham, campuran, pendapatan tetap, dan pasar uang beserta manajer investasi. Beragam investor turut mengikuti survei ini, baik individual maupun institusi. Voting dilakukan untuk memilih reksa dana dan manajer investasi yang dinilai terbaik dan dipercaya hingga maksimal tiga pilihan untuk setiap kategori dari lima kategori di atas. Reksa dana dan manajer investasi yang mendapatkan suara terbanyak menjadi pemenang.
Anselmus Bata/AB
BeritaSatu.com
JAKARTA okezone - Investasi saham, termasuk di dalamnya investasi Reksa dana menjadi unggulan di tahun 2016. Kini investasi tersebut, khususnya Reksa dana masih tetap menjanjikan di tahun 2017. Agus B. Yanuar, Direktur Utama Samuel Aset Manajemen (SAM)pernah bilang, industri reksa dana semakin membaik dari tahun ke tahun.
”Ada beberapa katalis positif yang berpotensi mendorong industri reksa dana di tahun 2017. Rupiah yang stabil, kinerja keuangan Emiten yang meningkat, perbaikan pada data makro, penguatan harga komoditas, tingkat bunga rendah, inflasi yang terukur, minat investor global pada emerging market yang tetap tinggi, dan banjirnya likuiditas global akan menempatkan IHSG ke tingkat yang lebih tinggi dengan potensi naik 15%-20% tahun depan,” ujarnya di Jakarta.
Selain itu, bertambahnya partisipasi investor institusi dan semakin meningkatnya pemahaman investor individu tentang perlunya berinvestasi untuk tujuan keuangan jangka menengah dan jangka panjang, akan membuat produk reksa dana semakin menjadi pilihan.
Di samping itu, imbal hasil produk reksa dana sesuai dengan jenis produk dan aset dasarnya. Reksa dana saham berpotensi memberikan imbal hasil antara 18%-25%, reksa dana campuran 13,5%-15%, reksa dana obligasi 7%-12%, sementara reksa dana pasar uang 4%-5%.
Salah satunya, Reksa dana Lautandhana Optima Balances Fund. Reksa dana campuran besutan PT Lautandhana Investment Management ini meluncur 22 Desember lalu. Pasar yang ketika itu kurang bersahabat untuk Reksa dana saham jadi salah satu alasan manajer investasi mengeluarkan Reksa dana campuran.
“Jadi, kalau kami keluarkan Reksa dana saham, semua investor takut return-nya bisa jatuh dan kurang stabil,” kata Product and Compliance Lautandhana Management Anita Wijaya.
Itu sebabnya, Lautandhana Management merilis Reksa dana berbasis saham, obligasi, dan deposito. “Jadi, return dari portofolio investasi lebih stabil. Kalau saham lagi jelek, kami bisa beli lebih banyak obligasi. Kalau obligasi jelek, bisa ke deposito,” beber Anita.
Untuk memaksimalkan imbal hasil produk Reksa dana campuran teranyarnya, Lautandhana Management menerapkan kebijakan investasi dengan komposisi minimal 5% hingga maksimal 79% ke efek bersifat ekuitas. Lalu, 1%–75% ke efek bersifat utang yang diterbitkan Pemerintah RI dan korporasi berbadan hukum Indonesia, dan 20%–79% ke instrumen pasar uang dalam negeri.
Hanya, saat ini manajer investasi yang berdiri 2005 lalu tersebut lebih banyak menempatkan dana kelolaan Lautandhana Optima Balances Fund ke surat berharga negara (SBN). Porsinya mencapai 60%–70%. Sisanya yang 30%–40% masuk ke deposito. “Menjelang liburan akhir tahun, kinerja yang stabil ada di SBN, dan kami memilih tenor sedang (lima tahun–tujuh tahun),” ungkap Anita.
Untuk deposito, Lautandhana Management tidak menetapkan jangka waktu jatuh temponya. Yang jelas, anak usaha Lautandhana Securindo ini menaruh dana kelolaan Reksa dana Lautandhana Optima Balances Fund di deposito bank pemerintah dan swasta terkenal serta memiliki rating khusus. Sedang untuk obligasi swasta, mereka memilih surat utang dengan rating minimal BBB+.
(mrt)
👄

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah produk reksadana mampu mencatat kinerja melampaui indeks acuannya di sepanjang 2016 lalu.  Berikut paparan sejumlah reksa dana yang jadi jawara serta portofolionya.
Reksadana Saham
Berdasarkan data Infovesta Utama, reksa dana saham yang kinerjanya paling moncer sepanjang tahun lalu adalah Treasure Fund Super Maxxi besutan Treasure Fund Investama. Produk ini mendulang imbal hasil sebesar 50,86 persen di tahun 2016 saja.
Mengekor di bawahnya, ada Sucorinvest Equity Fund yang memberikan return 47,99 persen. Kemudian, ada Sucorinvest Sharia Equity Fund dengan return 41,19 persen.
Bandingkan dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Di periode tersebut, IHSG hanya mencatat kenaikan 15,32 persen. Sementara Infovesta Equity Fund Index hanya terkerek 7,70 persen.
Senior Research & Investment Analyst Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, reksa dana saham berkinerja terbaik rata-rata menitikberatkan portofolionya pada sektor pertambangan, industri, keuangan dan konsumsi.
“Sektor pertambangan saja naiknya 71 persen, sektor industri di 31 persen,” kata dia.
Tidak percaya? Mari lihat portofolio Sucorinvest Equity Fund. Berdasarkan fund fact sheet, dari 97,3 persen dana yang ditempatkan di instrumen saham, lima efek terbesarnya adalah ANTM, BBNI, GGRM, TLKM, dan WIKA.
“Kita overweight di mining. Tahun lalu porsinya sekitar 23 persen,” kata Direktur Ivestasi Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana.
reksa dana Campuran
Di jajaran reksa dana campuran, produk jawaranya adalah Net Dana Flexi besutan Net Assets Management dengan return 38 persen.
Bandingkan dengan kinerja Infovesta Balanced Fund Index yang hanya tumbuh sekitar 9,29 persen.
Di posisi kedua, ada SAM Dana Berkembang dengan imbal hasil 30,27 persen dan SAM Dana Bersama yang mencetak imbal hasil 29,85 persen.
Fund Manager Net Assets Management Andri Supratman mengatakan, dengan gencarnya pembangunan infrastruktur tahun lalu, reksadana Net Dana Flexi menitikberatkan portofolionya pada saham-saham yang berkaitan dengan infrastruktur.
“Sekitar 50 persen dari portofolio diisi oleh saham perusahaan infrastruktur, seperti KRAS dan SMGR. Sisanya, kami sebar di industri keuangan, pertambangan, dan perkebunan,” ujar dia.
reksa dana Pendapatan Tetap
Pada jenis reksa dana pendapatan tetap, produk Pendapatan Tetap Abadi 2 milik Bahana TCW Investment Management menjadi pencetak return terbaik, dengan imbal hasil sebesar 20,09 persen.
Disusul oleh Mega Dana Ori Dua dengan return 15,28 persen dan Mega Dana Pendapatan Tetap dengan return 14,93 persen.
Pada periode yang sama, rata-rata return reksa dana pendapatan tetap, sebagaimana tercermin dari Infovesta Fixed Income Fund Index, hanya sebesar 8,02 persen dan Mega Dana Pendapatan Tetap dengan return 14,93 persen.
Pada periode yang sama, rata-rata return reksa dana pendapatan tetap, sebagaimana tercermin dari Infovesta Fixed Income Fund Index, hanya sebesar 8,02 persen.
Menurut Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo, pihaknya memilih surat utang negara (SUN) durasi panjang untuk dikoleksi pada Pendapatan Tetap Abadi 2.
“Saat ini, sekitar 90 persen portofolio diisi oleh SUN dengan durasi lima tahun,” terang Soni.
Menurutnya, investor di reksa dana pendapatan tetap adalah investor dengan horizon investasi jangka panjang.
Sehingga ia mengambil keuntungan dari naiknya harga obligasi, seiring penurunan suku bunga yang terjadi beberapa kali tahun lalu.
reksa dana Pasar Uang
Pada reksa dana jenis pasar uang, Insight Money milik Insight Investments Management menduduki peringkat teratas dengan return 8,46 persen.
Kemudian di bawahnya ada Cipta Dana Cash dengan kinerja 8,22 persen dan Sucorinvest Money Market Fund dengan return 7,95 persen.
Sedangkan Infovesta Money Market Fund mencatat kenaikan 4,63 persen.
Dalam mengelola Sucorinvest Money Market Fund, Jemmy mengalokasikan 60 persen dana kelolaan ke instrumen obligasi yang jatuh tempo kurang dari setahun dengan peringkat minimal idAA-.

Lalu 40 persen sisanya ke kas untuk menopang likuiditas. (Petrus Sian Edvansa)
🙌🙌
Jakarta - Kinerja reksa dana saham dalam setahun terakhir cukup positif seiring dengan naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Bahkan, ada reksa dana saham yang mencatatkan keuntungan hingga 50% dalam setahun.

Mengutip data Infovesta, Rabu (4/1/2016), rata-rata kinerja reksa dana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index, dalam kurun waktu setahun atau 30 Desember 2015-30 Desember 2016 tercatat naik 7,70%. 

Angka ini lebih rendah dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatatkan kenaikan hingga 15,32%.

Jika dirinci lebih jauh, ada kinerja reksa dana saham yang mencatatkan keuntungan melejit hingga 50,856% dalam setahun, yaitu Treasure Fund Super Maxxi.

Selain itu, reksa dana saham Sucorinvest Equity Fund juga meraup imbal hasil 47,993% dalam setahun disusul Sucorinvest Sharia Equity Fund sebesar 41,187%, SAM Indonesian Equity Fund 39,968%, dan OSO Sustainability Fund 39,311%. (drk/ang)
👋

Bisnis.com, JAKARTA— Hingga November 2016, pertumbuhan nilai aktiva bersih (NAB) atau dana kelolaan industri reksa dana sudah mencapai 21,61%.
Berdasarkan data Pusat Informasi Reksa Dana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) nilai dana kelolaan hingga November 2016 sudah mencapai Rp315,56 triliun.




















ilustrasi - bisnis
Nilai tersebut naik hingga 21,61% dibandingkan dengan akhir tahun lalu yang mencapai Rp259,49 triliun.
Adapun, jumlah unit penyertaan industri reksa dana mencapai 231,23 miliar unit, atau naik 27,06% dibandingkan dengan unit penyertaan akhir tahun lalu yang mencapai 181,99 miliar unit.
Sementara itu, NAB reksa dana secara bulanan pada November ini tumbuh tipis hanya 0,56%.

Perkembangan NAB 2016
Bulan
NAB (Rp triliun)
Januari
263,54
Februari
272,02
Maret
281,93
April
288,18
Mei
291,84
Juni
299,80
Juli
305,88
Agustus
312,89
September
306,17
Oktober
313,78
November
315,56
 Sumber: Pusat Informasi Reksa Dana OJK
🙌
JAKARTA kontan. Gangguan aksi demonstrasi ke pasar sepertinya memang benar adanya. Setelah sebelumnya sejumlah pelaku pasar merasakannya, kini giliran PT Schroder Investment yang turut merasakan dampak dari sentimen negatif tersebut.
Chief Executive Officer Schroder, Michael T Tjoajadi bilang, berlarut-larutnya aksi demonstrasi telah memberikan dampak negatif bagi pergerakan IHSG di pengujung tahun ini, bahkan akan berimplikasi buruk terhadap ekonomi dalam negeri secara umum.
"Demo terus, ini memberikan dampak negatif. Demo berjalan damai saja sudah memberikan dampak negatif, apalagi jika terjadi kerusuhan," jelas Michael, Jumat (25/11).
Sentimen negatif kian menguat karena isu demo sudah melebar. Bukan hanya soal dugaan penistaan agama, tapi sudah ditunggangi dengan sejumlah agenda politik tertentu. Karena hal ini juga yang menyebabkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersengal-sengal belakangan ini.
Jika spesifik pada sektornya, menurut Michael, sektor properti menjadi sektor yang terekspos paling besar sentimen negatif tersebut.
Sebab, karena sentimen itu para pelaku usaha properti lebih memilih untuk menunggu atau bahkan menunda pengerjaan proyek terkait upaya mencari kepastian pasar berlangsungnya sejumlah aksi demo.
Lagi-lagi, dampak negatifnya cukup luas. Apalagi, sentimen asing juga kurang mendukung setelah Donald Trump terpilih menjadi presiden Amerika Serikat (AS) khsusunya di pasar valas.
"Bukan hanya rupiah, hampir semua mata uang asing melemah terhadap dolar AS," tambah Michael. Ini karena pasar melihat adanya ketidakpastian terkait kebijakan baru yang akan diambil Trump nanti.
👀


JAKARTA. Kemarin (16/11), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang sempat menguat sekitar 2,11% ke level 5.185,46. Namun, sejak dihelatnya pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada 8 November lalu, IHSG secara perlahan terus mengalami koreksi. Bahkan mencapai level 5.078 pada Selasa (15/11) lalu. Reksadana saham pun terkena imbasnya.
Mengacu data dari Infovesta, Infovesta Equity Fund Index (IRDSH) per 15 November 2016, dalam 30 hari terakhir indeks sudah merosot sebesar 6, 816%. Sedangkan sejak awal bulan November, penurunannya sebesar 7,04%.
Direktur Sucroinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengaku, penurunan kinerja reksadana saham besutan perusahannya secara umum hampir serupa dengan penurunan IHSG.
Untuk tetap dapat memaksimalkan return di saat seperti ini, Jemmy sendiri memiliki strategi khusus. Dia bilang, pada saat volatilitas saham cukup tinggi biasanya mereka akan menggeser alokasi saham pada portofolionya dan meningkatkan jumlah uang tunai. “Kami juga lebih banyak melakukan trading jangka pendek,” kata Jemmy.
Meskipun IHSG tercatat menurun, Direktur Samuel Asset Management Agus Yanuar tidak terlalu kaget. “Memang biasanya setiap tahun di bulan November akan terjadi koreksi,” kata Agus.
Belum lagi adanya dua peristiwa besar yang menggoyang pasar. “Pertama ada pemilihan umum AS, lalu hingar-bingar pilkada di Indonesia,” ucap dia.
Bahkan Agus sendiri mengakui, pihaknya sudah sejak awal November mengurangi porsi sahamnya dan mengalihkannya ke uang tunai. “Untuk antisipasi saat seperti ini, kita tambah porsi cash menjadi sekitar 10%,” ucap dia

Dalam menggeser portofolio, Jemmy mengaku tidak terlalu melakukan perubahan yang terlalu mencolok. Dari 90% saham, kemudian dipangkas menjadi 85% saja. Lalu selebihnya dialokasikan ke uang tunai. Dalam meracik sahamnya sendiri, Jemmy menitik beratkan pada sektor perbankan dan komoditas, terutama CPO.
😜
Jakarta detik - Kinerja reksa dana saham masih terus positif di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Secara year to date (ytd) atau dari 30 Desember 2015 hingga 31 Oktober 2016, reksa dana saham sudah naik tinggi.

Mengutip data Infovesta, Selasa (8/11/2016), rata-rata imbal hasil reksa dana saham berdasarkan Infovesta Equity Fund Index, secara ytd mencapai 12,81%, lebih rendah dibandingkan kinerja IHSG yang mencapai kenaikan 18,06%.

Imbal hasil tersebut merupakan data yang tidak termasuk reksa dana dengan dana kelolaan di bawah Rp 10 miliar sesuai ketentuan minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika dirinci lebih jauh, ada reksa dana saham yang mencatatkan keuntungan hingga 47,097% sejak 30 Desember 2015 hingga 31 Oktober 2016, yaitu Sucorinvest Equity Fund.

Sucorinvest Sharia Equity Fund mencatat keuntungan 42,229%, sementara SAM Indonesia Equity Fund 42,14%, SAM Dana Cerdas 36,761%, dan Archipelago Equity Growth 33,543%. (drk/ang)


JAKARTA — Reksa dana saham kembali membukukan kinerja paling tinggi sepanjang Oktober 2016 seiring dengan laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang naik 1,07% dibandingkan dengan akhir September 2016.

Berdasarkan Infovesta Equity Fund Index, rerata return produk reksa dana saham yang beredar di pasar sepanjang Oktober 2016 mencapai 0,22%. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja rerata produk reksa dana campuran dan reksa dana pendapatan tetap. Pasalnya, Infovesta Balanced Fund Index tercatat -0,19% dan Infovesta Fixed Income Fund Index -0,83% sepanjang bulan lalu.
Sepanjang tahun berjalan, kinerja reksa dana saham juga paling unggul. Secara rinci, Infovesta Equity Fund Index naik 12,81%, Infovesta Balanced Fund Index 12,17%, dan Infovesta Fixed Income Fund 10,1% pada periode Januari-Oktober 2016.
Kendati membukukan rerata return paling tinggi, reksa dana saham belum mampu melampaui kenaikan IHSG. Pasalnya, IHSG naik 1,07% month on month atau 18,06% year to date ke level 5.422,54 pada penutupan perdagangan Senin (31/10).
Kinerja rerata produk reksa dana berbasis obligasi pun masih di bawah kenaikan indeks acuannya. Mengacu pada Infovesta Government Bond Index, kinerja rerata obligasi negara yang dapat diperdagangkan mencapai 11,9% ytd, sedangkan Infovesta Corporate Bond Index naik 8,55% ytd.
Direktur Investasi Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan secara historis, periode November-Desember selalu terjadi kenaikan di pasar saham. Dengan begitu, Jemmy memproyeksi sampai akhir tahun kinerja reksa dana saham akan mendominasi.
"Indeks reksa dana saham mungkin bisa capai return 16%, sedangkan reksa dana pendapatan tetap mungkin sekitar 12% sampai akhir tahun," ungkapnya, Selasa (1/11).
Jemmy masih optimistis reksa dana pendapatan tetap masih berpotensi membukukan kinerja yang bagus seiring dengan pemulihan ekonomi nasional dan kenaikan harga komoditas. Selain itu, kinerja reksa dana berbasis obligasi ini diperkirakan terdorong apabila Indonesia mengantongi rating investment grade dari Standard & Poor's pada akhir tahun ini.
Sejumlah produk reksa dana saham Sucorinvest AM membukukan return tertinggi di antara 188 produk serupa yang beredar di pasar. Tiga produk dengan return tinggi sepanjang Januari-Oktober 2016, yakni Sucorinvest Equity Fund 47,1%, Sucorinvest Syaria Equity Fund 42,23%, dan Sucorinvest Maxi Fund 33,51%.
Head of Research PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya menuturkan potensi upside returnreksa dana saham pada kuartal IV/2016 cenderung terbatas. Perkiraannya, hingga akhir tahun reksa dana saham akan membukukan kinerja 13%-15% atau naik sekitar 3% dari posisi akhir September 2016.

WINDOW DRESSING
Edbert menilai berat bagi reksa dana saham untuk membukukan return di atas IHSG. Secara historis, imbuhnya, kondisi tersebut hanya terjadi saat pasar saham dalam tren bullishsignifikan.
"Saat ini valuasi saham-saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia sudah cukup mahal. Laju IHSG juga dibayangi tantangan pada kuartal IV ini, seperti Pemilu AS pada November dan eksekusi kenaikan Fed Fund Rate pada akhir tahun," ujarnya, baru-baru ini.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menuturkan menjelang akhir tahun kinerja reksa dana saham akan diwarnai aksi window dressing yang dilakukan oleh para pelaku pasar. Dalam 15 tahun terakhir, lanjutnya, IHSG tidak pernah rugi pada Desember.
"Pada 2001-2015, kisaran kenaikan IHSG pada Desember antara 0,4%-12%, tetapi tidak pernah rugi. Rata-ratanya 3%, jadi akan positif untuk kinerja reksa dana saham pada akhir tahun," tuturnya.
Secara historis, lanjutnya, volatilitas eksternal tidak menyurutkan potensi kinerja positif pasar saham jelang penghujung tahun. Kendati begitu, investor reksa dana saham disebut cenderung merealisasikan keuntungan pada saat indeks naik tinggi.
"Ada potensi kenaikan yang cukup besar akhir tahun. Sekarang nasabah tunggu IHSG koreksi ke kisaran 5.300-5.400 untuk masuk," pungkasnya.
Hingga 26 Oktober 2016, Panin Asset Management mengantongi dana kelolaan sebesar Rp10,03 triliun. Dana kelolaan tersebut sempat turun seiring dengan aksi profit taking oleh investor.
Rudiyanto menambahkan dana hasil tax amnesty sudah mulai mengalir ke salah satu manajer investasi gateway ini. Dana tersebut masuk ke produk reksa dana saham, campuran, dan pendapatan tetap yang ditampung dalam rekening khusus. Namun, dia enggan mengungkap nominal dana yang masuk.
"Mudah-mudahan akhir tahun yang sempat profit taking pada September masuk lagi sehingga target dana kelolaan Rp15 triliun-Rp16 triliun bisa tercapai," ujarnya.
Produk reksa dana saham jagoan Panin AM yang membukukan return tinggi secara year to date, misalnya, Panin Dana Teladan 31,19%, Panin Dana Maksima 19, 79%, dan Panin Dana Syariah Saham dengan kinerja 19,55% sepanjang Januari-September 2016.

Jakarta beritasatu - Pemerintah telah menunjuk 55 lembaga gateaway yang terdiri dari perbankan, manajer investasi dan perusahaan perantara perdagangan (sekuritas). Tercatat, ada 19 perusahaan sekuritas, 18 manajer investasi, dan 18 bank yang terpilih bisa menampung dana tax amnesty. Ada beberapa ketentuan yang dituntut pemerinah mengenai dana ini. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 118/2016 tentang Pengampunan Pajak, dana repatriasi tax amnesty wajib diinvestasikan di Indonesia minimal selama tiga tahun. Dan dana repatriasi dan hasil investasinya wajib dilaporkan secara berkala setiap enam bulan selama tiga tahun.
Beberapa manajer investasi yang ditunjuk pemerintah menyatakan sampai saat ini belum berencana menerbitkan reksa dana khusus untuk menampung dana-dana ini. Sejumlah manajer investasi tersebut menyatakan akan mengunakan reksa dana yang sudah ada saja. Seperti disampaikan Director of Business Development PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Putut E Andanawarih, pihaknya sedang menimbangkan beberapa faktor dalam menampung dana repatriasi ini.
Karena ada faktor yang menyatakan kerahasian yang dijamin. “Ini lagi dicari win win solution. Produknya seperti apa,” kata dia. MAMI juga menyiapkan tim khusus untuk mencari tahu keinginan investor. Begitu juga faktor jangka waktu yang mengharuskan diinvestasikan di Indonesia selama tiga tahun dan juga kewajiban pelaporan berkala. “Keharusan penempatan di Indonesia ini juga perlu dipikirkan,” tuturnya.
Sampai dengan saat ini, MAMI masih mengandalkan reksa dana yang sudah ada untuk menampung dana repatriasi. Sementara untuk reksa dana offshore syariah yang dikelola MAMI, tidak bisa dijadikan sebagai instrumen repatriasi. Hal ini karena keharusan penempatan portofolio yang sepenuhnya harus berada di dalam negeri.
Presiden Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia (SIMI) Michael Tjoajadi mengaku, hingga saat ini belum ada nasabah yang melakukan repatriasi ke SIMI. ”Belum, karena repatriasi boleh hingga November, Desember. Deklarasi bisa sekarang, tapi mau bawa pulang duitnya nanti boleh," ujarnya. Untuk memaksimakan penyerapan dana repatriasi ini, Michael mengungkapkan akan menggandeng beberapa bank. Pihaknya dan perbankan akan bersama-sama menawarkan produk dan pelayanan.
Hal yang sama disiapkan PT Panin Asset Management. Disampaikan oleh Direktur Panin Asset Management Rudiyanto, Panin akan memanfaatkan produk-produk reksa dana yang sudah ada. Menurutnya, saat ini Panin sudah memiliki produk reksa dana yang cukup lengkap. “Namun jika ada permintaan khusus dari dana potensi yang besar, tidak menutup kemungkinan kami bisa membuat reksa dana baru," katanya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan aturan Nomor 26/POJK.04/2016 tentang Produk Investasi di Bidang Pasar Modal Dalam Rangka Mendukung Undang-Undang Tentang Pengampunan Pajak. Aturan ini memberikan kemudahan bagi investor yang ikut berpartisipasi dalam program pengampunan pajak (tax amnesty). Isi pokok POJK tersebut yang berhubungan dengan pengelolaan dana antara lain, untuk Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), pada saat pencatatan bisa berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) dan dapat belum memiliki perusahaan sasaran.
Selama dana nasabah RDPT maupun Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) belum diinvestasikan pada perusahaan sasaran atau portofolio efek, manajer investasi yang mengelola RDPT diberikan keleluasaan untuk menempatkan dana tersebut pada deposito bank persepsi lebih dari 10% dari NAB.
Sementara yang mengelola KPD diberikan keleluasaan untuk menempatkan dana tersebut pada deposito pada Bank Persepsi lebih dari 25% dari dana nasabah KPD. Ada juga keringanan dari sisi nilai minimal investasi untuk setiap nasabah untuk KPD. Dari minimum Rp 10 miliar menjadi Rp 5 miliar.
OJK juga menyederhanakan dokumen untuk pendaftaran Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA), Kontrak Investasi Kolektif Efek Dana Investasi Real Estate (DIRE), Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi (EBA SP), sehingga Manajer Investasi dan Bank Kustodian dapat menyiapkan produk investasi dalam waktu yang selaras dengan batasan waktu pada Undang-Undang tentang Pengampunan Pajak.
Bagi penempatan dana pada deposito bagi RDPT yang belum melakukan investasi pada perusahaan sasaran yang semula paling lama enam bulan, diperpanjang menjadi paling lama satu tahun sejak RDPT dicatatkan. Sebagai informasi, kedelapan belas manajer investasi yang ditunjuk yaitu PT Danareksa Investment Management, PT Schroder Investment Management Indonesia, PT Eastspring Investments Indonesia, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, PT Bahana TCW Investment Management, PT Mandiri Manajemen Investasi, PT BNP Paribas Investment Partners, PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, PT BNI Asset Management, PT Panin Asset Management, PT Ashmore Asset Management Indonesia, PT Sinarmas Asset Management, PT Syailendra Capital, PT Trimegah Asset Management, PT PNM Ivestment Management, PT Ciptadana Asset Management, PT Bowsprit Asset Management, dan PT Indosurya Asset Management.


Jakarta detik -Kinerja reksa dana saham kian cemerlang. Secara year to date (ytd) atau dari 30 Desember 2015 hingga 31 Agustus 2016 sudah naik tinggi.

Mengutip data Infovesta, Selasa (13/9/2016), rata-rata imbal hasil reksa dana saham secara ytd mencapai 15,30%, sedikit lebih rendah dibandingkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 17,27%.

Dalam sebulan atau Month on Month (MoM) dari 29 Juli 2016 hingga 31 Agustus 2016, imbal hasil reksa dana saham tercatat naik 1,28%, sementara IHSG naik 3,26%.

Imbal hasil tersebut merupakan data yang tidak termasuk reksa dana dengan dana kelolaan di bawah Rp 10 miliar sesuai ketentuan minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika dirinci lebih jauh, ada reksa dana saham yang mencatatkan keuntungan hingga 36% sejak awal tahun hingga 31 Agustus 2016, yaitu Sucorinvest Equity Fund.

Sucorinvest Sharia Equity Fund mencatat keuntungan 35,24%, sementara Archipelago Equity Growth 33,84%, SAM Dana Cerdas 32,43%, dan BNI-AM Dana Saham Syariah Musahamah 31,55%.
(ang/wdl) 


Jakarta KONTAN. Dana kelolaan PT Panin Asset Management (PAM) makin mengembang. Program pengampunan pajak atau tax amnesty bakal memperbesar dana kelolaan manajer investasi ini.
Per Juli 2016, total dana kelolaan Panin sebesar Rp 11,56 triliun. Jumlah ini tumbuh 4,87% dibandingkan periode sama tahun lalu. Enam produk reksadana saham Panin masih menjadi kontributor utama dana kelolaan yakni sebesar Rp 9,4 triliun. 
Hingga akhir tahun nanti, Panin menargetkan dapat meningkatkan dana kelolaan menjadi Rp 15 triliun hingga Rp 16 triliun. Kenaikan dana kelolaan diharapkan datang dari program amnesti pajak.
Namun, sebagai salah satu penampung dana repatriasi tax amnesty, Panin tidak memiliki target khusus dalam meraih dana kelolaan. Target utama Panin adalah membantu pemerintah dalam menyukseskan tax amnesty. 
Panin pun gencar melakukan pendampingan kepada calon nasabah. Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management mengatakan, pihaknya  telah memulai pendampingan kepada masyarakat untuk mengisi formulir tax amnesty.
Sejauh ini, proses pengisian formulir memakan waktu cukup lama hingga lebih dari empat jam. Itu baru proses awal pengisian formulir. 
Belum lagi ada serangkaian proses yang harus dilalui para wajib pajak. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi Panin untuk menjaring dana tersebut ke dalam reksadana.
"Hingga saat ini, sudah ada deklarasi dan sudah ada dana yang masuk ke reksadana," kata Rudiyanto kepada KONTAN, Jumat (26/8). Namun, ia tidak menyebutkan berapa dana yang telah masuk ke reksadana Panin. 
Panin melihat antusias investor untuk menggali informasi terkait tax amnestysangat tinggi namun cenderung wait and see terlebih dahulu karena masih tersisa tenggat waktu untuk deklarasi.
Catatan saja, tarif tebusan untuk deklarasi untuk periode 1 Juli 2016 hingga 30 September 2016 sebesar 2%. Rudiyanto memprediksi, wajib pajak akan memanfaatkan periode penebusan selanjutnya yaitu 1 Oktober 2016 hingga 31 Desember 2016 dengan tarif tebusan 3%. 
Saat ini, Panin tengah menawarkan produk kontrak pengelolaan dana (KPD) yang dikhususkan menampung dana repatriasi. Jumlah KPD akan disesuaikan dengan nasabah, sebab satu KPD mewakili satu nasabah.

Untuk reksadana terbuka (open end), pihaknya belum mengeluarkan produk khusus penampung dana repatriasi.


INILAHCOM, Jakarta - PT Schroder Investment Management Indonesia sedang mengincar Assets Under Management (AUM) atau dana kelolaan mencapai Rp80 triliun hingga akhir tahun.

Presiden Direktur Schroder Investment, Michael Tjoajadi mengatakan target tersebut tumbuh sebanyak 15% dari perolehan realisasi tahun lalu yang hanya Rp68 triliun. "AUM akhir tahun diperkirakan akan mencapai Rp80 triliun, " ujar dia di Jakarta, Minggu (7/8/2016).


Menurut dia, pihaknya banyak mengelola reksadana saham dan fix income. Dengan komposisi ini, menandakan investor.
Ia berharap, AUM akan tercapai dengan dorongan adanya tax amnesty.Sehingga Schroder telah siap. "Hingga Juni total AUM, mencapai Rp84 triliun," katanya. [hid]
- See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2315363/schroder-bidik-dana-kelolaan-tumbuh-15#sthash.cOaXd2st.dpuf
INILAHCOM, Jakarta - PT Maybank Asset Management catatkan dana kelolaan syariah sebesar Rp 663 miliar per akhir Juli 2016.
CEO Maybank AM, Denny R. Thaher mengatakan, ada lima saham besar dalam penempatan portofolio investasi Maybank Syariah Equity Fund, diantaranya di sektor otomotif, konsumsi, infrastruktur dan telekomunikasi.
"Dana kelolaan Maybank Syariah Equity Fund hingga 29 Juli 2016 tercatat Rp 615,90 miliar," kata dia di Jakarta, Kamis (4/8/2016).
Adapun alokasi investasinya lanjut dia, yaitu sebanyak 99.64 persen saham, 0.36 persen pasar uang, dan lainnya sebesar 0,11 persen. Sementara kalau dilihat data statistik, kinerja Maybank Syariah Equity Fund per 29 Juli 2016 tercatat 4.3% dalam satu bulan, 10,74% dalam tiga bulan, dan 17.25% dalam enam bulan.

"Kami terus akan menjaga konsistensi dari kinerja produk syariah kami, meningkatkan dana kelolaan dan melakukan inovasi-inovasi melalui produk Reksa dana baru. Kami juga didukung oleh tim yang solid, yaitu Fund Manager serta Dewan Pengawas Syariah yang berpengalaman," jelas dia.
Maybank AM kembali berencana meluncurkan produk baru berbasis Syariah yaitu Reksa dana saham yang berbasis efek syariah luar negeri, Maybank Asiapac Syariah Equity USD. Produk ini menetapkan minimum investasi awal dan selanjutnya sebesar US$ 10.000.
"Dengan berinvestasi melalui produk tersebut, diharapkan para investor berkesempatan memiliki potensi kinerja yang menarik sebagai diversifikasi investasi terhadap saham syariah dalam negeri." [jin]
- See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2314893/juni-2016-aum-maybank-asset-management-rp663-m#sthash.2ZEAnXJl.dpuf