Kamis, 12 Juli 2018

time2buy AS ALWAYS

 2 BULAN MENUJU KESTABILAN ihsg 2015


JELAS crash, crisis, but IT'S TIME2BUY as always


S&P: stupid, pawky

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima mushaf Alquran Hasil Tenunan Kain Sutra sepanjang 17 meter dari pengusaha Konghucu asal Malaysia, Tan Sri Lee Kim Yew.
Mushaf tersebut berbentuk gulungan berwarna hijau, dan memuat satu juz Alquran.
Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Din Syamsuddin mengatakan, penyerahan mushaf Alquran itu mengandung sebuah pengakuan bahwa Presiden RI sebagai seorang pemimpin Islam.
"Penyerahnya menyampaikan kepada saya ada maksud tertentu, yakni pengakuan bahwa Presiden RI sebagai presiden negara dengan penduduk muslim terbesar dan mayoritas di dunia maka diharapkan beliau juga adalah seorang pemimpin Islam. Ini merupakan harapan," kata Din Syamsuddin usai mendampingi Jokowi menerima mushaf tersebut di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/07) malam.
"Mushaf ini pertama dan satu-satunya di dunia. Islam di Indonesia punya warna sendiri, Islam yang moderat sebagai jalan tengah yang berbeda dengan Islam di negara-negara lain,” imbuhnya.
Turut mendampingi Jokowi dalam penyerahan mushaf tersebut Menag Lukman Hakim Saifuddin, Din Syamsuddin, Ketum PBNU Said Aqil, dan Kim Yew.
Bagi Tan Sri Li Kim Yew, Indonesia adalah negara yagn sangat besar dan mayoritas berpenduduk muslim.
“Islam adalah agama terbaik di dunia. Alquran sebagai vitamin dan nutrisi jiwa yang tidak hanya bermanfaat bagi muslim, tapi juga non muslim,” tutup Tan Sri Li Kim Yew.
🌳



angka pertumbuhan ekonomi kita KATA PREDIKSI ANALI$ di kisaran 4,9%-5.0%-5.2%, well, KEMUNGKINAN BESAR TELAH MENGECEWAkan para INVESTOR BIADAB ASIENk ... hmm, time2buy AS ALWAYS
APRIL 2016: Pesimisme MENGGELAYUTI EKONOMI GLOBAL n MAKRO kita ... properti, konsumerisme, eksIM, komoditas, dan manufaktur (termasuk otomotif) DIANGGAP lom BAGUS kembali ... nah, kayaknya aye tetap 0PTIMIS menatap AKHIR SEMESTER 1 2016 ini  seh terutama sejak HARGA MINYAK GLOBAL MENDEKATI (mungkin bisa menyentuh) $50/ barel ... biar lah IMF, WORLD BANK, ANALIS EKONOMI PROFESIONAL, dkk MENGGONGGONG, gw mah tetap HEPI berINVESTASI n trading saham  juga :)

sejak sekira 11 November 2016, gw menganjurkan sebagai waktu TIME2BUY @ REKSA DANA INDONESIA, well, liat aza hasilnya neh: 
+ 10% @ BNP Paribas Ekuitas (11 Nov 2016-19 Okt 2017). Lumayan.


+ 3.5% @ BNP Paribas Equitra (11 Nov 2016-19 Okt 2017).


+ 12.21% @ tren NAB BNP Paribas Infrastruktur Plus (11 Nov 2016 - 19 Okto 2017). Lumayan.


+ 6.80% @ tren NAB BNP Paribas Solaris (11/11/2016 s/d 19/10/2017). Di atas suku bunga deposito bank seh. 




+ 0.8% @ Schroder Dana Istimewa dalam periode 11 Nov 2016-19 Oktober 2017, positif tapi ga tinggi.


+ 11.64% @ tren  NAB Schroder Dana Mantap Plus 2, well, lumayan banget youw bwat RD Pendapatan Tetap. 


+ 8.96% @ tren NAB Schroder dana prestasi plus. Lumayan lah 

kayaknya, ekspektasi gw @ reksa dana Indonesia maseh time2buy LAGE neh, pasca IHSG 5900 n kurs $/Rp @ 13500 seh !


Khawatir terkena reksadana bodong
Salam Pak Legowo. Saya sudah lama berniat investasi. Tapi masih khawatir karena sekarang banyak kasus investasi bodong. Sebenarnya, apa manfaat reksadana? Dan apa bedanya investasi saham dengan reksadana saham? Bagi newbie seperti saya, reksadana apa yang Anda sarankan?



  

JAWABAN
Halo, Ibu Wattie.  Terima kasih sudah menyampaikan pertanyaannya di forum ini.  Saya sering bertemu dengan orang yang memiliki permasalahan yang sama seperti Anda: khawatir berinvestasi karena maraknya investasi bodong.  Anda tidak sendirian, dan semoga jawaban ini juga bermanfaat bagi para calon investor yang lain.

Minggu lalu kita baru saja membahas mengenai apakah aman membeli reksa dana melalui jalur online?  Saya sampaikan bahwa reksadana adalah produk investasi yang aman, karena diawasi secara langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  Ingat, percayakan investasi Anda hanya di tangan perusahaan manajer investasi yang terdaftar di OJK dan memiliki rekam jejak yang baik.  Selain itu, pastikan bahwa rekening tujuan transfer dana investasi adalah rekening atas nama reksadana itu sendiri. 

Reksa dana pasar uang, reksa dana bagi pemula

Jenis reksadana yang paling dikenal masyarakat adalah reksadana saham.  Sehingga, tidak jarang orang yang belum pernah berinvestasi di reksadana pun langsung menanyakan perbedaan antara berinvestasi di reksadana saham dengan berinvestasi secara langsung di saham.  Bagi pemula, orang yang baru ingin mulai berinvestasi di reksadana, saya tidak menganjurkan langsung berinvestasi di reksadana saham.  Pilihan yang tepat bagi pemula adalah reksadana pasar uang. 

Tingkat risiko reksadana pasar uang paling rendah di antara semua jenis reksadana.  Inilah alasan utama kenapa reksadana pasar uang cocok bagi investor pemula, yang biasa menempatkan dananya pada tabungan dan deposito.  Sementara reksadana saham memiliki risiko yang paling tinggi di antara semua jenis reksadana. 

Dengan tingkat risiko yang paling rendah, tentunya imbal hasil investasinya pun lebih rendah bila dibandingkan dengan jenis reksadana lainnya (dalam investasi berlaku hukum high risk - high return dan low risk - low return).  Namun, secara historis, imbal hasil reksadana pasar uang dapat bersaing dengan suku bunga deposito. 

Beberapa keunggulan reksa dana pasar uang, diantaranya:

Terjangkau. Cukup dengan dana Rp 100.000, Anda sudah bisa menjadi investor reksa dana dan mendapatkan potensi imbal hasil yang bersaing dengan deposito.

Fleksibilitas tinggi, mirip tabungan

Reksadana pasar uang dapat Anda beli, tambah, atau dicairkan kapan saja. Tidak ada jatuh temponya.

Reksadana pasar uang dapat dicairkan sebagian. Sementara jika di deposito, saat Anda akan mencairkan dana, Anda harus mencairkan seluruhnya (sejumlah dana yang tercantum dalam bilyet deposito). Jadi, Anda dapat mencairkan sesuai kebutuhan dana Anda.

Pada reksadana pasar uang, tidak ada biaya pembelian dan pencairan unit penyertaan. Kalau di tabungan kita masih kena biaya bulanan kan ya?

Bukan alat pembayaran. Hasil pencairan reksadana pasar uang Anda akan masuk di rekening Anda dalam 1-2 hari. Artinya, tidak bisa digunakan seperti ATM atau kartu debit untuk membayar belanja Anda. Jadi, reksadana pasar uang akan membantu kita agar tidak sering belanja secara impulsif

Transparan. Fund fact sheet yang diterbitkan setiap bulan menunjukkan transparansi pengelolaan dana investasi di reksadana. Di dalam fund fact sheet dapat terlihat alokasi penempatan dana yang dilakukan oleh manajer investasi.

Reksadana bukan objek pajak. Dengan tambahan faktor ini, reksadana pasar uang bisa memberikan potensi imbal hasil yang semakin menarik dibanding deposito.

Saya sarankan Anda untuk memanfaatkan reksadana pasar uang sebagai sarana untuk mempelajari seluk-beluk reksadana.  Pindahkan sebagian dana yang Anda simpan di tabungan atau deposito ke reksadana pasar uang.  Setelah itu jangan didiamkan saja. Coba lakukan pencairan dana dan lakukan penambahan dana.  Dengan begitu Anda bisa mempelajari mekanisme berinvestasi di reksa dana sekaligus membuktikan berbagai keunggulan reksa dana pasar uang yang sudah saya sampaikan.             

Reksa dana saham vs saham

Berinvestasi melalui reksadana saham tentunya berbeda dengan membeli saham secara langsung.  Investasi di reksadana saham dapat menjadi pilihan bagi investor yang tidak memiliki waktu, pengetahuan, akses, dan modal yang cukup untuk berinvestasi secara langsung di saham. 

Secara ringkas, beberapa keunggulan reksadana saham dibandingkan investasi langsung di saham, diantaranya:

   Terjangkau
Dengan dana Rp 100.000, Anda sudah bisa menikmati potensi pertumbuhan pasar saham Indonesia melalui reksa dana saham.  Kalau berinvestasi secara langsung di saham, Anda harus memiliki dana yang cukup besar, karena minimum pembeliannya adalah 1 lot atau 100 lembar saham.

   Diversifikasi
Melalui reksadana saham, Rp 100.000 Anda langsung diinvestasikan pada beragam saham dari berbagai sektor. 

   Anti repot
Reksadana saham dikelola oleh manajer investasi yang profesional dan telah berpengalaman, serta didukung oleh riset yang mendalam.  Manajer investasi yang akan memilihkan saham-saham mana saja yang berpotensi memberikan keuntungan.  Anda tidak perlu repot memantau pergerakan harga setiap waktu.  Anda juga dapat mengikuti perkembangan reksadana saham Anda melalui laporan berkala yang transparan.



Semoga setelah ini Anda bisa segera mulai mewujudkan niat Anda untuk berinvestasi.  Rasakan nikmatnya investasi di reksadana!

👮

👉 per tgl 23 Nov 2016, bisa CARI UNTUNG deh gw dah beli REKSA DANA SAHAM per tgl 15 November 2016 (saat ihsg @ 5078)... bole cek Trump's effects @ ekonomi Indonesia : ekuilibrium BARU @ ekonomi global ala TRUMP




JAKARTA kontan. Sepanjang tahun ini, kinerja reksadana saham diprediksi bakal positif. Hal ini tidak hanya didukung oleh sentimen Standard & Poor's Global Ratings (S&P) yang mungkin akan menaikkan rating Indonesia.
Lebih dari itu, fundamental ekonomi Indonesia yang bagus juga bakal menjadi penopangnya. Namun, investor pun perlu mencermati rencana The Fed yang akan menaikkan suku bunganya sebanyak dua kali lagi pada tahun ini.
Tandy Cahyadi, Fund Manager Majoris Asset Management bilang, jika S&P menaikkan rating, ke depannya minat investasi baik dari investor domestik maupun luar negeri dapat lebih baik. "Kami juga berharap, secara riil bahwa cost of fund untuk pemerintah maupun korporasi di Indonesia dapat menjadi semakin kompetitif," imbuhnya.
Dengan begitu, kata dia , kinerja emiten di Indonesia dapat ikut terdongkrak. Bahkan, Tandy pun memprediksi target return untuk reksadana saham hingga akhir tahun bisa mencapai 18%. Target ini tentu lebih tinggi dari IHSG tahun lalu yang tumbuh 15,3%.
Senada, Jemmy Paul, Investment Director Sucorinvest Asset Management pun optimistis, jika S&P menaikkan rating Indonesia, kinerja reksadana saham ikut terdongkrak. "Saya sih masih yakin kinerja reksadana saham akan positif, paling enggak sampai Mei 2017. Jadi setelah Pilkada dan S&P upgrade," ujarnya. Jemmy pun menargetkan return reksadana saham sampai akhir tahun mencapai 25%.
Beben Feri Wibowo, Senior Research Analyst Pasardana bilang, spekulasi perbaikan rating oleh S&P tersebut menyebabkan investor asing kembali masuk ke pasar saham. Adapun aksi beli asing per 23 Maret 2017 tercatat mencapai Rp6,08 triliun. Jika mengacu data Pasardana Equity Fund Index, kinerja reksadana saham secara year to date per 23 Maret 2017 sebesar 2,37%.
Menurut Beben, kinerja reksadana tersebut disokong oleh kondisi ekonomi dalam negeri yang cenderung baik, terbukti dari nilai tukar rupiah yang stabil dan laju inflasi yang masih berada di kisaran target.
Kondisi tersebut, kata dia, mendorong Bank Indonesia (BI) untuk tetap mempertahankan BI 7 days reverse repo rate di level 4,75% meski The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan AS. "Analisa atas keputusan BI tersebut semakin memperkuat ekspektasi pelaku pasar bahwa ekonomi dalam negeri dalam kondisi baik," ujarnya.
Adapun perbaikan outlook rating dari Fitch akhir tahun kemarin dan Moody's di awal tahun dari semula netral menjadi positif turut menjadi katalis positif. Faktor itulah yang menjadi ekspektasi pelaku pasar bahwa tahun ini S&P akan menaikkan rating utang dalam negeri menjadi investment grade.
Beben menambahkan, jika S&P benar-benar menaikkan rating, maka asing berpeluang untuk mencatatkan net buy lebih besar di kisaran Rp 16 triliun - Rp 17 triliun. "Ini akan berujung pada positifnya kinerja pasar saham tahun ini dengan target pertumbuhan hingga akhir tahun mencapai 10% atau di level 5.820-an,"katanya.
Namun begitu, kinerja reksadana saham pun masih tetap akan dibayangi oleh sentimen kenaikan suku bunga The Fed yang diprediksi akan naik sebanyak dua kali lagi pada tahun ini. Selain itu, kebijakan Trump di tengah ekonomi Eropa dan Tiongkok yang masih berada dalam proses pemulihan.

Beben pun memproyeksikan, rata-rata kinerja reksadana saham hingga akhir tahun berada di level 10% -11% (optimis) dan 3% - 4% (moderat).
kontan: JAKARTA. Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldy mengatakan, upaya perbaikan melalui reformasi struktural dan institusional yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sangat signifikan. Oleh karena itu, tak ada alasan bagi Standar and Poor's (S&P) untuk tidak menaikkan peringkat utang Indonesia di tahun ini.
Leo mengatakan, hal-hal yang disyaratkan oleh S&P untuk menaikkan peringkat Indonesia selalu berubah. Tahun 2012, S&P mensyaratkan reformasi belanja negara dan pemerintah telah melakukan hal itu melalui pemangkasan anggaran subsidi dan dialihkan menjadi belanja infrastruktur.
Kemudian tahun 2015, S&P mensyaratkan kualitas belanja negara yang signifikan serta perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) mengikuti mekanisme pasar dan pemerintah telah melakukan hal itu. Sementara tahun 2016, S&P mensyaratkan defisit anggaran turun.
Padahal Indonesia telah mendapatkan peringkat layak investasi dari Fitch Ratings, Moody's, dan Japan Credit Rating Agency (JCR). Bahkan ketiganya juga telah menaikkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi positif sehingga memungkinkan Indonesia untuk mencapai peringkat yang lebih tinggi lagi.
"Investment grade seharusnya sudah dari beberapa tahun lalu. Momentum investment grade itu di tahun 2011-2012," kata Leo kepada KONTAN, Jumat (24/3).
Lebih lanjut menurut Leo, sejumlah indikator ekonomi Indonesia juga lebih baik dibanding negara lain. Bahkan lebih baik dibanding negara-negara yang telah mendapatkan peringkat layak investasi dari S&P.
Misalnya, standar deviasi produk domestik bruto (PDB) Indonesia paling rendah, pertumbuhan PDB-nya juga lebih baik, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih rendah, dan rasio utang korporasi terhadap PDB terus menurun.
Begitu juga dengan pendapatan per kapita Indonesia yang lebih tinggi dari India serta rata-rata defisit anggaran Indonesia dari tahun-tahun sebelumnya hanya -1,6%. Tak hanya itu, kebijakan amnesti pajak Indonesia juga merupakan salah satu negara yang berhasil di dunia. Tak hanya itu, inflasi dan rupiah pun terkendali.
"Dari sisi prosesnya, improvement yang terjadi di Indonesia di tengah kondisi global yang tidak pasti, kita menunjukkan resiliensi yang baik," tambahnya.
Menurut Leo, Jika S&P menaikkan peringkat utang Indonesia di tahun ini maka akan ada tambahan capital inflow dari negara-negara yang selama ini mensyaratkan peringkat layak investasi dari tiga lembaga pemeringkat internasional.
Sementara itu, jika S&P tidak menaikkan peringkat utang Indonesia di tahun ini, Leo memperkirakan akan ada sedikit volatilitas di pasar keuangan dalam negeri, khususnya dari investor yang sudah mulai memperhitungkan kenaikan peringkat tersebut. Namun hal itu diperkirakannya tidak berlangsung lama.
Namun, jika S&P kembali tak naikkan peringkat maka kredibilitas lembaga tersebut bisa dipertanyakan. Menghingat tiga lembaga pemeringkat utang lainnya telah menyematkan peringkat layak investasi Indonesia sejak 2011 (Fitch rating) dan 2012 (Moody's) lalu.

Oleh @Rudiyanto_zh

kompas.com: Dipicu oleh beberapa faktor mulai dari perekonomian yang kembali menggeliat, suku bunga The Fed Amerika Serikat yang tidak jadi naik, program Amnesti Pajak, dan susunan kabinet baru yang mendapat respon positif dari pasar, IHSG terus mencetak kenaikan yang signifikan.
Dalam kondisi demikian, apakah tepat untuk memulai investasi direksa dana?

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia, kinerja bursa saham di dunia dari periode 31 Desember 2015 hingga 1 Agustus 2016 adalah sebagai berikut:
Dok. BEI, diolahKinerja bursa saham

Pada gambar di atas, bisa dilihat bahwa kinerja saham Indonesia hingga 1 Agustus 2016, bersama dengan Negara ASEAN lain seperti Thailand dan Filipina merupakan salah satu yang terbaik dunia dengan pertumbuhan antara 16 persen – 17 persen.
Angka ini masih kemungkinan besar bisa naik lagi jika sentimen positif di bursa saham Indonesia meningkat hingga akhir tahun.

Tren di atas juga menunjukkan bahwa dana global kembali mengalir ke negara berkembang dimana Indonesia menjadi salah satu pilihan utama para investor, baik dari investor global yang ingin mengembangkan dana dan juga dari investor lokal yang ingin merepatriasikan dananya.

Kenaikan IHSG yang tinggi ini turut membuat kinerja reksa danameningkat. Hal ini merupakan berita baik bagi investor reksa danakarena hasil investasinya berkembang dan juga menarik minat calon investor baru untuk berinvestasi di reksa dana.

Meski demikian, ketika mau memulai atau menambah investasi reksa dananya, muncul pertanyaan dari sebagian investor. Apakah kenaikan harga saham sudah terlalu tinggi? Apakah sebaiknya menunggu pasar turun dulu baru kemudian berinvestasi?
Pertanyaan di atas sebenarnya merupakan pertanyaan klasik yang muncul setiap kali IHSG mengalami pertumbuhan yang positif.
Ada juga investor yang memiliki pengalaman membeli di harga tertinggi, kemudian saham mengalami penurunan dan hasil investasinya baru menguntungkan setelah beberapa tahun. Oleh karena itu, sangat wajar apabila terdapat pertanyaan tersebut.

Keragu-raguan untuk memulai atau menambah investasi reksa dana tidak hanya muncul pada saat ketika IHSG sedang naik. Pada saat sedang turun, investor juga ragu-ragu karena menungguIHSG benar-benar turun ke titik terendah.
Yang menjadi permasalahan, investor dan para manajer investasi yang profesional sekalipun tidak tahu berapa harga terendah IHSGdan kapan harga tersebut akan tercapai.

Untuk itu, dalam memulai investasi khususnya reksa dana saham sebaiknya tidak didasarkan pada apakah pasar sedang naik atau turun, tapi didasarkan pada tujuan investasi.
Sesuai dengan karakteristik risk and return-nya, investasi reksa dana dikhususkan untuk tujuan investasi di atas lima tahun.

Jadi ketika memulai investasi, pertanyaannya bukanlah apakah sekarang waktu yang tepat untuk masuk atau tidak, tetapi berapa lama rencana investasi reksa dana saham tersebut dilakukan.
Jika memang minimal lima tahun, maka mau kondisi pasar sedang naik atau pasar sedang turun tidak terlalu menjadi persoalan.

Memang benar, pengalaman berinvestasi reksa dana ketika harganya mencapai titik tertinggi dan kemudian jatuh dan rugi selama bertahun-tahun tidak mengenakkan.
Namun risiko tersebut bisa dimitigasi apabila investor memiliki tujuan investasi jangka panjang.

Sebagai contoh, pada 2008 merupakan periode penurunan saham terbesar dalam 15 tahun terakhir di sejarah pasar saham Indonesia.
Harga saham mengalami penurunan hingga 50,64 persen dalam 1 tahun. Pada titik tertingginya di 2008, IHSG sempat berada di level 2.800-an dan pada harga terendah sempat jatuh ke level 1.200-an.

Investor yang membeli pada titik tertinggi bahkan bisa mengalami kerugian hingga 60 persen – 70 persen.
Namun perlu dicatat bahwa kerugian tersebut merupakan kerugian yang belum direalisasikan karena selama belum dijual, ketika harga saham naik, nilai investasi bisa meningkat kembali.

Nah, lima tahun setelahnya, atau pada awal 2013, IHSG telah mencapai level 4.400-an atau naik hampir 57 persen dari titik tertinggi di 2008.
Jadi meski tidak menghindarkan investor dari kerugian, investasi jangka panjang terbukti membuat investor kembali mengalami keuntungan dalam jangka panjang.

Meski sejarah tidak selalu berulang, sebetulnya pengalaman ini juga mirip dengan investor yang memulai investasi reksa danapada 2015 dan masuk ketika IHSG di level 5.500-an.
Setelah itu, IHSG mengalami penurunan dalam hingga ke 4.200-an atau turun 23 persen. Belum sampai lima tahun, kini pada Agustus 2015, IHSG sudah naik kembali ke 5.300-an.

Memang tidak ada jaminan bahwa IHSG akan kembali menguat, namun kemungkinan IHSG untuk melampaui titik tertinggi di 2015 sangat besar.
Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa untuk berinvestasi reksa dana, pertanyaan yang paling penting adalah bukan “kapan” waktu memulainya, tapi “berapa lama” anda akan berinvestasi.

Jika anda berencana untuk berinvestasi reksa dana saham untuk lima tahun ke depan, “kapanpun” merupakan waktu yang tepat untuk memulai.


INILAHCOM, Jakarta PT Reliance Manajer Investasi (RMI) menyatakan imbal hasil reksadana cenderung positif. Katalisnya berasal dari IHSG yang sudah tembus di atas 5.000.
Direktur Utama RMI Retno Dewi Hendrastuti mengatakan kinerja RCT yang positif dan di atas benchmark Infovesta turut dipengaruhi oleh tren kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pemilihan instrumen investasi.
"Pengelolaan reksa dana tetap berdasarkan prinsip kehati-hatian dan risiko yang terjaga," ujar Retno, Rabu (20/7/2016).
Oleh karena itu, peringkat produk reksa dana campuran PT Reliance Manajer Investasi (RMI) Reliance Cerdas Terencana (RCT) melesat ke posisi 8 dari 139 reksa dana versi Infovesta per Juni 2016.
Peringkat ini, yang diukur dari imbal hasil tahunan, merupakan peringkat tertinggi yang diraih RCT. Tren kenaikan peringkat RCT ini berlangsung sejak Januari 2016. Adapun, akhir Desember 2015, RCT memposisikan diri pada peringkat ke-13.
Dari sisi perolehan imbal hasil (return), RCT mencatatkan return 12,2% per Juni 2016 year on year atau melampaui return benchmark Infovesta untuk reksa dana campuran sebesar 6,0% year on year.
Selain itu, produk reksa dana pendapatan tetap RMI Reliance Dana Terencana (RDT) juga memberikanreturn positif 9,6% year on year atau di atas benchmark Infovesta untuk reksa dana pendapatan tetap sebesar 9,0% year on year. RDT meraih peringkat ke-70 dari 187 reksa dana sejenis versi Infovesta pada akhir Juni 2016.
Retno menuturkan RMI masih akan berinovasi dengan meluncurkan produk-produk investasi lainnya supaya nasabah memiliki beragam pilihan investasi yang sesuai kebutuhan.
RMI juga memiliki produk reksa dana saham, Reliance Dana Saham (RDS) yang diluncurkan pada awal tahun ini. Sejak diluncurkan pada 20 Januari 2016, RDS telah mencatat return 7,4% hingga Juni 2016. Selain itu, RMI melakukan diversifikasi produk dengan masuk ke pasar modal syariah melalui produk Reliance Saham Syariah (RSS) sejak awal April 2016.
"Kami berharap reksa dana RCT dan RDT bahkan RDS dan RSS mampu melanjutkan kinerja yang positif," ucap dia. [jin]
- See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2311125/ihsg-tembus-5000-genjot-imbal-hasil-reksadana#sthash.D0i0h108.dpuf



JAKARTA, KOMPAS.com - Tren pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang masih melambat mempengaruhi kinerja instrumen investasi reksa danajenis saham dan campuran.


"Secara umum, kinerja saham di dalam negeri mengikuti kondisi global, situasi itu yang memberi pengaruh negatif pada kinerjareksa dana, terutama jenis saham," ujar Guntur Tri Hariyanto, analis di Danareksa Capital di Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Selama Mei, lanjut dia, industri reksa dana mengalami tekanan baik secara domestik maupun global. Namun, kinerja negatifreksa dana saham masih lebih baik dibandingkan estimasi pasar yang sekitar 1 persen.

Berdasarkan data perusahaan riset, PT Infovesta Utama, menunjukkan rata-rata kinerja reksa dana Saham minus 0,08 persen pada periode Mei tahun ini.

Ke depan, dia optimistis kinerja IHSG BEI akan membaik seiring dengan fokus pemerintah yang terus mendorong pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah agar mendorong ekonomi, yang akhirnya dapat berdampak positif pada instrumen reksa dana.

"Pembangunan infrastruktur yang merata di daerah akan menjaga pertumbuhan ekonomi nasional," kata Hariyanto.

Dia mengharapkan langkah-langkah yang telah dikeluarkan pemerintah berupa paket kebijakan ekonomi dari I hingga XII dapat segera terealisasi sehingga dapat terasa pada instrumen investasi di dalam negeri.

Sementara itu Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Friderica Dewi, mengatakan, pihaknya sebagai regulator akan membangun infrastruktur untuk pelaku industri reksa danadengan mengimplementasikan S-Invest.

"Dalam waktu dekat salah satu rencana strategis KSEI yaitu pengembangan infrastruktur untuk pelaku industri reksa dana di Indonesia (S-Invest) akan diimplementasikan KSEI tahun ini," katanya.

Dia mengemukakan bahwa KSEI juga telah membentuk divisi khusus untuk S-Invest sejak tahun lalu yakni Divisi Jasa Penyedia Infrastruktur.





kalo turun k 5K, murah abis tuh, gw dah siap dana BELI, BELI, BELI lah :)
Currently I am having fun travelling abroad, while watching the soap opera of eurozone... :)

bole baca analisis gw @ tren IHSG 2015, paling strategis n vital SEH

sejak KETIDAKPASTIAN AGUSTUS 2015, gw malah INVES + TRADING dah BERLABA TINGGI bo @saham :)


Banjir modal dari luar negeri tak lama lagi menerjang Indonesia. Puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan triliun rupiah bakal menyerbu masuk setelah Undang-Undang tentang Pengampunan Pajak (UU Tak Amnesty) diberlakukan. Jika kalkulasi pemerintah benar bahwa jumlah aset WNI di luar negeri mencapai Rp 11.450 triliun atau setara nilai produk domestik bruto (PDB) Indonesia, berarti dana-dana yang bakal ‘pulang kandang’ luar biasa besar.
Asumsi pemerintah masuk akal. Cukup membayar tebusan 2-4% dari nilai aset serta menyampaikan secara benar nilai aset dan aset yang belum dibayarkan pajaknya, para wajib pajak (WP) yang melakukan pelanggaran perpajakan bakal tergiur untuk memulangkan dana-dananya dari luar negeri. Asalkan bukan hasil korupsi, terorisme, narkoba, dan perdagangan manusia, dana-dana tersebut dibebaskan dari ‘dosa-dosa’ masa lalu para pemiliknya.
Pasar modal adalah kolam pertama yang akan menampung dana-dana yang selama ini diparkir di luar negeri. Sebelum mengalirkan modalnya ke sektor riil, para pemilik modal akan menyimpan terlebih dahulu dana nya pada instrumeninstrumen pasar modal, seperti saham, obligasi, reksa dana, dan produk-produk derivatifnya. Itu bisa dipahami karena dalam tahap awal mereka membutuhkan instrumen dengan horizon waktu lebih terukur, risiko relatif rendah, dan return yang terjaga.
Sejujurnya, masuknya dana-dana hasil reptariasi ke pasar modal cukup berisiko. Selain menjanjikan return tinggi, likuid, dan punya varian produk beragam, instrumen pasar modal memiliki ‘fleksibilitas’ tinggi. Karena bersifat hot money dan berkarak tereasy come easy go, dana-dana di pasar modal, terutama yang diinvestasikan di saham dan obligasi, bisa menyebabkan dana repatriasi keluar-masuk kapan saja, sekehendak yang empunya.
Tentu saja kita harus mencegah dana-dana hasil repatriasi kembali ke luar negeri atau keluar-masuk seenaknya. Jika itu terjadi, dana-dana tersebut tidak akan memberikan manfaat bagi bangsa ini. Alih-alih berfaedah, ‘uang-uang panas’ itu akan membuat rupiah bergejolak, pasar saham terguncang, dan pasar obligasi limbung. Buntutnya, kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik dan perekonomian nasional tergerus.
Karena itu, kita mendukung langkah pemerintah, Jasa keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) yang tengah menyiapkan berbagai instrumen untuk menampung dana-dana hasil repatriasi modal setelah UU Tax Amnesty diberlakukan. Instrumen tersebut di antaranya Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 100 triliun, produk investasi saham yang tidak bisa dicairkan dalam priode tertentu (lock up period), reksadana penyertaan terbatas (RDPT), modal ventura, obligasi BUMN, dana investasi real estat (DIRE), termasuk produk-produk investasi di perbankan.
Bila kebijakan ini dijalankan, pasar modal Indonesia bakal digdaya. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melejit, pasar obligasi melambung, dan reksa dana menjadi primadona. Jumlah investor di pasar modal bakal naik berlipat ganda, begitu pula perusahaan-perusahaan yang menggalang dana lewat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dan emisi obligasi.
Kita juga menyambut baik keinginan otoritas untuk mengikat dana-dana hasil repatriasi modal supaya lebih lama tinggal di dalam negeri. Bahkan, pemerintah bersama OJK dan BI berjanji akan mengarahkan dana-dana tersebut diinvestasikan di sektor riil sebagai investasi langsung (direct investment). Jika demikian adanya, dana-dana hasil repatriasi modal bakal memiliki multifungsi dan multiperan dalam mendorong perekonomian nasional, mengurangi angka kemiskinan, dan memangkas angka pengangguran.
UU Tak Amnesty bisa diibaratkan bulldozer yang dapat membebaskan negeri ini dari kevakuman. Perekonomian kita selama ini sulit bergerak akibat terhalang minimnya anggaran pembangunan. Dari total dana belanja negara senilai Rp 2.095,7 triliun dalam APBN 2016, anggaran untuk pemba ngunan fisik (infrastruktur) cuma Rp 313,5 triliun. Padahal, infrastruktur mutlak diperlukan agar ekonomi bergerak lebih efisien. UU Tax Amnesty akan melabrak dan merobohkan tembok penghalang itu.
Jika UU Tax Amnesty diterapkan, persoalan minimnya dana pembangun-an bisa teratasi. Dari hasil tebusan repatriasi dana-dana yang diparkir di luar negeri saja, pemerintah bisa mendulang Rp 100-200 triliun. Dana tersebut bisa digunakan untuk menggandakan pembangunan proyek infrastruktur. Bukankah proyek-proyek infrastruktur yang padat kar ya akan membuat pemerintah lebih mudah menggapai target pengurangan angka pengangguran dan kemiskinan?
Perlu diingat, UU Tax Amnesty juga bisa menjaring dana-dana kegiatan ekonomi yang tidak resmi dan melanggar hukum (underground economy) di dalam negeri, seperti penyelundupan, pembalakan hutan, pencurian ikan, penambangan liar, dan penambangan pasir laut. Dala hitungan pemerintah, kehilangan penerimaan pajak dari underground economy mencapai Rp 263 triliun per tahun. Para pengusaha yang menjalankan bisnis di dalam negeri, dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sampai konglomerat yang selama ini tak taat pajak, bisa memanfaatkan fasilitas tax amnesty.
Tentu saja UU Tak Amnesty bakal memberikan akselerasi terhadap perekonomian nasional dalam jangka panjang. Penerapan UU ini akan memicu relokasi perusahaan-perusahaan WNI di luar negeri ke Indonesia. Dampak nya, para anak bangsa akan mendapat transfer teknologi. Kultur korporasi akan lebih baik. Perusahaan domestik bukan saja mampu berkompetisi dengan perusahaan multinasional di dalam negeri, tapi juga bisa go international.
Mengingat besarnya manfaat UU Tax Amnesty bagi bangsa ini, DPR harus mengegolkan UU Tax Amnesty yang diajukan pemerintah. Dengan tetap mengedepankan rasa keadilan masyarakat –terutama masyarakat kecil, mendorong penegakan hukum tanpa pandang bulu, dan memprioritaskan kepentingan nasional, tak ada alasan untuk mengulur-ulur, apalagi menggugurkan rancangan UU tersebut. Lagipula, dana-dana WNI yang diparkir di luar negeri selama ini justru dinikmati negara-negara suaka pajak (tax havens), seperti Singapura, Macau, Hong Kong, Luxemburg, Swiss, dan Kepulauan Cayman. Justru ironis jika kita membiarkan negara-negara lain menikmati nilai tambah dana-dana WNI, padahal perekonomian kita sedang sangat membutuhkannya.
Kita sepaham bahwa sekarang merupakan momentum paling baik untuk menerapkan UU Tax Amnesty. Itu karena negara-negara yang tergabung dalam G-20 dan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD)sepakat menerapkan Auto-matic Exchange of Information(AEOI) mulai 2017-2018, di mana kelak tak ada lagi kerahasiaan bank yang akan ‘melindungi’ para pengemplang pajak. Maka kini, pemerintah dan DPR hanya punya dua pilihan, yaitu memberlakukan UU Tax Amnesty tahun ini atau tidak sama sekali.
http://id.beritasatu.com/home/repatriasi-modal/144254
Sumber : INVESTOR DAILY

Oleh: Rudiyanto Zh

KOMPAS.com - reksa dana campuran adalah reksa dana yang memiliki kebijakan untuk berinvestasi antara 1persen hingga 79 persen pada saham, obligasi dan pasar uang.
Saat ini terdapat lebih dari 130 reksa dana campuran di Indonesia. Bagaimana kiat untuk berinvestasi di reksa dana campuran?
Karena kebijakan investasi yang amat fleksibel, tidak semua reksa dana campuran memiliki kebijakan yang seimbang antara saham dan obligasi.
Terdapat juga reksa dana campuran yang menyerupai reksa danasaham atau pendapatan tetap karena porsi saham dan obligasinya relatif besar.
Secara umum, kebanyakan reksa dana campuran di Indonesia memiliki alokasi yang relatif besar pada saham. Oleh karena itu, fluktuasi di reksa dana campuran juga lumayan tinggi meski tidak sebesar reksa dana saham.
Selain itu, terdapat juga pendapat yang mengatakan, karena kebijakannya yang sangat fleksibel, seharusnya reksa danacampuran bisa menjadi pilihan utama.
Logikanya, ketika saham sedang bagus, manajer investasi bisa memperbanyak porsi di saham. Sementara ketika situasi berbalik di mana obligasi lebih bagus, manajer investasi bisa mengurangi saham dan memperbanyak porsi obligasi.
Hal di atas tentu tidak dapat dilakukan oleh reksa dana saham danreksa dana pendapatan tetap, mengingat kebijakan investasinya adalah minimal 80 persen pada saham atau obligasi. Dengan demikian ketika kondisi sudah tidak mendukung, manajer investasi tetap harus mempertahankan minimal 80 persen porsi investasinya.
Pada kenyataannya, tidak ada manajer investasi yang secara konsisten dapat mengetahui kapan saham dan obligasi akan bagus, serta melakukan secara aktif sebelumnya. Jika ada, tentureksa dana campuran ini tidak akan pernah negatif.
Berdasarkan data historis, kinerja reksa dana campuran tetap naik dan turun mengikuti perubahan harga obligasi.
Praktik yang lebih umum, pada reksa dana campuran dengan komposisi tertentu antara saham dan obligasi, memberikan pilihan produk yang lebih beragam bagi investor.
Untuk itu, terkadang dalam 1 manajer investasi yang sama, bisa terdapat lebih dari 1 reksa dana campuran.

Sebagai contoh, di Panin Asset Management terdapat 5 reksa danacampuran dengan kebijakan berbeda-beda yang disesuaikan dengan profil dan kebutuhan investornya.
Panin Dana Prioritas merupakan reksa dana campuran yang konservatif karena membatasi investasi pada saham maksimal 30 persen dan sisanya pada obligasi dan pasar uang.
Panin Dana Syariah Berimbang merupakan reksa dana campuran yang moderat karena membuat komposisi 50 persen di saham syariah dan 50 persen di obligasi dan pasar uang syariah.
Panin Dana Unggulan sedikit lebih agresif karena porsi sahamnya bisa mencapai 50 persen hingga 60 persen, sementara Panin Dana Bersama Plus merupakan reksa dana campuran yang paling agresif karena porsi sahamnya suka dimaksimalkan antara 75 persen hingga 79 persen.
Terdapat juga Panin Dana US Dollar yang merupakan reksa danacampuran dengan mata uang dollar dengan kebijakan investasi di saham sekitar 20 persen–30 persen dan sisanya pada obligasi dan pasar uang.
Perbedaan kebijakan di atas juga menyebabkan perbedaan kinerja. Sebagai contoh, pada tahun 2015 ketika kinerja saham negatif karena perekonomian yang tumbuh melambat, kinerja reksa danacampuran yang agresif mengalami kerugian lebih besar dibandingkan reksa dana campuran yang lebih moderat dan konservatif.
Sementara pada tahun 2016, ketika pemerintah dan Bank Indonesia mengambil kebijakan untuk menurunkan BI Rate dan menyebabkan kenaikan harga obligasi, reksa dana campuran yang moderat dan konservatif menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan reksa dana campuran yang agresif.
Memilih reksa dana Campuran

Sesuai dengan teori perencanaan keuangan, reksa dana campuran cocok untuk tujuan keuangan yang jangka waktunya antara 3 – 5 tahun. Meski demikian, karena perbedaan kebijakan investasi seperti yang ditunjukkan di atas tentu tidak semua reksa danacampuran sama.

Oleh karena itu, untuk reksa dana campuran yang cenderung konservatif dan moderat, lebih cocok untuk tujuan keuangan antara 3 – 4 tahun, sementara untuk reksa dana campuran yang lebih agresif, maka bisa untuk tujuan keuangan 4 – 5 tahun.
Untuk reksa dana yang mata uangnya dollar AS, selain jangka waktu, juga untuk tujuan keuangan yang membutuhkan dollar ASseperti biaya pendidikan anak di luar negeri.
Karena perbedaan kebijakan di atas, maka dalam mengevaluasi kinerja reksa dana campuran kita juga harus menggunakan pembanding (benchmark) yang tepat.
Untuk reksa dana campuran yang agresif, kita bisa langsung menggunakan IHSG sebagai pembanding. Untuk yang konservatif, maka bisa menggunakan indeks obligasi.
Untuk yang berimbang, kita bisa menggunakan pembanding yang disesuaikan seperti 50 persen saham dan 50 persen indeks obligasi.
Manajer investasi biasanya menyediakan informasi tersebut dalam laporan bulanan atau Fund Fact Sheet. Di dalam laporan tersebut, terdapat perbandingan kinerja antara reksa dana dengan indeks pembanding yang biasanya sudah disesuaikan.
Terdapat juga sebagian manajer investasi dan agen penjual yang memasarkan reksa dana campuran dengan “menjual” kemampuan dalam berpindah-pindah saham dan obligasi.
Jika memang demikian, perlu dilihat kinerja historis selama beberapa tahun ke belakang. Apakah memang benar bahwa reksa dana tersebut dapat menunjukkan kinerja yang konsisten positif dalam segala kondisi pasar.
Jika benar, maka bisa dijadikan sebagai salah satu pertimbangan.
Demikian, semoga artikel ini dapat membantu anda dalam memilih reksa dana campuran.
Editor: Bambang Priyo Jatmiko


per tgl 22 Januari 2016, ekh, ternyata tren RD SAHAM maseh LUMAYAN dibandingkan saat TIME2BUY @ Agustus 2015:

JAKARTA kontan. Akhirnya Bank Sentral Amerika Serikat alias The Fed mengerek suku bunga acuan sebesar 25 bps pada pertemuan 15 Desember 2015 - 16 Desember 2015. Analis menyarankan investor untuk mulai masuk ke instrumen yang lebih berisiko.
Senior Fund Manager PT BNI Asset Management Hanif Mantiq menyarankan investor bahwa sekarang merupakan momen tepat untuk menilik instrumen yang lebih berisiko, semisal efek saham dan surat utang.
Sebab, umumnya bursa saham dan obligasi negara-negara berkembang akan melaju lebih kencang ketimbang pasar AS pasca The Fed mengerek suku bunga acuan.
Bagi investor dengan profil risiko konservatif, Hanif menyarankan untuk memarkirkan 80% dana pada efek obligasi korporasi dengan tenor pendek, sekitar 1 tahun – 3 tahun. Sisanya, 20% berupa deposito.
Untuk investor dengan karakter moderat bisa mengalokasikan 50% dana pada obligasi korporasi jangka panjang atau Surat Utang Negara (SUN) bertenor menengah, sekitar 5 tahun – 10 tahun. Sisanya 50% bisa ditempatkan pada efek saham.
“Investor yang risk taker atau agresif boleh mengalokasikan 100% dana ke efek saham. Mau masuk obligasi boleh, pilih yang tenor panjang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hanif berpendapat sektor saham dan obligasi perbankan menjadi pilihan paling menarik. Faktor pendorongnya, ada peluang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga acuan. Sehingga, industri perbankan diduga bakal memacu kreditnya. Prospek pertumbuhan sektor keuangan ini menjadi berkilau.
“Sektor konsumer juga boleh, tidak ada matinya. Kalau lebih agresif lagi, pilih sektor properti , semen, dan konstruksi. Hindari sektor komoditas,” terangnya.
Komoditas memang sedang berbalut tren bearish (turun). Sedangkan sektor properti, semen, dan konstruksi ditopang oleh program pembangunan infrastruktur dan perumahan pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla.


JAKARTA. Pasar saham dan  surat utang berpotensi membaik di akhir tahun ini. Oleh karena itu, pelaku manajer investasi menilai sekarang merupakan saat yang tepat bagi investor untuk memarkirkan dananya di reksadana secara bertahap. 
Paula Rianty Komarudin, Direktur PT Ciptadana Asset Management, menjelaskan, kondisi domestik saat ini lebih baik ketimbang pekan-pekan sebelumnya. Penurunan bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dari semula 7,75% menjadi 7,5% memberikan peluang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan alias BI rate.
Sedangkan dari eksternal, mengecilnya peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed di sisa tahun 2015 berdampak pada penguatan mata uang garuda. Namun, secara year to date (ytd), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah masih terkoreksi.
Paula menilai, saat ini merupakan saat yang tepat bagi investor masuk ke reksadana saham dan reksadana campuran. “Investor bisa membeli unit reksadana dengan harga lebih murah,” tuturnya.
Untuk memaksimalkan kinerja investasinya, Paula menyarankan investor membeli reksadana secara bertahap, mengingat kondisi pasar belum stabil. Maklum, saat ini masih ada ketidakpastian soal kenaikan suku bunga The Fed. Pelaku pasar juga menunggu laporan kinerja emiten di kuartal tiga lalu.
Masuk bertahap
Meskipun kinerja tahun ini masih minus, Paula berpendapat reksadana saham merupakan instrumen investasi yang bermasa depan cerah. Namun investor harus menyesuaikan jenis reksadana yang dibeli dengan profil risiko dan horizon investasinya.
Senior Fund Manager PT BNI Asset Management Hanif Mantiq merekomendasikan, investor memarkirkan dana 50% di instrumen reksadana. Ke depan, setelah The Fed mengerek suku bunga, barulah investor memasukkan sisa dananya lagi.
Namun bagi investor yang lebih agresif dengan horizon investasi jangka panjang sekarang sudah bisa menaruh 100% dananya di reksadana. Sebab, ada ekspektasi perekonomian dalam negeri bakal membaik. Inflasi Indonesia pada bulan September 2015 tercatat 0,05%. Jadi besar peluang target inflasi sepanjang tahun 2015 sebesar 3%–5% bakal terwujud.
Para MI menilai reksadana saham sudah boleh dilirik. Saat pasar menghijau, kinerja reksadana saham umumnya bakal melaju lebih dahulu. “Investor juga bisa membeli reksadana pendapatan tetap 50% karena volatilitasnya lebih rendah, sisanya 50% di reksadana saham,” katanya.
Saran Investment Director PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana, investor menaruh 30% dana di reksadana saham dan 40% reksadana pendapatan tetap. Sisanya ditempatkan sekitar 20% deposito dan 10% emas.
Serupa, Presiden Direktur CIMB Principal Asset Management Fajar R. Hidajat juga merekomendasikan, investor masuk secara bertahap ke reksadana. Saat ini, investor bisa menyisihkan 60% dananya ke produk reksadana.
Setelah November 2015, investor bisa masuk lagi tiap bulan. "Sebab, pelaku pasar sedang menunggu rilis data produk domestik bruto Indonesia kuartal III yang rilis bulan depan," papar Fajar.                  n 

Editor: Yudho Winarto.

Oleh Rudiyanto
@rudiyanto_zh

KOMPAS.com - Apakah berinvestasi di reksa dana itu sulit? Tidak, yang sulit adalah memulainya. Pertanyaannya, dalam kondisi perekonomian yang sulit seperti sekarang, apakah tepat untuk memulai investasi reksa dana?

Jawaban untuk pertanyaan di atas adalah tergantung pada kesiapan investor. Bagi investor yang tidak siap, jawabannya adalah sangat sulit. Sebab dengan persiapan yang seadanya atau bahkan tidak siap sama sekali, memulai investasi pada saat kondisi seperti sekarang adalah amat berisiko.

Risiko yang paling besar adalah cutloss di tengah jalan. Terus terang, sangat sulit untuk memprediksi kapan harga terendah akan terjadi. Investor yang tidak siap akan mencoba beli ketika harga turun, namun menjadi panik ketika harga turun lebih dalam akhirnya malah menjual di harga yang lebih rendah (cutloss).

Dalam istilah investasi, membeli saham ketika harga sedang turun itu ibarat menangkap pisau yang sedang jatuh (Catch The Falling Knife). Jika tidak hati-hati, tangannya bisa terluka oleh tajamnya pisau.

Memulai investasi ketika harganya sedang turun tanpa tujuan yang jelas menurut saya adalah tindakan spekulasi. Apakah tindakan tersebut salah? Tidak, tapi spekulasi hanya cocok bagi investor profesional atau investor dengan dukungan data dan informasi yang komprehensif. 

Bagi investor reksa dana secara umum, idealnya investasi dimulai karena adanya tujuan keuangan yang ingin dicapai, bukan karena ingin berspekulasi. Bahkan dalam kondisi perekonomian yang sedang baik sekalipun, tetap diperlukan persiapan yang cukup.

Ketika kondisi perekonomian sedang baik dan hasil investasi meningkat, sekalipun tujuan keuangan sudah tercapai kadang-kadang investor “lupa” untuk mencairkannya karena mengharapkan hasil investasi yang lebih tinggi lagi.

Risiko yang dihadapi adalah kehilangan potensi mengambil keuntungan dan waktu ketika kondisi berbalik. Pada akhirnya tujuan keuangan tidak tercapai melalui kegiatan investasi tersebut.

Jadi, mau kondisi perekonomian sedang bagus atau tidak, bagi investor yang penting adalah memiliki memiliki persiapan dan tujuan keuangan yang jelas. Jika sudah, maka kondisi perekonomian yang sulit seperti sekarang bukanlah menjadi penghalang untuk memulai berinvestasi. Malahan bisa meningkatkan potensi kenaikan harga dalam jangka panjang jika kondisi perekonomian membaik kembali.

Ketika memulai investasi, ada 3 persiapan yang dapat dilakukan oleh seorang calon investor reksa dana yaitu :
Memulai investasi dengan kondisi keuangan yang sehat
Ada 4 indikator yang dapat menunjukkan kesehatan keuangan yaitu rasio pengeluaran, dana darurat, rasio cicilan, dan asuransi jiwa.

Referensi: Sehat Keuangan Dahulu Investasi Reksa Dana Kemudian

Dengan memiliki rasio keuangan yang sehat, maka investor akan lebih siap dalam menghadapi gejolak baik dari kejadian mendadak yang membutuhkan dana sehingga tidak harus terpaksa mencairkan dana ketika nilainya sedang menurun.

Kesehatan keuangan yang baik biasanya juga dapat membuat investor berpikir lebih jernih dan memanfaatkan momentum penurunan harga karena masih memiliki dana kas yang disimpan dalam bentuk dana darurat.

Memiliki tujuan keuangan yang SMART
Perbedaan antara investor dan spekulator adalah terletak pada tujuan. Investor memiliki tujuan keuangan dan berusaha mencapainya melalui investasi reksa dana. Sementara spekulator hanya ingin mendapatkan keuntungan dari fluktuasi harga.

Tujuan keuangan yang baik adalah memenuhi prinsip SMART. 
Specific – artinya jelas, Measurable – artinya dinyatakan dalam satuan nominal yang harus dicapai, Attainable dan Realistic – artinya tujuan tersebut cukup dicapai kemampuan keuangan dan produk reksa dana yang tersedia, dan Time – artinya tujuan tersebut harus memiliki batas waktunya.

Referensi: Prinsip SMART Dalam Investasi Reksa Dana

Dengan memiliki tujuan yang SMART, maka jenis reksa dana dapat disesuaikan jangka waktu investasinya. Sebagai referensi untuk tujuan < 1 tahun adalah reksa dana pasar uang, 1 – 3 tahun reksa dana pendapatan tetap, 3 – 5 tahun reksa dana campuran dan > 5 tahun reksa dana saham.

Dengan berfokus pada waktu tujuan keuangan, misalkan investasi untuk pendidikan anak yang dananya baru digunakan 10 tahun ke depan, tentu kita tidak akan terlalu pusing jika fluktuasi hasil investasi saat ini.

Memahami risiko investasi
Investor harus selalu menyadari bahwa yang namanya investasi pasti mengandung risiko. Tidak ada investasi yang dapat menjamin adanya keuntungan yang pasti. Namun dengan mengambil risiko, seorang investor berpotensi menikmati hasil yang lebih tinggi dibandingkan menabung dalam jangka panjang.

Yang namanya risiko memang tidak enak, siapapun pasti tidak akan senang kalau melihat nilai uangnya berkurang. Tapi dengan menyadari hal tersebut kita akan lebih siap menghadapinya. 

Yang celaka adalah investor beranggapan bahwa investasi di reksa dana tidak akan rugi dan ketika nilainya turun, dia panik. Jadi sangat penting untuk berinvestasi melalui penjual yang memberikan edukasi dan informasi pasar kepada nasabahnya dengan baik. 

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.


JAKARTA kontan. Return reksadana saham terus merosot. Bahkan rata-rata kinerja reksadana saham secara year to date (YTD) September 2015 tercatat terendah sejak tahun 2008 atau minus 23,03%.
Tahun 2008 lalu, rata--rata kinerja reksadana saham tercatat minus 51,7%. Kinerja kemudian membaik di 2009 dan 2010 yang masing-masing menjadi 106,6% dan 37,44%. Namun, pada 2011 dan 2013 tertekan masing-masing minus 0,08% dan minus 4,92%. Sedangkan di 2012 dan 2014 masing-masing sebesar 9,71% dan 27,86%.
Direktur Investasi PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan tertekannya industri reksadana saham tahun ini mirip tahun 2013 lalu. Di mana, saat itu pasar saham domestik mengalami koreksi akibat sentimen global dari Amerika Serikat (AS).
"Tahun 2013 pasar turun karena ketidakpastian tapering (pengurangan stimulus) AS. Kondisi mirip 2013, namun sedikit lebih buruk," tutur Jemmy, Kamis (1/10).
Kendati demikian, dia memperkirakan pasar reksadana tidak akan mendekati kondisi 2008. Menurut dia, pasar saham berpotensi menguat akibat membaiknya ekonomi di kuartal IV. Selain itu, stimulus serta paket kebijakan yang dijalankan pemerintah juga akan membawa sentimen positif di pasar saham.
"Apalagi apabila nilai tukar rupiah menguat akibat perbaikan ekonomi dan kepastian the Fed (suku bunga AS)," ujar Jemmy.
Dia memperkirakan reksadana saham akan berkinerja minus 10% hingga minus 15% di akhir tahun. Kinerja tersebut akan lebih baik apabila nilai tukar rupiah bisa menguat ke level Rp 14.000 per dollar AS. "Maka, return reksadana saham bisa hanya minus 5% hingga minus 10% di akhir tahun," tutur dia.
Direktur Utama Danareksa Investment Management (DIM) Prihatmo Hari optimistis tekanan industri reksadana saham tahun ini bisa berkurang. Dia memperkirakan investor asing akan masuk ke pasar modal seiring sudah murahnya harga saham dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).
"Namun kondisi pasar saat ini susah dipukul rata. Kinerja reksadana sangat tergantung kepiawaian fund manager-nya," tutur dia.
Dia mengaku menerapkan strategi defensif sejak kuartal II lalu. Perusahaan memaksimalkan porsi kas dan memilih sektor saham seperti infrastruktur, konsumsi dan keuangan.
Hans Kwee, Vice President Quant Kapital Investama juga yakin kinerja reksadana saham membaik seiring naiknya IHSG. "Saat ini pasar menanti kepastian kenaikan Fed rate. Setelah kenaikan Fed rate, maka IHSG akan membaik," kata Hans.
Sedangkan Head of Operation dan Business Development Panin Asset Management Rudiyanto yakin IHSG tidak akan beranjak terlalu jauh dari level 4300. Kamis (1/10), IHSG ditutup menguat 0,733% ke level 4.254. "Kalau dibandingkan dengan penurunan laba bersih perusahaan, harga wajar IHSG sekitar 4.300," tutur Rudiyanto.
Selain itu, pasar saham di akhir tahun akan menguat ditopang oleh sentimen positif seperti window dressing dan penyerapan anggaran pemerintah. Dia memperkirakan adanya kepastian suku bunga the Fed juga berpotensi mendorong kenaikan IHSG.
Panin sendiri mengaku memperbesar porsi kas. "Begitu ada saham yang fundamental baik turun dalam, maka kami akan masuk," ujar Rudiyanto.
Analis Infovesta Utama Viliawati memperkirakan rata-rata return reksadana saham masih minus tahun ini. Dia memprediksi secara year on year (YoY) reksadana saham rata-rata akan berkinerja minus 9% hingga minus 6%. Sedangkan reksadana campuran minus 5% hingga 2%.
Untuk reksadana pendapatan tetap diperkirakan akan berkinerja 2% hingga 4%. Serta reksadana pasar uang sekitar 6% hingga 7%.
Editor: Yudho Winarto.


Bareksa.com - Kondisi perekonomian yang tengah mengalami perlambatan memicu kekhawatiran para pelaku pasar akan terjadinya krisis. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung menurun dan melemahnya nilai tukar rupiah, serta sentimen global lainnya merupakan faktor penyebab kekhawatiran investor tersebut.
Namun, seandainya saat ini ternyata memang benar sedang memasuki fase krisis, maka tidak perlu khawatir. Justru inilah saatnya Anda melakukan investasi. Sebab biasanya pada masa pemulihan ekonomi, tidak hanya pasar keuangan yang melonjak, tetapi hampir semua sektor mengalami kenaikan.
Misalnya saja, krisis global yang terjadi pada 2008. Krisis yang berawal dari krisis keuangan Amerika tersebut memberi dampak signifikan terhadap perekonomian dunia. Saat ekonomi sudah mulai pulih pada 2009, sektor properti mulai dilirik. Apalagi saat itu suku bunga sangat rendah karena dipangkas oleh otoritas moneter untuk memulihkan perekonomian. Hal itulah yang membuat properti  Lalu pada 2013, Indonesia kembali mengalami krisis. Kali ini penyebabnya  Lantaran adanya kenaikan harga-harga saat pemulihan perekonomian, maka sebenarnya pada fase penurunan akibat krisis inilah merupakan saat yang tepat untuk melakukan investasi. Jika Anda melakukan investasi, apalagi ternyata saat itu merupakan titik terlemah dari instrumen tersebut dan setelah itu investasi Anda mengalami kenaikan, bisa dibayangkan berapa jumlah return yang Anda dapatkan. Diilustrasikan dengan menggunakan indeks reksa dana saham, jika saja Anda melakukan pembelian saat rata-rata reksa dana saham masih mengalami penurunan pada 14 Oktober, maka pada setahun kemudian, investasi Anda telah berkembang sekitar 77,4 persen.
Jika saja Anda melakukan pembelian pada titik terlemahnya, mungkin keuntungan Anda bisa lebih dari 100 persen. Namun tentu saja kita tidak mengetahui apakah saat itu merupakan titik terlemahnya atau bukan. Tetapi hal tersebut bisa disiasati dengan melakukan pembelian bertahap saat pasar sedang mengalami penurunan (average down). (Baca juga: Average Down, Strategi Efektif Saat Kondisi Pasar Menurun)
Bisa dibayangkan jika uang yang Anda miliki hanya ditabung di bank atau ditaruh di deposito. Nilai uang tersebut tentu saja akan habis tergerus inflasi yang terus meningkat. Meskipun deposito memberi imbal hasil berupa bunga, tapi tetap saja nilai uang yang Anda miliki tidaklah seberapa. Sebab hasil investasi dari deposito juga akan dikenakan pajak.
> Seandainya Anda belum memiliki keberanian untuk mengambil risiko dari penurunan nilai investasi pada reksa dana saham, dapat memilih reksa dana pasar uang. Reksa dana ini mayoritas asetnya dialokasikan pada deposito, tapi return yang dihasilkan dari reksa dana ini lebih tinggi dibanding bunga deposito.
Jakarta detik -Memilih investasi yang tepat bukan perkara mudah. Berbagai instrumen investasi ditawarkan mulai dari saham, obligasi, reksa dana, deposito, emas, dan lain-lain.

Saat perekonomian lesu yang juga membuat pasar saham anjlok, investor bingung harus menempatkan dananya. 

Saat reksa dana saham atau campuran yang berbasis pada saham kinerjanya merosot, reksa dana pasar uang mungkin bisa jadi pilihan.

Investor yang ingin menempatkan uangnya dalam jangka pendek atau maksimal 1 tahun, tentu tidak ingin mengambil risiko nilai investasinya tergerus gara-gara pasar saham anjlok. 

Sementara jika ditempatkan di tabungan tidak akan mendapatkan keuntungan, bunga yang didapat hanya 2-3% per tahun, belum lagi dipotong biaya administrasi.

Reksa dana pasar uang mungkin bisa jadi pilihan, dengan rata-rata imbal hasil atau return 6-7% per tahun, bisa dimanfaatkan untuk investasi jangka pendek.

"Ada produk BNI-AM Dana Kemilau Pasar Uang, itu based-nya full deposito, return 6-7% setahun, itu kan kalau di deposito mau dapat special rate baru bisa dapat di atas Rp 500 juta, di tabungan hanya 2,5% setahun, jadi mending reksa dana pasar uang," jelas Sales Marketing BNI Asset Management Fandra saat ditemui detikFinance, di Indonesia Banking Expo (IBEX) 2015, di JCC, Senayan, Kamis (10/9/2015)
Dia menyebutkan, dengan minimal Rp 100.000, masyarakat sudah bisa membeli reksa dana pasar uang.

"Kalau punya iddle cash untuk dipakai paling tidak setahun ya cocok ditaruh di pasar uang ini. Return 6-7% nanti diambil pas setahun," katanya.

Sementara untuk reksa dana saham, Fandra menyebutkan, memang saat ini kondisinya sedang lesu. Untuk produk BNI-AM Inspiring Fund secara year to date sudah minus 8%.

"Ini juga bisa Rp 100.000 tapi memang yang saham lagi turun ya. Sudah minus 8%, tapi masih lebih baik, ada yang sampai 12%," sebut dia.

Meski demikian, lanjut Fandra, reksa dana saham ini cocok untuk investasi jangka panjang. Saat pasar saham anjlok seperti saat ini, harusnya bisa dimanfaatkan untuk mulai investasi.

Karena, kata dia, rata-rata imbal hasil reksa dana saham cukup besar, bahkan bisa sampai 30% setahun.

"Reksa dana saham kita BNI-AM Dana Berkembang itu pernah 30%, itu memang sahamnya yang small-medium cap jadi naik dan turunnya bombastis, kalau naik tinggi banget, turun juga begitu. Sekarang saja sudah minus 18%," sebut dia.

Sedangkan untuk reksa dana pendapatan tetap ada BNI-AM Dana Berbunga Tiga. Rata-rata imbal hasilnya 8% per tahun. Namun, saat ini kondisinya lagi merosot.

"Ini juga bisa Rp 100.000. Pendapatan tetap setahun 8% tapi sekarang obligasi lagi jatuh," katanya.

BNI-AM Dana Terencana atau reksa dana campuran milik BNI juga mencatat kinerja negatif. Hingga saat ini sudah mencatat minus 7,90%.

"Ini juga Rp 100.000. Return rata-rata 15% per tahun. Untuk bisa beli reksa dana syaratnya mudah cukup fotokopi KTP, NPWP, materai 1 lembar Rp 6.000 dan isi formulir," imbuhnya.


JAKARTA kontan. Gejolak pasar modal bulan lalu turut menggerus dana kelolaan reksadana. Data Infovesta Utama menyebutkan, dana kelolaan reksadana pada bulan Juli 2015 tercatat sebesar Rp 249,38 triliun, atau turun 0,65% dari bulan sebelumnya yang sebesar Rp 251,02 triliun.
Penurunan antara lain terjadi pada reksadana pasar uang, yang turun 3,31% jadi Rp 26,38 triliun. Dana kelolaan reksadana saham juga terkoreksi 2,39% jadi Rp 103,11 triliun. Sedang dana kelolaan reksadana lainnya masih tumbuh.
Sekadar catatan, indeks saham terkoreksi 2,2% di Juli lalu. "Tekanan pasar saham sepanjang Juli memangkas nilai pasar wajar underlying assetreksadana," kata analis Infovesta Utama Yoanita Rianti, Rabu (5/8).
Di sisi lain, unit penyertaan reksadana tumbuh tipis, sehingga tak mampu mengangkat dana kelolaan. Infovesta mencatat, unit penyertaan hanya naik dari 169,48 miliar unit jadi 170,62 miliar unit. Penyusutan dana kelolaan salah satunya dialami PT Panin Asset Management.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dana kelolaan perusahaan ini turun dari Rp 11,45 triliun jadi Rp 10,96 triliun. Unit penyertaan juga turun dari 4 miliar unit jadi 3,94 miliar unit. "Dana kelolaan turun karena pasar saham dan obligasi turun," ujar Direktur Panin Asset Ridwan Soetedja.
Sementara Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo mengaku dana kelolaan perusahaan stabil sekitar Rp 30 triliun. Anak usaha Bahana Securities ini optimistis dana kelolaan bisa naik Rp 1 triliun hingga akhir tahun. "Kami akan kejar dari peluncuran produk baru," kata Soni.
Hingga akhir tahun, Yoanita memperkirakan fluktuasi pasar saham masih mengancam industri reksadana. Rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed bakal menjadi sentimen negatif. "Selain itu kurs rupiah tertekan," kata dia.
Yoanita menyarankan, investor dapat memanfaatkan momentum koreksi untuk masuk ke reksadana demi meraih imbal hasil optimal saat pasar modal bullish.  selanjutnya. Paragraf akhir .
Editor: Barratut Taqiyyah

HAcuSIcuL SURVEI: 50% Investor Lebih Memilih Menunggu Reaksi di Pasa

Bisnis.com, JAKARTA--Melihat kondisi ekonomi dan market saat ini, investor lebih berhati-hati dalam mengalokasikan investasinya. Sejumlah investor berencana menyesuaikan investasi mereka berdasarkan reaksi terhadap kondisi pasar.
Hal tersebut merupakan hasil Schroders Global Investment Trends Survey 2015 terhadap 20.706 (200 orang dari Indonesia) investor aktif yang berasal di Eropa, Asia, dan Amerika.
CEO Schroders Indonesia Management Investment Michael Tjoajadi mengatakan kondisi pasar saham dan obligasi saat ini tengah berfluktuaktif. Biasanya, pada saat pasar turun, investor mencairkan investasinya.
Namun, tidak sedikit juga investor yang memanfaatkan momentum ini untuk berinvestasi dengan harga yang lebih murah. “Sebenarnya investor menunggu keadaan dulu, untuk melihat kemana mereka akan membawa investasi mereka, investor berjaga-jaga. Sekitar 50% investor yang disurvei di Indonesia menyatakan akan menyesuaikan investasi mereka sesuai kondisi pasar saat ini,” kata Michael di Jakarta, Selasa (7/7/2015).
Menurutnya, para investor masih percaya dengan kondisi pasar di Indonesia. Bagi investor yang berpengalaman, investor akan lebih baik tetap mengalokasikan dananya ke saham dan obligasi atau reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap. Namun, untuk investor yang tidak berpengalaman akan lebih masuk ke cash saja atau deposito.
“Orang Indonesia masih percaya investasi di Indonesia akan memberikan imbal hasil yang baik dalam waktu jangka panjang. Melihat pengalaman dulu 2008, saat krisis investor tetap di saham,” tambahnya.
Dia menilai, saat ini pasar saham dan kondisi ekonomi Indonesia sedang berfluktuaktif dan masih akan berfluktuaktif dalam beberapa waktu ke depan. Namun, ke depan, pasar Indonesia akan membaik seiring berjalannya proyek-proyek infrastruktur. Terkait kinerja imbal hasil reksa dana yang saat ini masih negatif, dia berharap kinerja akan berbalik positif pada akhir tahun.

JAKARTA kontan. Tekanan pasar modal sepanjang April memaksa industri reksadana hanya tumbuh tipis. Infovesta Utama mencatat dana kelolaan reksadana hanya tumbuh 0,07% dibandingkan Maret 2015.
Total dana kelolaan pada April tercatat Rp 243,13 triliun. Sedangkan pada Maret 2015 lalu dana kelolaan reksadana mencapai Rp 242,96 triliun.
Padahal pada periode month on month (MoM) Maret sebelumnya, dana kelolaan reksadana masih tumbuh 2,75% dibandingkan Februari yang sekitar Rp 236,44 triliun.
Direktur Panin Asset Management Ridwan Soetedja mengaku seretnya dana kelolaan dipicu oleh penurunan nilai aset dasar pada reksadana saham. Perusahaan justru mengalami penurunan dana kelolaan dibandingkan Maret sebelumnya.
"Mayoritas dana kelolaan kami berada pada reksadana saham sehingga penurunan market ini mengakibatkan penurunan dana kelolaan," ujar Ridwan, Kamis (7/5).
Menilik data OJK, dana kelolaan Panin Asset Management susut 4,2% menjadi Rp 11,89 triliun pada April dibandingkan Maret yang mencapai Rp 12,56 triliun.
Infovesta Utama menyebut kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami minus 7,83% sepanjang April. Di sisi lain indeks obligasi pemerintah yang ditunjukkan oleh Infovesta Goverment Bond Index juga minus 0,76%. Sedangkan indeks obligasi korporasi atau Infovesta Corporate Bond Index tercatat 0,8%.
Editor: Yudho Winarto