Jumat, 06 Oktober 2023

krisis (saat NAB TURUN DAHSYAT) = WEI-ji (ancaman tapi PELUANk)

Pandemi 2020-2023: 


🍅
@ the period of ELECTION 2019 CRISES: 
🍓


Taon 2023 dianggap oleh Jokowi n Sri Muljani sbagai TAON KEGELAPAN EKONOMI lage, ternyata tren Nilai Aktiva Bersih reksa dana  yang diinves BY JO cukup sukses ctak kenaekan positif. Sebagian tren harga saham jlas ambruk, walo ada juga yang tetap memberikan imbal hasil tinggi, neh : 


🍉
Dalam ERA PANDEMI, investasi reksa dana saham yang JO INVES bergerak-gerak NEH : 

🍇

Tren NAB RD saat BOTTOM 2020 (ihsg) s/d TOP (stidaknya salah satu puncak) 2021, neh : 



Tren NAB RD  saat Pandemi 17 April 2020 s/d skarang: 
1 bulan stelah KEJATUHAN terdalam IHSG, gw mulai ukur tren Nilai AKTIVA BERSIH (NAB) reksa dana saham, yang gw inves. Neh hasilnya: 
s/d 22 Januari 2021: 



🍒
Reksa Dana Campuran: kontra tren NAB Reksa Dana Saham

Bisnis.com, JAKARTA — Penerbitan produk baru dinilai sebagai salah satu penopang kenaikan dana kelolaan dan unit penyertaan reksa dana hingga akhir semester I/2020. Manajer investasi

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per 30 Juni 2020 jumlah unit penyertaan reksa dana secara industri adalah 405,91 miliar unit, naik dibandingkan dengan posisi Mei 2020  sejumlah 405,71 miliar unit.

Sementara jumlah dana kelolaan juga terpantau naik. Per Juni 2020, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana secara industri mencapai Rp482,54 triliun sedangkan per Mei 2020 sebesari Rp474,20 triliun.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan pembelian reksa dana sepanjang Juni 2020 memang tengah mengalami tren naik. Dia mencontohkan pada periode tersebut Panin AM mencatatkan net subscription sekitar Rp80 miliar. Dengan kata lain, jumlah pembelian unit reksa dana lebih tinggi dibandingkan penjualan unit.  

Menurutnya, hal tersebut antara lain dikarenakan investor mulai bersiap masuk kembali ke reksa dana seiring rencana penerbitan produk-produk baru di paruh kedua tahun ini, terutama produk-produk reksa dana terproteksi. 

“Kemarin kan banyak yang ter-pending, nah di Juni sudah mulai banyak penerbitan. Panin AM juga di awal Juli sudah terbitkan reksa dana terproteksi baru,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (13/7/2020).

Mengacu pada data Kustodian Sentral Efek Indonesia, sepanjang Juni 2020 setidaknya ada pendaftaran untuk 30 produk reksa dana baru dengan rincian 20 reksa dana terproteksi, 5 reksa dana pasar uang, 3 reksa dana pendapatan tetap, serta masing-masing 1 reksa dana saham dan ETF.

Dia juga memproyeksikan jumlah unit penyertaan dan dana kelolaan reksa dana bakal kembali naik pada Juli 2020.

“Kalau untuk Panin sendiri sampai hari ini kita masih net subs ya sekitar Rp9 miliar, tapi mungkin harus lihat di tengah bulan dan akhir bulan. Kebetulan di akhir bulan kita ada penerbitan RD Terproteksi lagi,” jelasnya.

🍓


Tren NAB RD SAHAM tertua yang JO inves s/d 10 Juli 2020, sbb: 

🍉

Tren NAB RD saham, campuran, pasar uang n pendapatan tetap periode 17 April 2020 - 26 Juni 2020, sbb: 




🍊

Reksa dana saham yang JO inves neh (dalam periode 5 taon): 
🍓


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja pasar modal dihadapkan pada banyak tantangan di awal tahun, teranyar yakni pemblokiran beberapa efek anggota bursa. Baru-baru ini, Kejaksaan Agung RI (Kejagung) mengumumkan untuk memblokir sejumlah rekening efek Anggota Bursa (AB) yang terkait dengan proses penyidikan kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya.
"Proses hukumnya harus mesti dipercepat, pemeriksaannya (harus dipercepat) agar semua lebih pasti hasilnya," kata Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Edward Lubis kepada Kontan.co.id, Jumat (14/2).
Edward juga meyakini bahwa pemblokiran beberapa rekening efek tidak akan memberikan dampak sistemik bagi industri reksadana tanah air. Ini karena, jumlah rekening efek yang diblokir dinilai tidak terlalu besar dan posisi likuiditas manager investasi (MI) diklaim masih cukup baik.
Bahkan, dalam pertemuan yang digelar OJK bersama seluruh pelaku pasar modal di Wisma Mulia 2 Jumat (14/2), Edward menyebutkan bahwa perwakilan Kresna Group mengkonfirmasi bahwa likuiditas Kresna Group masih memadai dan tidak ada larangan bagi investor untuk melakukan redeem atau pencairan rekening.
Menanggapi kondisi pasar saat ini, Edward menjelaskan bahwa otoritas akan terus membantu untuk melindungi dan mendorong transparansi, bukan memberikan ganti rugi. Dalam pertemuan tersebut, OJK juga memaparkan bahwa pihaknya sudah dan akan terus melakukan upaya-upaya pengawasan hingga memberikan hukuman seperti suspensi, pencabutan izin hingga denda kepada pihak-pihak yang diketahui melakukan pelanggaran.
"Kami juga sebagai pelaku pasar diminta untuk lebih interaktif, sementara sistem-sistem akan terus diperkuat oleh OJK, begitu juga pelaporan," jelasnya.
Selain itu, Edward menyebutkan ke depan otoritas akan mendorong penyelesaian aturan disgorgement fund. Otoritas sampai saat sedang menggodok aturan disgorgement fund atau pembentukan dana bagi investor yang akan mengganti kerugian investor di pasar modal.
OJK telah menerbitkan Rancangan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (RPOJK) mengenai disgorgement fund yang diunggah di situs resminya. Rancangan tersebut mengatur dua hal yakni mekanisme disgorgement dan dana disgorgement.
Salah satu hal yang menjadi pertimbangan OJK merilis beleid ini adalah perlu adanya penguatan instrumen penegakan hukum yang dapat menciptakan efek jera bagi pihak yang melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan di pasar modal. Dengan begitu, kerugian investor di pasar modal bisa diminimalisir. "Disgorgement fund, itu akan dibangun dan dikembangkan. Tapi belum tahu tahun ini atau tahun depan," tandasnya.


🍇

Bisnis.com, JAKARTA — Reksa dana saham berdenominasi dolar AS diperkirakan memberikan imbal hasil tertinggi dibandingkan produk sejenis lainnya yang berbasis greenback.
Deputy CIO Principal Asset Management Ni Made Muliartini menyampaikan reksa dana berdenominasi dolar AS berpotensi mencatatkan kinerja positif pada tahun ini, terutama produk reksa dana saham.
 Sejumlah faktor yang memengaruhi kinerja reksa dana dolar AS ialah proyeksi suku bunga The Fed yang flat, meredanya sentimen perang dagang global, dan penambahan suplai obligasi pemerintah AS (US Treasury). “Dengan perhitungan berbagai faktor, pada 2020 kemungkinan reksa dana saham dolar AS akan lebih baik dibandingkan reksa dana pendapatan tetap dolar AS,” jelasnya kepada Bisnis.com, Selasa (21/1/2020). 10 Saham Paling Diminati Asing pada Perdagangan 21 Januari
Ni Made memprediksi pada 2020 reksa dana pendapatan tetap berdenominasi dolar AS dapat memberikan imbal hasil 3,5 persen-6 persen. Adapun, reksa dana saham dolar AS berpotensi memberikan return yang lebih tinggi.
Pada 2019, reksa dana pendapatan tetap memang lebih kinclong. Berdasarkan data Infovesta Utama, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana pendapatan tetap berdenominasi dolar AS tumbuh 110,93 persen year on year (yoy) menjadi US$626,03 juta. Sebaliknya, NAB reksa dana saham dolar AS turun 23,61 persen yoy menuju US$636,18 juta.
Produk dolar AS andalan Principal AM adalah Reksa Dana Principal Dollar Bond. Pada 2019, produk itu memberikan imbal hasil 11,23 persen.
Sementara itu, Ciptadana Asset Management juga memprediksi kinerja reksa dana saham berdenominasi dolar AS dapat bangkit pada 2020, setelah cenderung mengalami penurunan pada 2019.
“Pada 2020, diperkirakan produk reksa dana saham berdenominasi USD akan memberikan performa yang lebih baik dibandingkan asset class lainnya,” tutur Direktur Investasi Ciptadana Asset Management Tenno Tinodo kepada Bisnis.com, Senin (20/1/2020).
Saat ini, Ciptadana AM baru memiliki satu produk berdenominasi dolar AS, yakni reksa dana Cipta Obligasi USD.
Pada Jumat (17/1/2020), Cipta Obligasi USD memberikan return 2,56 persen month on month (mom), tertinggi di antara produk sejenis lainnya. Portfolio produk tersebut terdiri dari 94 persen efek pendapatan tetap dan 6 persen efek pasar uang.
Menurut Tenno, ada sejumlah faktor yang mendorong kinerja reksa dana berdenominasi dolar AS. Bila portofolio produk itu diinvestasikan dalam aset berdenominasi rupiah, maka akan memberikan prospek positif karena penguatan mata uang domestik.
Selain itu, perbedaan real interest rate antara Indonesia dan AS terbilang menarik. Real interest rate adalah selisih dari nominal interest rate dengan inflasi.
Pada Desember 2019, inflasi AS mencapai 2,3 persen year on year (yoy) dengan suku bunga 1,5 persen-1,75 persen. Dalam periode yang sama, inflasi Indonesia sebesar 2,72 persen yoy dengan suku bunga acuan 7DDR 5 persen.
“Investor juga memantau kebijakan moneter dan fiskal, serta neraca perdagangan dan defisit anggaran,” imbuhnya.
🍇

YAHOO FINANCE: Hedge funds and mutual funds seem to confuse investors. Usually, rich investors favor hedge funds, while all different types of investors use mutual funds. Understanding a hedge fund vs mutual fund can help investors select the best option for their portfolio. Here’s how you’ll know which is right for you.

What is a Mutual Fund?

Buying an individual security may take time, expertise and research. Additionally, you may have to work to find the right stocks that can make up a balanced portfolio and minimize your risk. Even after all that, this strategy may not help you meet your financial goals and objectives.

This is where mutual funds come in. Mutual funds remove the need to research your stock and bond selections. You can simply purchase a mutual fund from a fund company, and they will buy shares and bonds for you. Essentially, the investor chooses the fund company or fund instead of the securities that make up the fund.

Mutual funds may hold a mix of domestic and international stocks and bonds. They may also specialize in a certain sector of the market such as real estate. Or, an investor can invest in a target-date fund that holds a mix of stocks and bonds that rebalance along an investor’s schedule

What is a Hedge Fund?
A hedge fund is a partnership of investors that usually use high-risk investment strategies to yield high rates of returns. Hedge funds use a variety of assets such as stocks, real estate and options to achieve their ideal investment strategy. Typically, hedge funds look for high net worth individuals or institutional investors to gain access to a lot of capital.
After investors or limited partners contribute to the fund, the investment manager will then determine the best investment method to yield the highest return.
Hedge Fund vs Mutual Fund Similarities
Both hedge funds an mutual funds have pooled investments. As a result, pooled money from every investor purchases the securities and assets in each fund.
Also, they both offer diversification because they invest in different types of asset classes. However, this depends solely on the fund. Some funds are highly concentrated in a certain sector of the economy or asset class. Usually, hedge funds are diversified into certain security types such as commodities or stocks, whereas mutual funds commonly have a specific focus and may invest in on security type.
Lastly, when investors select a mutual fund or hedge fund, they are selecting the fund manager instead of the securities within the fund. Essentially, investors may select a fund that coincides with their investment philosophy. Most hedge funds are usually actively managed, which means the manager or management company uses their analytics, expertise, and knowledge to select securities and the time at which they are purchased.
Mutual funds can either be actively managed or passively managed depending on their objective. If they are passively managed, the fund manager select assets to hold them for an extended amount of time to reach the benchmark of the index.
Hedge Fund vs Mutual Fund Differences
Certain hedge funds and mutual funds have various limitations on who can invest. For example, some hedge funds may require the investors to have a $5 million net worth. Or, perhaps they require the investor to make a high initial investment to participate in the fund. On the other hand, mutual funds may only require a minimum initial investment and won’t look at the investor’s net worth.
The cost of investing in each fund also differs. Hedge funds usually have higher expenses than mutual funds. This is because hedge funds may charge an expense ratio as well as a performance fee. For example, there are often “two and twenty” hedge fund fees. This means they have a 2% expense ratio and charge a 20% cut of the profit generated by the fund. Because high net worth individuals tend to invest in hedge funds, they typically can charge whatever they want as long as they disclose the fee structure. Mutual funds may have a 1% or less expense ratio making it a more affordable option for the average investor.



Additional ConsiderationsThe objective and performance of mutual funds versus hedge funds is generally another differentiator. Hedge funds often yield high returns in any economic environment including a recession or market downturn. Since many hedge funds take a more defensive approach, returns may not be as high as some mutual funds during a bull market.
During a bull market, a hedge fund may only see a single-digit returns, while a mutual fund may see returns in the double digits in a recession. In a bear market, a mutual fund may still see a positive return while a hedge fund may have a negative one.
The Bottom Line
The biggest gain of investing in a hedge fund is its potential to yield stable returns and keeping pace with inflation while minimizing the investor’s exposure to risk. However, many average investors may not meet the minimum net worth and investment requirement to participate in the fund.
Therefore, the average investor may be better off investing in a mutual fund with a diverse portfolio. Mutual funds are accessible to most investors and more affordable. Therefore, investing in mutual funds may be a better investment strategy for achieving long-term returns for the average investor. If you’re unsure of which investments make sense for your financial objectives it’s wise to partner with a financial advisor. A financial advisor can help you identify the best investment selections that will help you achieve your financial goals.
Tips for Investing
  • If you have a more complex financial situation or just prefer talking face-to-face, consider working with a traditional financial advisor. Finding the right financial advisor that fits your needs doesn’t have to be hard. SmartAsset’s free tool matches you with financial advisors in your area in 5 minutes. If you’re ready to be matched with local advisors that will help you achieve your financial goals, get started now.
  • If you don’t have a lot to invest, you might want to consider a robo-advisor. Robo-advisors, which are entirely online, offer lower fees and account minimums than traditional financial advisors.


JAKARTA, investor.id - 
Dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana secara industri diperkirakan tumbuh 10%-12% pada tahun depan. Kepercayaan investor terhadap industri ini akan pulih, pasca-kisruh yang terjadi pada November lalu. 
Sementara itu, Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) dan Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) sepakat mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menindak tegas manajer investasi (MI) yang produk reksa dananya bermasalah. 
APRDI juga tengah memfinalisasi usulan kepada OJK agar manajer investasi membeberkan top 5 saham underlying asset pada sebuah produk reksa dana. 
Ketua Presidium Dewan APRDI Prihatmo Hari M bersama jajaran anggota Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) saat memberikan keterangan di Jakarta, kemarin. 
Prihatmo menyampaikan, dengan industri yang sehat, diharapkan kepercayaan masyarakat akan semakin besar dan luas. 
Terlebih, reksa dana adalah produk investasi yang diatur dan diawasi secara ketat oleh regulator yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 
Berdasarkan data Infovesta, selama Januari-November, terdapat 35 produk reksa dana yang nilai aktiva bersih (NAB)-nya anjlok lebih dari 50%. 
Selain itu, ada tiga reksa dana yang selama November saja, NAB-nya terpangkas lebih dari 50%. 
Ketua Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Prihatmo Hari Mulyanto berpendapat, hingga akhir tahun 2019 kemungkinan posisi AUM industri reksa dana tidak berbeda jauh dari posisi per akhir November 2019, yang berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencapai Rp 544,4 triliun. “Posisi AUM tak banyak berubah karena menjelang tutup tahun, investor reksa dana khususnya institusi sudah settled down di pertengahan Desember ini,” kata dia di Jakarta, Rabu (11/12). 

Reksa dana yang mengalami penurunan NAB 
Menurut Prihatmo, perhitungan pertumbuhan AUM 10%-12% itu telah memasukkan pertumbuhan aset reksa dana itu sendiri beserta net subscription. Pertumbuhan reksa dana tahun depan bisa lebih bagus dibanding tahun ini lantaran faktor arah kebijakan pemerintah yang jelas dan terukur. Jika AUM reksa dana pada akhir tahun 2019 masih berkisar Rp 540 triliun, maka posisi AUM pada tahun depan bisa menembus kisaran Rp 594-Rp 604,8 triliun. 
Sementara itu, menanggapi sejumlah penutupan reksa dana saham oleh OJK, Prihatmo berpendapat, asosiasi ikut berpartisipasi dalam memberikan usulan kepada OJK untuk menerbitan aturan terkait kewajiban manajer investasi membeberkan top 5 saham underlying asset pada sebuah produk reksa dana. 
Saat ini rancangan aturan tersebut sedang difinalisasi. “Sebenarnya hal ini sudah merupakan best practices semenjak reksa dana saham itu ada. Tapi memang tidak seragam dilakukan oleh semua manajer investasi. Kami ingin mereka lebih fair demi kebaikan industri,” ungkap Prihatmo. 
Setiap manajer investasi, lanjut dia, memang memiliki strategi tertentu dalam meracik saham-saham sebagai underlying asset. 
Namun, dia enggan menanggapi adanya praktik manajer investasi yang menggunakan saham-saham ‘gorengan’ sebagai underlying asset. 
“Setiap manajer investasi punya paper work masing-masing. 
Sepanjang mereka tidak melanggar aturan yang berlaku dan sesuai good corporate governance, kami menghormati keputusan mereka,” jelas Prihatmo. 
Reksa Dana 
Sementara itu, dewan APRDI mendukung langkah-langkah yang telah dilakukan oleh OJK, dalam hal penegakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Asosiasi juga berharap permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini tidak menyurutkan minat investor untuk tetap berinvestasi di reksa dana. Kisruh dan skandal yang terjadi pada industri reksa dana terjadi karena ada manajer investasi yang menawarkan reksa dana saham dengan imbal hasil yang telah ditetapkan di depan (fixed). Reksa dana ini sebagian underlying asset-nya adalah saham gorengan. Ketika harga saham gorengan itu jatuh dan terjadi redemption, manajer investasi juga ikut menjual saham-saham big caps yang menjadi underlying asset. 
Inilah yang memicu kejatuhan indeks harga saham. 
Lebih runyam lagi, sejumlah produk reksa dana yang menyalahi aturan tersebut ditutup OJK, sehingga memicu terjadinya aksi jual paksa (forced sell) saham-saham yang menjadi underlying asset. 
Ada juga MI yang nakal menggunakan skema margin. 

Fixed Income Cemerlang 


Berdasarkan data Infovesta, kinerja reksa dana kelompok fixed income masih menunjukkan kinerja cemerlang, yang disusul oleh kelompok pasar uang, baik secara tahunan (year to date/ytd) ataupun bulanan (Month over month/MoM). Sementara reksa dana kelompok saham yang paling anjlok. Hal ini tercermin pada indeks-indeks racikan Infovesta. Selama perode 31 Desember 2018-29 November 2019, kinerja Infovesta Fixed Income Fund Index 90 mengalami penguatan 10,31%, Infovesta Government Bond Index 9,38%, Infovesta Corporate Bond Index 6,31%, Infovesta Money Market Fund 90 naik 5,34%, dan Infovesta Balanced Fund Index 90 naik 0,54%. Sementara Infovesta Equity Fund Index 90 mengalami penurunan hingga 11,44%, seiring kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terdepresiaasi 2,95% hingga 29 November 2019. Data Infovesta juga menunjukkan, total AUM per November mencapai Rp 534,57 triliun, turun 1,41% dari posisi akhir Oktober Rp 542,22 triliun. Dari situ, total AUM pada kelompok reksa dana saham anjlok 6% menjadi Rp 135,21 triliun, dari Rp 143,96 triliun. Reksa dana saham merupakan jenis reksa dana dengan nilai AUM terbesar kedua. Penyumbang AUM terbesar pertama adalah jenis reksa dana terproteksi yang mencapai Rp 146,74 triliun per akhir November 2019, naik 2,1% dari Rp 143,72 triliun per Oktober 2019. 
Prihatmo mengatakan, jika dilihat dari total AUM, posisi Indonesia masih berada di nomor dua dari bawah di antara negara-negara Asia Tenggara. Lebih tepatnya, masih kalah sedikit dibanding Vietnam. 
Di sisi lain, jumlah manajer investasi (MI) di Tanah Air tarsus bertambah dan persaingan juga kian ketat. Saat ini, sejumlah manajer investasi asing diperkirakan masih mengantre masuk ke pasar Indonesia. 

Cermat dan Kritis 
Pada kesempatan sama Wakil Ketua I Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Hanif Mantiq mengakui, jika ada koreksi yang terlampaui jauh pada sebuah produk reksa dana saham, maka bisa dipastikan ada pengelolaan yang salah pada manajer investasi tersebut. Selain itu, praktik berutang atau skema margin juga sama sekali tidak diperbolehkan dalam pengelolaan reksa dana. Hanif memperkirakan, produk reksa dana fixed income masih menjadi yang terfavorit pada tahun depan. Pasalnya, masih ada ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, dan tawaran return yang lebih baik dibanding kelompok reksa dana lain. “Sedangkan untuk reksa dana saham, sebetulnya bergerak konsolidasi dalam dua tahun terakhir karena periode pemilu. Tahun depan, kita harapkan ada kenaikan kinerja,” jelas dia. Ketua Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia Ari Adil menambahkan, adanya kisruh di industri reksa dana yang terjadi belakangan bisa menjadi momentum bagi investor untuk bersikap kritis. Investor disarankan menanyakan strategi investasi dan metode pemilihan portofolio efek yang dilakukan manajer investasi. “Membaca dan memahami dokumen prospektus juga disarankan sebelum membeli reksa dana. Dan jangan mudah tergiur dengan janji imbah hasil yang pasti,” kata dia. 
Upaya OJK 
Secara terpisah, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan, pihaknya hingga saat ini masih dalam tahap proses penyelesaian kasus yang menimpa Minna Padi Asset Manajemen, Narada Aset Manajemen, serta Pratama Capital. “Kami masih memantau, penyelesaiannya ini masih dalam proses pemantauan,” ujar dia. Hoesen menambahkan, pihaknya juga masih menelusuri berapa besar dana investasi investor yang perlu dikembalikan oleh salah satu manajemen investasi, yakni Minna Padi. “Saya belum tahu persisinya berapa, produk mereka (Minna Padi) yang dilikuidasi ada enam produk,”ungkapnya. (hg) Sumber : Investor Daily

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul "Industri Reksa Dana Pulih Tahun Depan"
Penulis: Farid Firdaus

Read more at: https://investor.id/market-and-corporate/industri-reksa-dana-pulih-tahun-depan


🍉

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja indeks reksa dana campuran bergabung dengan kinerja reksa dana saham berada di zona merah pada akhir pekan lalu.
Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja indeks reksa dana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index tercatat -7,73% secara year-to-date per 17 Mei 2019. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menjadi acuannya juga anjlok 5,93%.
Berikutnya, kinerja indeks reksa dana campuran yang tercermin dalam Infovesta Balanced Fund Index ikut turun ke zona negatif sebesar -2,42%.
Hanya kinerja indeks reksa dana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta Fixed Income Fund Index dan indeks reksa dana pasar uang yang tercermin dalam Infovesta Morney Market Fund Index tercatat masih positif sebesar 1,98%.
Sementara itu, secara mingguan, sepanjang pekan lalu indeks reksa dana saham masih mencatatkan kinerja paling buruk sebesar -4,16%. Menyusul berikutnya kinerja indeks reksa dana campuran sebesar -2,79%.
Berikut reksa dana return tertinggi secara bulanan per 17 Mei 2019:
RD Saham:
Millenium MCM Equity Sektoral 29,33%
Sentra Ekuitas Berkembang 8,43%
PAN Arcadia Ekuitas Syariah Progresif 8,33%
RD Campuran:
Star Balanced 1,64%
GAP Balance Maxi Fund 0,83%
Sucorinvest Anak Pintar 0,75%
RD Pendapatan Tetap:
Simas Pendapatan Tetap Andalan 0,85%
Dana Pasti 0,70%
Insight Renewable Energy Fund 0,69%
RD Pasar Uang:
Mega Dana Lancar 4,64%
Capital Sharia Money Market 0,78%
Sucorinvest Sharia Money Market Fund 0,64%

🍏


Kamis, 05 Oktober 2023

kinerja MI Reksa Dana (2)

Per tgl 05 Oktober 2023, tren NAB pada RD BY JO, sbb : 



Pasar Modal Bugar, Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp520 Triliun

Pasar Modal Prospektif: Dana kelolaan Reksa Dana Rp 516 T (Agustus 2023)

REKSA DANA SAHAM: naek

IHSG dan Obligasi Pulih, Investasi Reksa Dana Diramal Naik pada Oktober

Kinerja seluruh reksadana akan terangkat pemulihan ekonomi

November 2020, Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp 547,84 Triliun

Berikut masing-masing reksadana yang memiliki return tertinggi secara year to date hingga 5 Maret 2021

Ini Dia 10 Manajer Investasi Terbesar Per Akhir Maret 2021

Waduh, Dana Kelolaan Reksa Dana Saham Terus Susut

Apakah reksadana terproteksi tanpa risiko? Simak penjelasan APRDI

Berikut kinerja terbaik reksadana sepanjang paruh pertama tahun 2021

Intip 10 Reksa Dana Campuran dengan Imbal Hasil Tertinggi

Semester I/2021: Simak Daftar 10 Manajer Investasi dengan Dana Kelolaan Terbesar

Dana kelolaan industri reksadana naik Rp 2,29 triliun pada Juli 2021

Hakim Batalkan Dakwaan Atas 13 MI Tersangkut Jiwasraya

Meneropong Kinerja Reksa Dana yang Berpotensi Moncer pada 2022

MSA, MDS, MGIF: kinclong saat terjepit

MI RD 2021: yang teratas

MI RD DESEMBER 2021: terbesar neh

AUM MI : RD naek

AUM TURUN: profit taking RDS Feb 2022

AUM Manulife: turun

Nilai Kelolaan RD di atas Rp 1 T: 87 produk RD

Reksa Dana ESG: lampaui tren IHSG

Tren RD YANG JO inves dalam periode Pandemi 240320-291021: 


Tren RD yang JO inves dalam periode Pandemi 2020-2021: 


JAKARTA, investor.id – Dana kelolaan industri reksa dana mencapai Rp 503,2 triliun per 31 Juli 2020, meningkat 4,3% dibandingkan per 30 Juni 2020 yang senilai Rp 482,5 triliun. 

Sementara itu, tren penguatan indeks reksa dana saham selama Juli berlanjut. Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, posisi dana kelolaan industri reksa dana yang kembali menembus Rp 500 triliun per akhir Juli, lebih cepat dari perkiraan semula. 

Selain terbantu oleh penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) maupun obligasi, posisi tersebut juga mencerminkan kepercayaan investor yang menempatkan investasinya pada reksa dana. “Awalnya, kami perkirakan baru bisa kembali ke posisi Rp 500 triliun pada kuartal IV, tapi ternyata lebih cepat karena Juni-Juli pun IHSG sudah menguat cukup banyak,” kata Wawan kepada Investor Daily, Senin (3/8). Adapun data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, dana kelolaan sempat 

  • mencapai Rp 537,3 triliun pada akhir Januari 2020, 

  • kemudian menjadi Rp 525,2 triliun pada akhir Februari, 

  • lalu turun signifikan menjadi Rp 471,87 triliun akibat pandemi Covid-19 pada akhir Maret. Selanjutnya, secara perlahan naik tipis menjadi Rp 475,6 triliun pada April dan 

  • tak banyak bergerak pada akhir Mei pada posisi Rp 474,2 triliun. 

Sementara itu, data Infovesta menunjukkan, indeks reksa dana saham masih menjadi jawara dalam hal mencetak tingkat pengembalian (return) investasi secara bulanan dibandingkan reksa dana jenis lain. Indeks reksa dana saham menguat sebesar 2,98% selama Juli. Penguatan tersebut diakui tidak sebanyak penguatan IHSG yang hampir 5%. “Hal ini kemungkinan karena reksa dana saham cenderung mencerminkan penguatan saham-saham blue chips, sedangkan IHSG mencerminkan seluruh saham, termasuk kontribusi dari kenaikan saham-saham second liner,” jelas Wawan. Secara bulanan, terdapat 134 produk reksa dana saham yang memberikan return mulai dari 5,13% hingga tertinggi 24,28%. Jika diseleksi lagi, setidaknya terdapat 12 produk reksa dana saham yang mampu mencetak return di atas 9%. Selama Januari-Juli, indeks reksa dana saham masih terkoreksi 19,8%, sedikit lebih dalam dibandingkan koreksi IHSG yang sebesar 18,25%. Menurut Wawan, IHSG diprediksi masih dapat menguat, meskipun berakhir negatif 15% jika dibandingkan tahun lalu. Pihaknya memprediksi, IHSG bertengger pada level 5.400-5.500 pada akhir tahun ini. Pendapatan Tetap Selama Januari-Juli, indeks reksa dana pendapatan (fixed income) tetap memimpin dengan mempertahankan return sebesar 4,43%. Return jenis reksa dana ini diperkirakan positif hingga menembus level 7%-8% hingga akhir 2020. Proyeksi tersebut dengan asumsi masih terjadinya penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Selain itu, faktor kembali masuknya investor asing ke pasar obligasi, khususnya Surat Utang Negara (SUN). Adapun indeks reksa dana pendapatan tetap mengalami kenaikan 1,97% secara bulanan. Dalam daftar 10 produk teratasnya, kelompok reksa dana ini menghasilkan return antara 3,17%-5,14% secara bulanan. Tak ketinggalan, indeks reksa dana campuran dan pasar uang masing-masing mencetak kenaikan 2,43% dan 0,39% secara bulanan. Secara terpisah, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, pihaknya menangkap peluang ke depan dengan rencana peluncuran dua hingga tiga produk reksa dana terproteksi, yang memiliki underlying asset obligasi korporasi. “Kami melihat reksa dana terproteksi masih punya pasar. Sebetulnya resiko utama produk ini adalah gagal bayar korporasi. Oleh karena itu, kami akan mencari obligasi dengan peringkat dan perusahaan yang bagus supaya investor nyaman,” jelas dia. Rudiyanto menambahkan, pihaknya juga menaruh optimisme pada pasar saham lantaran posisi wajar IHSG masih di sekitar 5.500-6.000. Kalaupun ke depan pasar saham bergerak volatile dan terjadi koreksi, hal ini dapat menjadi momentum untuk akumulasi beli pada sejumlah saham dengan valuasi menarik.

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul "Dana Kelolaan Reksa Dana Kembali Tembus Rp 500 Triliun"

Read more at: http://brt.st/6GrK

🍉


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil beranjak dari zona merah dan ditutup menguat pada akhir penutupan pekan lalu. IHSG tercatat tumbuh sebesar 1,42% dalam sepekan kemarin. Dengan kinerja positif IHSG, kinerja reksadana pun juga hampir semuanya catatkan kinerja positif.

Berdasarkan data Infovesta Utama yang dikeluarkan, Senin (29/6), tercatat hanya reksadana pendapatan tetap yang ditorehkan kinerja negatif dalam sepekan terakhir. Sementara reksadana berbasis saham dan reksadana pasar uang berhasil catatkan kinerja positif.

Reksadana saham merupakan reksadana dengan kinerja paling mentereng setelah berhasil tumbuh sebesar 0,52%. Kemudian disusul oleh reksadana campuran yang juga tumbuh 0,32%.

Baca Juga: Jika investor reksadana belum redemption, itu baru sebatas potensi rugi

Lalu reksadana pasar uang catatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,08% pada sepekan kemarin.

Sementara reksadana reksadana pendapatan tetap justru mencatatkan kinerja negatif setelah terkoreksi tipis 0,05% dalam sepekan kemarin. Padahal, obligasi pemerintah dan obligasi korporasi berhasil catatkan kinerja positif yang masing-masing tumbuh 0,05% dan 0,12%

Berikut masing-masing reksadana yang memiliki return tertinggi secara year to date hingga 3 Juli 2020, 

  • Reksadana saham: Pacific Equity Optimum Fund tumbuh 12,34%. 
  • Reksadana campuran: SAM Mutiara Nusa Campuran tumbuh 17,71%.
  • Reksadana pendapatan tetap: Mandiri Investigasi Obligasi Nasional tumbuh 6,74%
  • Reksadana pasar uang: Mega Dana Kas tumbuh 3,59%
  • Reksadana indeks & ETF: ABF IFI Fund tumbuh 3,07%
  • Reksadana pendapatan tetap USD: MNC Dana Dollar tumbuh 3,97%.

🍊
Bisnis.com, JAKARTA — Dana kelolaan sejumlah manajer investasi terbesar di Indonesia ikut terkerek seiring tren pasar yang positif sepanjang April 2020 lalu.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per akhir April 2020, PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen masih menduduki posisi pertama sebagai manajer investasi dengan dana kelolaan atau asset under management (AUM) terbesar.
Per akhir April 2020, Batavia Prosperindo tercatat membukukan AUM sebesar Rp42,062 triliun, naik tipis dibandingkan AUM bulan sebelumnya yang sebesar Rp41,605 triliun. Adapun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, AUM perseroan juga tak begitu jauh yakni Rp41,769 miliar.
Di posisi kedua, PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) menempel ketat Batavia Prosperindo dengan perbedaan AUM hanya sekitar Rp10 miliar saja yakni Rp42,052 triliun. Pencapaian MMI di April juga lebih baik dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai Rp40,159 triliun.
Kemudian pada posisi ketiga ada PT Bahana TCW Investment Management yang membukukan AUM sebesar Rp38,249 triliun. Angka tersebut tak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya yang sebesar Rp38,271 triliun.
Sayangnya, jika dibandingkan secara year on year, dana kelolaan MMI dan Bahana TCW pada April tahun ini tercatat lebih rendah daripada bulan yang sama tahun lalu yakni masing-masing membukukan AUM Rp42,108 triliun dan RP40,207 triliun.
Sementara jika dilihat kinerja sepanjang tahun berjalan, dana kelolaan ketiga MI teratas ini kompak masih lebih rendah dibandingkan akhir 2019 lalu yang mencapai Rp47,147 triliun (Batavia Prosperindo), Rp44,982 (MMI) dan Rp40,965 (Bahana TCW).
Mengekor ketiganya, ada PT Schroder Investment Management Indonesia dan PT Manulife Asset Management. Keduanya juga sama-sama mencatatkan kenaikan AUM pada April lalu yakni menjadi Rp32,235 triliun dan Rp30,780 triliun dari besaran AUM bulan sebelumnya yang sebesar Rp31,363 triliun dan Rp28,904 triliun.
Kemudian ada manajer investasi pelat merah PT Danareksa Investment Management (DIM) yang memiliki AUM Rp24,773 triliun, naik dari bulan sebelumnya yang sebesar Rp22,585 triliun. Secara yoy, kenaikan DIM paling signifikan yakni 33,73 persen dari yang semula Rp18,524 triliun.
Selanjutnya ada PT Sinarmas Asset Management (Sinarmas AM), PT Syailendra Capital (Syailendra), dan PT BNI Asset Management (BNI AM) yang dana kelolaannya kompak turun tipis dibandingkan bulan sebelumnya.
Dana kelolaan Sinarmas AM turun dari Rp21,585 triliun menjadi Rp21,416 triliun, sedangkan AUM Syailendra menyusut dari Rp20,536 triliun menjadi Rp20,230 triliun. Sementara dana kelolaan BNI AM menjadi Rp20,091 triliun dari yang sebelumnya Rp20,218 triliun.
Sebaliknya, MI yang berada di posisi kesepuluh yakni PT Eastpring Investment Indonesia tercatat membukukan kenaikan AUM dari yang semula Rp18,417 triliun per akhri Maret 2020 menjadi Rp18,892 triliun di akhir April 2020.
10 Manajer Investasi dengan Dana Kelolaan Tertinggi per April 2020
Manajer Investasi AUM April 2020AUM Maret 2020AUM April 2019
Batavia Prosperindo Aset ManajemenRp42,062 Rp41,605Rp41,769
Mandiri Manajemen InvestasiRp42,052 Rp40,159Rp42,108
Bahana TCW Investment ManagementRp38,249 Rp38,271Rp40,207
Schroder Investment Management IndonesiaRp32,235Rp31,363Rp42,767
Manulife Aset Manajemen IndonesiaRp30,780Rp28,904Rp29,756
Danareksa Investment ManagementRp24,773Rp22,585Rp18,524
Sinarmas Asset ManagementRp21,416Rp21,585Rp23,052
Syailendra CapitalRp20,230Rp20,536Rp18,484
BNI Asset ManagementRp20,091Rp20,218Rp17,140
Sumber: OJK
Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan kenaikan AUM reksa dana utamanya dipengaruhi oleh positifnya pergerakan pasar di pertengahan hingga akhir April sehingga mendongkrak valuasi aset reksa dana.
Selain itu, pada bulan yang sama juga aksi penarikan dana oleh investor turun drastis dibandingkan dengan bulan sebelumnya sehingga dana kelolaan lebih terjaga.
Dia memprediksi AUM reksa dana dapat kembali naik di bulan Mei ini jika kondisi pasar stabil dan kembali menunjukkan sinyal positif seperti bulan lalu.

“Selama pasar baik saya rasa masih akan naik lagi AUM-nya ya,” ujar Wawan.
🍓


Merdeka.com - Fenomena menarik terjadi di dunia e-investasi Indonesia. Di tengah ambruknya pasar saham dan finansial global, total dana kelolaan (Asset Under Management, AUM) marketplace financial Bareksa justru masih terus bertumbuh.Menurut data, total AUM Bareksa per 15 Maret 2020 sudah tembus melebihi Rp2 triliun, melesat 20 persen dibanding akhir 2019.
"Jika dibandingkan dengan angka bulan lalu di saat pandemi virus Corona menghancurkan bursa saham di berbagai belahan dunia. AUM Bareksa masih melonjak 12 persen. Padahal, IHSG dalam periode yang sama ambrol 17 persen," ujar kata Co-founder atau CEO Bareksa, Karaniya Dharmasaputra, Jakarta, Senin (16/3).
Peningkatan AUM ini didorong nilai subscription (pembelian) reksa dana selama satu bulan terakhir termasuk Sukuk Ritel (SR 012) yang diterbitkan Pemerintah RI juga menguat 48 persen dibandingkan periode sama bulan sebelumnya. Selain itu, jumlah nasabah Bareksa pun terus bertumbuh, sudah mencapai 800.000 atau sekitar 42 persen dari jumlah investor reksa dana di Indonesia.

"Jika tren ini berlanjut, ini merupakan fenomena penting yang menunjukkan potensi fintech di area e-investasi bukan hanya untuk melakukan pendalaman tapi juga stabilisasi market di masa-masa mendatang khususnya di saat terjadi guncangan besar di dunia keuangan Indonesia. Bersama-sama pemain lainnya, Bareksa siap ikut membantu pemerintah dan OJK dalam meredam dampak pandemi Covid-19 di pasar keuangan kita," jelasnya.
🍒


Bisnis.com, JAKARTA - Total dana kelolaan industri reksa dana nasional menunjukkan penurunan dalam periode tahun berjalan (year to date). Namun, di tengah kondisi tersebut, para manajer investasi jumbo terus bertahan dan menunjukkan kelasnya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai aktiva bersih industri per 28 Februari 2020 tercatat Rp525,27 triliun, turun 3,1 persen secara year to date dibandingkan posisi akhir Desember 2019 yang mencapai Rp542,19 triliun.
Sementara itu, jika dibandingkan dengan Januari 2020, NAB per akhir Februari turun 2,23 persen.Rekor total NAB tertinggi secara industri terjadi pada Oktober 2019 yang mencapai Rp553,26 triliun. 
Setelah terdampak oleh sejumlah kasus yang melilit sejumlah manajer investasi, sejak awal tahun ini industri reksa dana juga terpapar gejolak pasar modal yang disebabkan oleh kasus Jiwasraya dan merebaknya wabah virus corona atau Covid-19.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat telah turun 18,18 persen dalam tahun berjalan. Bahkan, indeks sempat ambruk hingga 6,58 persen pada perdagangan Senin (9/3/2020) atau terendah sejak 27 Desember 2016. Tak ayal, nilai aktiva bersih industri reksa dana juga menyusut. 
Namun, di tengah kondisi ini ternyata kinerja manajer investasi besar tercatat stabil, sebagian besar malah membukukan kenaikan NAB. 
Berikut nilai aktiva bersih 5 MI terbesar di Indonesia per akhir Februari 2020 dibandingkan dengan NAB per Desember 2019:
  • Batavia Prosperindo Aset Manajemen dengan dana kelolaan Rp47,00 triliun atau turun tipis 0,34 persen dari Rp47,16 triliun
  • Mandiri Manajemen Investasi yang tercatat mengelola Rp45,40 triliun atau naik 0,93 persen dari Rp44,98 triliun
  • Bahana TCW Investment Management mencatatkan dana kelolaan sebesar Rp41,34 triliun, juga naik tipis 0,92 persen dari sebelumnya Rp40,96 triliun.
  • Schroders Investment Management Indonesia dengan AUM sebesar Rp36,64 triliun atau turun 10,01 persen dibanding akhir 2019 yang mencapai Rp40,72 triliun.

  • Manulife Aset Manajemen Indonesia memiliki dana kelolaan sebesar Rp31,35 triliun, naik 5,55 persen dari Rp29,7 triliun.
🍈

Ekses skandal Jiwasraya mengarah ke berbagai pihak. Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono ikut bersuara. Yudhoyono meminta skandal tersebut diusut. Kejaksaan juga sedang mengarahkan mata kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Banyak pihak saat ini sedang menyuarakan OJK dibubarkan. Sedangkan Presiden Jokowi mengedepankan ‘reformasi total lembaga keuangan non bank’. OJK lahir tahun 2011 melalui UU No 21/2011, menggantikan tugas dan fungsi pengawasan sektor keuangan yang sebelumnya dalam kewenangan Bank Indonesia dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Ruang lingkup OJK adalah seluruh lembaga keuangan seperti perbankan, pasar modal, dan lembaga keuangan nonbank. OJK adalah lembaga independen, bebas dari intervensi saat melaksanakan tugas dan kewenangannya. Hal ini sejalan dengan misi awal pembentukan lembaga itu. Pertama, agar kegiatan di sektor jasa keuangan terselenggara dengan teratur, adil, transparan, dan akuntabel. Kedua, mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh berkelanjutan dan stabil. Ketiga, melindungi kepentingan masyarakat. OJK lahir di tengah stigma BI gagal mengawasi perbankan saat krisis ekonomi 1998. BI dinilai tidak mampu mengawasi perbankan sehingga berujung bailout sebesar Rp 640 triliun. BI sekarang fokus pada bidang moneter, pembayaran serta inflasi. OJK diharapkan menjadi regulator dan pengawas terintegrasi sektor jasa keuangan yang lebih baik dari BI dan Bapepam-LK. Ingat, OJK lahir menggantikan tugas dan kewenangan sektor keuangan dari Bapepam-LK. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Bapepam-LK telah mencium kerugian Jiwasraya sejak 2004. Saya menengarai skandal Jiwasraya berawal dari ‘defisit equitas’. Laporan Keuangan 31 Desember 2006, defisit equitas Jiwasraya dilaporkan sebesar Rp 3,2 triliun. Defisit berlanjut ke 2008 sebesar Rp 5,7 triliun. Jaksa Agung RI dalam pernyataannya Rabu 18 Desember 2019 memperkirakan kerugian negara akibat skandal Jiwasraya lebih dari Rp 13,7 triliun. OJK terkesan defensif. Pejabat OJK mengklaim sudah mengetahui kondisi keuangan Jiwasraya bermasalah sejak Januari 2018. “Sekarang yang terjadi di Jiwasraya mungkin ada seperti ini. Itu biasa seperti itu. Selama ini kan Jiwasraya juga enggak ada masalah,” kata Riswinandi, kepala eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, di sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018. OJK menilai kasus gagal bayar Jiwasraya karena pemegang saham tidak mampu mengawasi tata kelola perusahaan. “OJK bukan dalam konteks membela diri, tapi yang pertama harus mengatasi masalah itu kan pemilik,” ujar Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis OJK Anto Prabowo, Selasa 28 Januari 2020. Faktor Penting Standar mengukur kesehatan perusahaan asuransi adalah tingkat solvabilitas. Minimum solvabilitas 120%, diatur Peraturan Menteri Keuangan No 53/ 2012. Perhitungan solvabilitas memasukkan sejumlah faktor penting. Pertama, kegagalan pengelolaan aset. Kedua, ketidakseimbangan antara proyeksi arus aset dan liabilitas. Ketiga, ketidakseimbangan antara nilai aset dan liabilitas dalam setiap jenis mata uang. Kempat, perbedaan antara beban klaim yang terjadi dan yang diperkirakan. Kelima, ketidakcukupan premi akibat perbedaan hasil investasi yang diasumsikan dalam penetapan premi dengan hasil investasi yang diperoleh. Keenam, ketidakmampuan pihak reasuradur memenuhi kewajiban membayar klaim. Ketujuh, kegagalan dalam proses produksi, ketidakmampuan sumber daya manusia atau sistem berkinerja baik, atau adanya kejadian lain yang merugikan. Dengan defisit equitas Rp 3,2 triliun tahun 2006, dipastikan solvabilitas Jiwasraya jauh di bawah 120%. Jiwasraya tidak sehat. Defisit equitas pasti telah dilaporkan kepada otoritas dalam laporan triwulanan dan tahunan. Jiwasraya juga tentu telah menyampaikan ‘rencana penyehatan keuangan’ berdasarkan PMK No 53/2012. Rencana penyehatan harus disampaikan kepada Menteri Keuangan paling lambat 1 bulan sejak kondisi keuangan tidak sehat. Sebelum itu, rencana penyehatan ini harus mendapat persetujuan dalam rapat umum pemegang saham. Langkah penyehatan harus memuat minimal salah satu dari enam langkah berikut. Pertama, restrukturisasi aset dan/atau liability. Kedua, penambahan modal disetor. Ketiga, pemberian pinjaman subordinasi. Keempat, peningkatan tarif premi. Kelima, pengalihan portofolio pertanggungan. Keenam, penggabungan badan usaha. Peran OJK Dalam catatan sebelumnya di sebuah media nasional, penulis tidak menyalahkan penerapan solvabilitas. Solvabilitas adalah aturan yang sangat membantu pelaku industri asuransi mendeteksi kesehatan keuangannya. Problemnya adalah pada pelaksanaan di industri asuransi dan kontrol dari otoritas. Akhir 2019, kerugian Jiwasraya membengkak menjadi Rp 13,7 triliun. Peran OJK patut dipertanyakan. OJK adalah lembaga independen yang berperan sebagai regulator sekaligus pengawas. Betul, ada Peraturan OJK No 73/2016 tentang Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Perasuransian. Ketika Laporan Keuangan Jiwasraya 2006 menunjukkan defisit, artinya ada yang salah dengan tata kelola. Bagaimana fungsi pengawasan OJK? Paling kurang ada sejumlah kekeliruan. Pertama, OJK abai dan lemah dalam pengawasan atas defisit equitas. Kedua, langkah memberikan izin produk JP Saving Plan. Produk ini memberikan ‘return guarantee’ di atas 9%, benefitnya pun dapat diambil setiap tahun. Hemat saya ini merupakan kelalaian yang berujung kerugian sebesar Rp 13,7 triliun. Bagaimana bisa, perusahaan dengan kondisi ‘kanker stadium empat’ dipaksa lari maraton. Ketika equitas defisit, hanya ada dua opsi penyelesaian masalah. Opsi pertama yaitu izin dibekukan oleh OJK atau opsi kedua, yakni upaya penyehatan di bawah monitor OJK. Kedua opsi ini harus atas persetujuan Menteri Keuangan melalui OJK. OJK, Menteri BUMN sebagai pemilik perusahaan, dan Menteri Keuangan menghindari opsi pertama. Sehingga ditempuh cara ‘rencana penyehatan’. Rencana penyehatan har us memuat salah satu dari enam langkah di atas. Rencana penyehatan harus ditandatangani seluruh direksi dan dewan komisaris dalam RUPS. Melalui OJK, rencana penyehatan tersebut wajib mendapat ‘pernyataan tidak keberatan’ dari Menteri Keuangan dalam 14 hari setelah disetujui dalam RUPS. Laporan pelaksanaan rencana penyehatan wajib diserahkan kepada Menteri Keuangan melalui OJK tanggal 15 bulan berikutnya. Menteri Keuangan dapat memerintahkan pengalihan portofolio pertanggungan bila rasio solvabilitas masih di bawah 120%. Kemudian perusahaan dapat dikenakan sanksi peringatan sampai pencabutan izin usaha, bila solvabilitasnya di bawah 40%. Hasilnya, semua kita tahu, Jiwasraya diambang rugi Rp 13,7 triliun. Reformasi OJK Berbagai kalangan menghendaki OJK dibubarkan. Hemat saya, OJK harus dipertahankan. Pembubaran OJK akan memakan waktu dan menguras energi. Keberadaan OJK telah melalui proses panjang, kajian akademik, dan uji publik. Kalau ada kelemahan OJK, selayaknya di-review. OJK adalah anak kandung reformasi. Keberadaannya pun sesuai UUD 1945. Dapat dipahami, banyak kalangan dan DPR kecewa atas kinerja OJK. Hemat saya, suara membubarkan OJK adalah keputusan emosional yang malah melahirkan persoalan baru. Jika OJK hendak dibubarkan, UU tentang BI pun harus diubah. Apakah DPR juga telah memikirkan dampaknya terkait stabilitas perekonomian nasional? Dalam konteks skandal Jiwasraya, DPR melalui komisi terkait yang bermitra dengan OJK perlu membentuk tim independen yang beranggotakan pakar, praktisi perasuransian, dan pihak-pihak berkompeten mengevaluasi kinerja OJK dalam mengambil langkah-langkah strategis menyelamatkan Jiwasraya. Tim ini penting menghindari konflik kepentingan sekaligus menjaga wibawa DPR sebagai institusi yang dipercaya. Dalam hubungan dengan keberadaan OJK, DPR sebaiknya mengkaji implementasi UU tentang OJK dan mengevaluasi kinerja OJK. Hal ini sejalan dengan pernyataan Presiden Jokowi yang menginginkan ‘reformasi total lembaga keuangan nonbank’. Reformasi SDM OJK khususnya di sektor industri keuangan nonbank perlu dipertimbangkan. Dengan demikian, sektor jasa keuangan bisa terselenggara secara teratur, adil, transparan, akuntabel, dan mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil serta mampu melindungi kepentingan konsumen. *) Praktisi Asuransi Sumber : Investor Daily

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul "OJK dan Skandal Jiwasraya"
Penulis: Bernard Limalaen Krova *)
Read more at: https://investor.id/opinion/ojk-dan-skandal-jiwasraya

🍏

Sentul detik- 
Setidaknya terdapat 800 rekening dari 137 perusahaan yang diblokir oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan Hoesen menjelaskan, pemblokiran ini merupakan bagian dari upaya pemeriksaan perkara Jiwasraya yang tengah dijalani Kejagung bekerja sama dengan OJK.
"Dalam proses penyidikan dan pununtutan itu ada yang namanya asset inspection (pemeriksaan aset). Dalam asset inspection ada isu aset blokir. Aset blokir karena ada proses penyidikan," ujar dia ditemui di Kawasan Sentul, Jawa Barat, Sabtu (15/2/2020).

Terpisah, Pakar Asuransi Hotbonar Sinaga memandang bahwa langkah pemblokiran rekening pada beberapa perusahaan sekuritas dan asuransi berpotensi menimbulkan dampak yang serius.

"Apabila rekening tersebut terus diblokir ya tentu akan berpotensi menjadi sistemik," jelas Hotbonar.
Efek sistemik yang dimaksud adalah efek berantai imbas pemblokiran rekening efek oleh Kejagung. Lantaran rekening efeknya diblokir, pemilik akun rekening efek jadi tak bisa mencairkan dananya.
Bila pemilik rekening efek yang diblokir merupakan perusahaan asuransi, maka perusahaan itu bisa mengalami gagal bayar klaim asuransi. Hal itu setidaknya tercermin dari gagal bayar yang dialami Asuransi WanaArtha Life.
"Nasabah kalau terus didiamkan terlalu lama kan kasihan juga. Hal ini juga akan memicu resiko sistemik," papar Hotbonar.

Ia menambahkan, otoritas terkait seharusnya segera membuka rekening yang tidak ada sangkut paut dengan kasus besar yang sedang berlangsung.

"Perusahaan sekuritas dan asuransi harus segara berdiskusi dengan OJK mengenai langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan," tambahnya.

Setidaknya terdapat 800 rekening dari 137 perusahaan yang diblokir oleh Kejagung. Banyak dari rekening tersebut berasal dari perusahaan sekuritas dan mayoritas dari perusahaan tersebut tidak mengetahui duduk perkara rekening mereka diblokir.

Hal ini tentu saja membuat nasabah tidak dapat menarik dananya. Hotbonar menambahkan, penting agar rekening yang diblokir dapat segera dibuka.

"Nasabah juga dapat berkonsultasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)" tambahnya.


🍏

TEMPO.COJakarta - PT Kresna Asset Management (KAM) angkat bicara soal isu yang berkembang belakangan ini yang menyebutkan perusahaan gagal bayar untuk produk reksa dananya. Hal ini ditengarai karena terimbas kasus yang membelit PT Asuransi Jiwasraya (Persero).  
Terkait hal tersebut, PT Kresna Asset Management menegaskan saat ini semua produk reksa dana yang dikeluarkan perusahaan sama sekali tidak pernah dalam keadaan gagal bayar. “Karenanya, kami tegaskan berita tersebut (soal gagal bayar) adalah tidak benar dan tidak sesuai fakta yang ada,” seperti dikutip dari siaran pers manajemen KAM, Kamis, 13 Februari 2020.
Selain itu, dalam pernyataan tertulisnya, KAM juga memastikan tidak terkait dengan kasus Jiwasraya. "Segala informasi yang mengaitkan keterlibatan KAM dengan perusahaan asuransi tersebut adalah tidak benar."
Perusahaan juga menyampaikan produk reksa dana yang sudah diterbitkan dapat ditransaksikan, termasuk pencairan atau redemption. Tak hanya itu, KAM menegaskan tidak pernah menerbitkan surat utang jangka menengah atau MTN.
Manajemen berharap masyarakat mendapatkan informasi yang benar agar tidak terjadi lebih lanjut informasi yang dapat merupakan KAM.
Terkait hal ini, Deputi Komisioner Humas dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Anto Prabowo menyebutkan kegiatan operasional Kresna Asset Management dan Kresna Life masih berjalan normal. "Tidak terkait dengan upaya penelusuran aset atau rekening oleh pihak Kejaksaan Agung," katanya.
Sebelumnya, Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah memastikan rekening yang diblokir terkait dengan penyelidikan kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya akan dipisahkan untuk memudahkan penelusuran. Tercatat, sekitar 800 rekening efek terkena blokir dalam pengembangan kasus tersebut.
Adapun seluruh rekening efek yang diblokir diperoleh dari 137 perusahaan. Kebanyakan mereka yang terkena blokir tidak mengetahui duduk perkara yang sedang terjadi.
"Yang diblokir pasti ada dasar ada dasar keterkaitan. Tapi di dalam itu ada beberapa rekening yang banyak yang diblokir. Nah ini yang harus dipisahkan satu per satu, mana transaksi yang terkait langsung di tindak pidana atau yang tidak terkait tindak pidana," ujarnya dikutip dari keterangan resmi.
Febrie menuturkan semua rekening saham yang telah diblokir itu didasari adanya keterkaitan saat terjadi investasi dari Jiwasraya ke beberapa saham maupun reksa dana. Namun yang jelas, pemblokiran yang dilakukan itu sangat teknis, agar proses penyelidikan kasus korupsi di Jiwasraya bisa terbuka terang.
"Tapi ini karena pemblokiran sangat teknis yang diblokir itu sifatnya single investor identification (SID), sehingga melibatkan beberapa rekening yang harus diurut satu persatu," ucap Febrie.
Pakar asuransi Hotbonar Sinaga khawatir pemblokiran rekening dari beberapa perusahaan sekuritas dan asuransi akan memiliki dampak yang serius dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah harus menyikapi masalah tersebut dengan serius, agar bisa menghindari semua dampak buruk yang bisa saja terjadi. "Nasabah kalau terus didiamkan terlalu lama kan kasihan juga. Hal ini juga akan memicu risiko sistemik,” ucapnya.

BISNIS
🍒

Bisnis.com, JAKARTA—Penguatan IHSG pada pekan lalu ikut mendorong kinerja indeks reksa dana saham.
Berdasarkan data Infovesta Utama pada periode 6—13 Desember 2019, kinerja indeks reksa dana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index tercatat sebesar 0,08%. Adapun, IHSG sebagai indeks acuannya menguat 0,17% pada periode yang sama.
Berikutnya, indeks reksa dana campuran yang tercermin dalam Infovesta Balanced Fund Index mencatatkan kinerja sebesar -0,04%.
Di posisi terbawah, indeks reksa dana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta Fixed Income Fund Index tercatat -0,20%.
Sementara itu, kinerja indeks reksa dana pasar uang stabil 0,10%.
Secara year-to-date per 13 Desember 2019, indeks reksa dana saham menjadi satu-satunya yang berada di zona merah dengan kinerja tercatat -13,59%. Posisi ini kontras dengan IHSG yang kembali ke zona hijau dengan penguatan 0,05%.
Adapun, indeks reksa dana pendapatan tetap berada di posisi teratas dengan kinerja sebesar 8,48% dan bahkan melampaui kinerja indeks acuannya sebesar 7,82%.
Selanjutnya, kinerja indeks reksa dana campuran tercatat 0,08% dan kineja indeks reksa dana pasar uang sebesar 5,07%.
Produk Reksa Dana Saham dengan Return Tertinggi secara Bulanan (MOM)
Reksa Dana SahamReturn Bulanan (%)
Pacific Saham Syariah
33,48
Pacific Saham Syariah II
28,34
Reksa Dana Syariah Capital Sharia Equity
23,77
Produk Reksa Dana Campuran dengan Return Tertinggi secara Bulanan (MOM)
 Reksa Dana CampuranReturn Bulanan (%)
Capital Sharia Balanced
21
Pacific Balance Fund
13,64
Pacific Balance Fund III
12,45
Produk Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan Return Tertinggi secara Bulanan (MOM)
Reksa Dana Pendapatan TetapReturn Bulanan (%)
SAM Cendrawasih Fund
6,19
Insight Simas Asna Pendapatan Tetap Syariah I Asna
1,69
Pratama Pendapatan Tetap Syariah
1,55
Produk Reksa Dana Pasar Uang dengan Return Tertinggi secara Bulanan (MOM)
Reksa Dana Pasar UangReturn Bulanan (%)
Danareksa Seruni Pasar Uang Syariah
0,68
BNI-AM Dana Likuid
0,68
Mega Asset Multicash
0,65
Sumber: Infovesta Utama




JAKARTA, investor.id - Di tengah kisruh  yang terjadi pada industri reksa dana, PT Sucor Asset Management masih mampu mempertahankan kinerjanya. Bahkan, selama tahun 2019, AUM (asset under management) perusahaan melonjak lebih dua kali lipat. "Alhamdulilah, meski ada beberapa isu negatif di industri ini, perkembangan kinerja reksa sana kami masih cukup baik. AUM Sucor meningkat, dari Rp 5,7 triliun awal tahun menjadi Rp 11,7 triliun per Desember," papar Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana, menjawab Majalah Investor, pekan ini. Belakangan, industri reksa dana memang diterpa isu tidak sedap, yang cukup mengganggu perkembangan industri ini. Ada kasus gagal bayar PT Narada Aset Manajpemen yang berujung pada sanksi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) berupa penghentian penjualan (suspensi) dua reksa dana Narada. Ada kasus Minna Padi yang terkena sanksi pembubaran  6 reksa dananya. Kasus Minna Padi paling menghebohkan karena nilainya cukup besar, mencapai Rp 6 triliun. Berikutnya, ada lagi kasus reksa dana Pratama dan diperkirakan masih ada lagi kasus lain yang belum terungkap. Kasus di industri reksa dana itu antara lain dipicu adanya manajer investasi yang menawarkan reksa dana saham dengan imbal hasil yang telah ditetapkan di depan (fixed). Reksa dana ini diperkirakan sebagian underlying asset-nya berupa saham gorengan. Nah, ketika harga saham gorengan itu jatuh dan terjadi redemption, manajer investasi juga ikut menjual saham-saham big caps  yang menjadi underlying asset. Inilah yang memicu kejatuhan indeks harga saham. Tindakan OJK menutup sejumlah produk reksa dana yang menyalahi aturan itu sempat memicu terjadinya aksi jual paksa (forced sell) saham-saham yang menjadi underlying asset. Apalagi, kemudian terungkap ada  MI yang menggunakan skema margin, padahal praktik ini tidak diperbolehkan. Hal itu semakin memperburuk kondisi pasar. Terkait penilaian terhadap kinerja reksa dana yang bermasalah, Jemmy Paul mewanti-wanti para investor agar berhati-hati jika ada koreksi yang tajam pada sebuah produk reksa dana saham. "Kalau ada koreksi tajam, misalnya dalam sehari jatuh lebih dari 5%, maka bisa dipastikan ada pengelolaan yang salah pada manajer investasi tersebut," urainya. Selain itu, praktik berutang atau skema margin juga sama sekali tidak diperbolehkan dalam pengelolaan reksa dana. Masih Prospektif Jemmy memperkirakan, produk reksa dana saham masih prospektif pada tahun depan. Pasalnya, selama ini IHSG (indeks Harga Saham Gabungan) tidak pernah tumbun negatif  dua tahun berturut-turut. Pada tahun 2008 IHSG turun, tapi kemudian melesat hingga 2011. Tahun 2015 IHSG turun, tapi kemudian melesat hingga tahun 2017. Optimisme senada dikemukakan Head of Wealth Management Commonwealth Bank Ivan Jaya. Menurut dia, kepercayaan investor asing terhadap pasar modal dan pasar keuangan Indonesia masih cukup tinggi. Terbukti, ketika di pasar saham terjadi net sell dan ada gejala capital outflow, ternyata di pasar obligasi terjadi pembelian hingga Rp 110 triliun. "Ini menunjukkan bahwa sebagian dana asing hanya switching dan asing menilai investasi di Indonesia masih prospektif," ujarnya.   Sumber : Majalah Investor

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul "Di Tengah Kisruh Reksa Dana, AUM Sucor Naik Dua Kali Lipat"
Penulis: komang
Read more at: https://investor.id/market-and-corporate/di-tengah-kisruh-reksa-dana-aum-sucor-naik-dua-kali-lipat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan para manajer investasi untuk mendapatkan dana kelolaan cukup ketat, apalagi mempertahankan posisi teratas. 
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Desember 2018, Schroder Investment Management Indonesia menduduki peringkat pertama manajer investasi dengan dana kelolaan terbesar. Jumlah dana kelolaan Schroder saat itu Rp 46,29 triliun. 
Namun, posisi tersebut per Oktober 2019 digantikan oleh Mandiri Manajemen Investasi (MMI) dengan dana kelolaan mencapai Rp 44,51 triliun atau tumbuh Rp 2,47 triliun. Sementara, dana kelolaan Schroder turun Rp 5,87 triliun menjadi Rp 40,41 triliun dan ranking jadi turun ke posisi 4. 
Kepala Riset Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan persaingan manajer investasi dalam mendapatkan dana kelolaan memang cukup ketat di tengah dana kelolaan industri yang terus tumbuh. 
"Ceruk potensi dana kelolaan masih lebar, apalagi dengan banyaknya fintech dan supermarket reksadana yang menjajakan reksadana," kata Wawan, Selasa (12/11). 
Namun, secara umum para manajer investasi yang memiliki dana kelolaan jumbo biasanya karena umur perusahaan telah lama berdiri. Selain itu, mereka juga gencar mengincar investor kelas atas atau nasabah private banking melalui agen penjual banknya. 
Alhasil dana yang masuk juga jumbo. Apalagi jika manajer investasi memiliki basis investor ritel besar yang juga bisa mendukung pertumbuhan dana kelolaan. 
Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) Alvin Pattisahusiwa mengatakan strategi yang dijalankan untuk menumbuhkan dana kelolaan adalah dengan menyediakan produk reksadana yang jadi solusi bagi investor, sesuai dengan profil dan tujuan investasi. 
Selain tu, Alvin mengatakan selalu melakukan perbaikan kinerja dengan mengedepankan kualitas portofolio dan manajemen risiko. Tak kalah penting, MMI juga terus melakukan inovasi dengan meluncurkan produk baru yang belum pernah ada di pasar, seperti reksadana pasar uang dengan fasilitas T+0, maupun juga perbaikan fitur pada beberapa produk yang sudah ada. 
"Kami juga turut berpartisipasi dan melakukan edukasi untuk pentingnya melakukan perencanaan keuangan dan berinvestasi sejak dini dengan membuka kelas edukasi secara rutin," kata Alvin, Selasa (11/12). 
Di sepanjang tahun ini, Alvin mencatat produk reksadana yang menyumbang besar pada pertumbuhan dana kelolaan adalah reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. 
Di posisi kedua, dana kelolaan terbanyak ditempati oleh Batavia Prosperindo dengan dana kelolaan mencapai Rp 44,24 triliun atau naik Rp 3,9 triliun sejak awal tahun hingga Oktober.  
Senada, Direktur Batavia Prosperindo Yulius Manto mengatakan ragam produk serta kualitas kinerja reksadana yang sesuai dengan profil dan tujuan investor menjadi faktor utama penggerak dana kelolaan. 
Di Batavia 50% lebih pertumbuhan dana kelolaan yang berasal dari reksadana konvensional datang dari reksadana saham. "Kinerja reksadana saham racikan kami yang cukup kompetitif dukung pertumbuhan AUM," kata Yulius. 
Selanjutnya, PT Bahana TCW Investment menempati urutan ketiga manajer investasi dengan dana kelolaan terbesar yang mencapai Rp 42,32 triliun atau naik Rp 3,5 triliun sejak awal tahun hingga Oktober. 
Direktur Bahana TCW Investment Soni Wibowo mengatakan dana kelolaan disokong dari penerbitan reksadana penyertaan terbatas yang nilainya mencapai Rp 1 triliun dan sokongan dari reksadana saham dan pendapatan tetap. 
Soni menargetkan dana kelolaan di 2019 capai Rp 50 triliun sementara target dana kelolaan di 2020 capai RP 54 triliun. "Permintaan akan RDPT masih banyak meski suku bunga turun, begitu pun pada reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham yang  masih lanjut naik meski kecil," kata Soni. 
Sementara, Yulius mengatakan tren penurunan suku bunga memberi likuiditas dan bisa mendorong pertumbuhan dana kelolaan. Namun, jika perang dagang AS dan China tak kunjung usai, kekhawatiran perlambatan ekonomi bisa menahan pertumbuhan dana kelolaan. 
Yulius berharap di tahun 2019 dana kelolaan bisa tumbuh di kisaran 15%-20%, begitu pun di tahun 2020. 
Senada, Alvin optimis dana kelolaan akan terus tumbuh sejalan dengan bertumbuhnya literasi dan inklusi keuangan. Dari sisi prospek, AUM industri dibandingkan dengan GDP masih single digit dan dibandingkan dengan DPK perbankan juga masih 10% artinya peluang untuk tumbuh masih sangat besar. 
Sentimen positif juga datang dari bertambahnya jumlah investor reksadana yang naik 4 kali lipat sejak 2015. Selain itu, kemudahan investor untuk melakukan registrasi dan pembelian reksadana juga mendukung.  
Alvin menargetkan dana kelolaan MMI bisa capai Rp 60 triliun di akhir tahun ini dan tumbuh minimal 10% di atas rata-rata industri untuk 2020. 

🍒

JAKARTA okezone – Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) bersama dengan Refinitiv serta Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar acara “Investing in Indonesia - A Look at Quantitative Trends” pada sore ini di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh 88 perusahaan Manajer Investasi dari 91 total perusahaan yang ada di Indonesia.
Ketua Umum AMII Edward Lubis mengatakan, acara tersebut mencakup beberapa hal yaitu, tren kuantifikasi di Indonesia dan di seluruh dunia, bagaimana faktor pasar, seperti nilai, momentum, dan kualitas dapat ditingkatkan untuk menghasilkan alpha, menggunakan StarMine untuk memberikan keunggulan dalam proses investasi.
“Acara ini ditargetkan untuk manajer portofolio dan analis dan akan fokus pada tren investasi terbaru di Indonesia,” ujarnya saat ditemui di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta, Senin (17/6/2019).
Secara khusus, acara ini akan membahas perubahan ke metode penelitian yang lebih kuantitatif. Selain itu, melalui acara ini juga akan memberikan wawasan kunci tentang bagaimana perusahaan investasi dapat memanfaatkan model dan konten yang kurang dimanfaatkan untuk menghasilkan alfa dan mendorong likuiditas.
“Acara ini akan memberikan wawasan tentang bagaimana model unik dan set konten dapat membantu perusahaan investasi dalam perjalanan kuantitatif ini,” jelasnya.
Menurut Edward, dalam pencarian yang menantang untuk kinerja, perusahaan investasi semakin menggabungkan metode penelitian kuantitatif dalam proses penelitian fundamental mereka.Ketika basis pengguna yang menggunakan metode kuantitatif tumbuh dan menciptakan lebih banyak kompetisi, kebutuhan untuk mengembangkan ide-ide yang berbeda dengan kecepatan ke pasar telah menjadi penting untuk mencapai alpha.
“Kunci untuk membuka kunci alpha adalah akses ke penyedia terkemuka data yang berbeda, unik, dan berharga,” kata Edward.
(fbn)
🍉


JAKARTA ID− Total dana kelolaan (assets under management/AUM) industri reksa dana Indonesia di luar produk alternatif investasi sebesar Rp 523,5 triliun hingga 1 Maret 2019. Produk reksa dana saham dan terproteksi menyumbang hingga Rp 283,22 triliun terhadap total AUM.
Statistik pasar modal yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, total AUM industri reksa dana (di luar produk alternatif investasi) tumbuh 6,19%, dibandingkan posisi periode sama 2018 senilai Rp 492,97 triliun.
Sedangkan, secara year to date, nilai AUM industri reksa dana naik 3,58% dari posisi Rp 505,39 triliun. Hingga 15 Maret lalu, data OJK menunjukkan AUM reksa dana saham masih lebih rendah, dibandingkan reksa dana terproteksi.
“Reksa dana saham sebesar Rp 141,6 triliun dan reksa dana terproteksi sebesar Rp 140,62 triliun,” demikian dikutip Investor Daily dari statistic pasar modal OJK di Jakarta, Minggu (17/3).
Walau demikian, jarak nilai AUM reksa dana saham terproteksi semakin mengecil. Sebab, pada 15 Maret lalu, AUM reksa dana terproteksi mengungguli AUM reksa dana saham dengan menembus Rp 142,15 triliun.
Sedangkan, pada periode sama AUM reksa dana saham baru sebesar Rp 138,46 triliun.
Direktur Pengelolaan Investasi OJK Sujanto menyampaikan, pada akhir 2019 total AUM di industry reksa dana yang termasuk penyertaan terbatas (RDPT), produk berbasis kontrak investasi kolektif (KIK), dan dana investasi real estate (DIRE) sudah mencapai Rp 764 triliun.
“Nilai tersebut tumbuh signifikan jika dibandingkan posisi Rp 222 triliun pada 2014,” ujar Sujanto di Jakarta, belum lama ini.
Di samping itu, dia juga akui bahwa OJK mendata, sejak 2015 hingga akhir Februari 2019 jumlah investor pasar modal pun masih meningkat. Khusus investor reksa dana, bahkan telah tembus di atas 1 juta singleinvestor identification (SID).
Prospek Cerah
Head of Distribution Channel PT BNI Asset Management Andri Tribowo menyatakan, pihaknya memandang prospek pertumbuhan industri reksa dana di Indonesia tetap cerah. Adapun, sekarang ini kondisi fundamental Indonesia jauh lebih baik jika dibandingkan posisi pada 1998 dan 2008.
“Kemudian, berdasarkan konsensus di Bloomberg yang diikuti oleh 30 perusahaan manajemen aset global dengan dana kelolaan besar, Indonesia masuk sebagai salah satu Negara tujuan investasi favorite pada 2019,” papar Andri kepada Investor Daily.
Karena itu, BNI Asset Management positif dengan propek asset class yang ada di Indonesia, termasuk perkembangan reksa dana. Namun demikian, Andri mengingatkan, perusahaan manajer investasi juga perlu menggiatkan kerja sama distribusi untuk meraih pertumbuhan investor yang lebih baik, misalnya itu dengan mulai menggandeng perusahaan financial technology (Fintech). (dka)

🍓
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Reksadana saham yang bersifat pasif atau mengikuti indeks acuannya otomatis akan melakukan rebalancing bila Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukkan faktor free float alias jumlah saham beredar di publik sebagai penghitungan bobot indeks. Lantas, seberapa signifikan perubahan pembobotan indeks LQ45 dan IDX 30 pada reksadana berbasis saham?
Head of Investment Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan jika ada perubahan konstituen otomatis reksadana indexing dan juga Exchange Traded Fund akan melakukan rebalancing.

"Ada saham yang dilepas dan dibeli, reksadana berbasis indeks mau tidak mau memang harus rebalancing, setiap enam bulan sekali juga reksadana ini lakukan rebalancing," kata Wawan, Senin (12/11).
Wawan mengatakan jika saham yang dilepas ternyata posisinya sedang rugi maka rencana ini memberikan sentimen negatif pada kinerja portofolio reksadana saham untuk jangka pendek. Namun, Wawan mengatakan para manager investasi yang menempatkan dana ke saham yang memiliki free float besar maka portofolio mereka akan lebih likuid dan harga saham sulit dimanipulasi.
Sementara, bagi reksadana saham konvensional atau reksadana saham bersifat aktif, pengaruh perubahan pembobotan indeks ini bergantung pada eksposure reksadana tersebut pada suatu saham yang terkena perubahan pembobotan.
Rebalancing pada saham yang memiliki free float kecil memang menyebabkan tekanan jual pada saham tersebut jadi tinggi dan membuat harga saham turun. Tetapi dalam jangka panjang faktor pembobotan ini tidak akan terus menekan kinerja saham tersebut. Reksadana saham diproyeksikan kinerjanya akan positif bila memiliki portofolio saham yang fundamentalnya baik.
Wawan mengatakan investor reksadana tidak perlu panik karena perubahan pembobotan atau rebalancing pada reksadana indeks menjadi suatu hal yang biasa dilakukan. "Harga saham yang terpengaruh turun bisa ditutupi dengan saham yang memiliki kenaikan bobot dan harga akan ikut naik, jadi kalau investor sudah terdiversifikasi dalam memilih reksadana aturan tidak jadi masalah," kata Wawan.
CEO Indo Premier Investment Management (IPIM) Diah Sofianti mengatakan akan menyesuaikan pembobotan yang BEI tetapkan. "Rebalancing ini hal yang biasa, sesuai dengan peraturan OJK pengelolaan reksadana indeks, tentu kami akan melakukan rebalancing menyesuaikan komposisi konstituen dari kedua indeks yang berubah tersebut, begitu pula untuk reksadana aktif, " kata Diah, Senin (12/11).

Diah menyadari, penyesuaian ini akan menyebabkan beberapa saham yang bobotnya menurun akan mengalami koreksi. Sebaliknya, beberapa saham yang bobotnya naik akan mengalami aksi beli. Sehingga, seharusnya hal ini tidak akan berpengaruh besar dalam jangka panjang, melainkan hanya penyesuaian saat rebalancing saja.
🍓

Bisnis.com, JAKARTA — Industri reksa dana yang masih mencatatkan penurunan pertumbuhan dana kelolaan sepanjang tahun ini memaksa manajer investasi memangkas target asset under management (AUM).
Kinerja reksa dana menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi  Rabu (7/11/2018). Berikut laporannya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diolah Bisnis, pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana pada tahun ini melambat, bahkan terendah dalam 5 tahun terakhir seiring dengan bergejolaknya pasar modal.
Secara detail, hingga Oktober 2018, pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana hanya 8,34% atau mencapai Rp495,66 triliun. Sementara itu, pada periode yang sama tahun lalu, total dana kelolaan industri meningkat hingga 26,5%.
Adapun, pelaku industri reksa dana menargetkan total dana kelolaan hingga pengujung tahun mencapai Rp500 triliun atau tumbuh sebesar 9,28%. Target pertumbuhan tersebut cukup rendah, mengingat pada tahun lalu, total pertumbuhan AUM industri mencapai 35,05%.
Direktur Utama PT MNC Asset Management Frery Kojongian menjelaskan bahwa kondisi pasar modal pada tahun ini memang penuh tantangan memaksa manajer investasi juga lebih realistis dalam menetapkan target. Bahkan, MNC Asset Management merevisi ulang target AUM.
Awal tahun ini, perseroan menetapkan target AUM senilai Rp7,5 triliun yang kemudian direvisi menjadi Rp8,5 triliun pada Februari. Tak lama kemudian, perusahaan itu kembali menaikkan target AUM menjadi Rp10 triliun karena besarnya arus investasi yang masuk.
“Akan tetapi, karena kemudian banyak investor yang mencairkan dananya di reksa dana, kami harus realistis. Kami kembali ke target awal yakni pada kisaran Rp7,2 triliun hingga Rp7,5 triliun,” katanya kepada Bisnis, Selasa (6/11/2018).
Frery menjelaskan, ada dua faktor yang menyebabkan industri reksa dana melesu, yakni pelemahan kondisi pasar, terutama pasar saham dan aksi wait and see investor seiring dengan tekanan dari eksternal.
Sejak Mei, tuturnya, investor banyak memegang uang tunai sembari menunggu momentum tepat untuk kembali ke pasar modal. Dengan kata lain, tidak sedikit investor yang wait and see dan tidak melakukan switching ke instrumen investasi lainnya.
Nasib kurang beruntung dialami oleh perusahaan yang berada di bawah naung­an Yusuf Mansur, PT Paytren Aset Ma­najemen. Perusahaan tersebut terseok-seok menggapai target dana kelolaan yang dipatok sejak awal tahun.
Padahal, Paytren sempat merevisi target AUM, yakni dari Rp2 triliun pada awal tahun menjadi Rp3 triliun pada pertengah­an tahun ini. Saat ini, total dana kelolaan yang dihimpun oleh perseroan hanya Rp50 miliar.
Penyebab minimnya dana kelolaan kurang lebih sama, yakni karena investor mencairkan dana dan menunda untuk kembali masuk ke pasar karena kondisi belum mendukung.
“Kami berencana menggenjot pemasaran dengan me-review agen penjual,” kata Direktur Utama PT Paytren Asset Manajemen Ayu Widuri.
Sikap realistis juga ditempuh manajemen PT Sinarmas Asset Management. Berdasarkan catatan Bisnis, pada September 2018 perseroan menargetkan dana kelolaan senilai Rp26 triliun atau naik 36,84% dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun lalu yang senilai Rp19 triliun.
Saat ini, target yang ditentukan oleh perseroan sedikit lebih rendah yakni Rp25 triliun. “Target kami Rp25 triliun dan target itu sudah hampir tercapai saat ini,” kata Jamial Salim, Direktur PT Sinarmas Asset Management.
Namun, ada pula pengelola reksa dana yang mencatatkan kinerja lumayan baik.
PT Schroders Investment Management Indonesia misalnya, mampu menghimpun kelolaan sebesar Rp84,4 triliun, atau nyaris sama dengan posisi akhir tahun lalu.
Sempat turun pada pertengahan tahun, perseroan berhasil menaikkan kembali AUM pada semester II/2018.
“Target kami akhir tahun bisa mencapai Rp85,5 triliun, ada kenaikan dari posisi per hari ini yang sudah Rp84,4 triliun,” kata Michael T. Tjoajadi, Presdir Schroders Investment Management Indonesia.
Secara terpisah, Presiden Direktur PT Mandiri Manajemen lnvestasi Alvin Pattisahusiwa memilih optimistis. Tahun ini, perseroan menargetkan dana kelolaan senilai Rp61 triliun baik dari reksa dana maupun kontrak pengelolaan dana (KPD).
Ketua Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Prihatmo Hari Mulyanto meyakini, target dana kelolaan Rp500 triliun akan tercapai, mengingat per akhir bulan lalu total AUM telah menyentuh Rp495 triliun.

Di sisi lain, investor masih melakukan pembelian, yang terlihat dari data net subscription senilai Rp54,55 triliun pada tahun ini.
🍉

Bisnis.com, JAKARTA - Produk baru reksa dana masih akan memberondong pasar pada sisa tahun ini, kendati tingkat volatilitas di pasar modal, baik saham maupun obligasi masih cukup tinggi.
Sejauh ini, peluncuran produk baru oleh manajer investasi terpantau meningkat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, total produk baru yang hadir di industri hingga pekan ketiga Agustus 2018 mencapai 198 produk.
Jumlah tersebut naik sebesar 5,31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni sebanyak 188 produk. Tahun ini, reksa dana terproteksi masih mendominasi industri dengan 108 produk baru.
Sejumlah manajer investasi juga masih memiliki amunisi produk baru untuk diluncurkan. PT Minna Padi Aset Manajemen misalnya, yang masih memiliki dua produk baru untuk diluncurkan.
"Kami ada satu produk reksa dana konvensional dan satu produk syariah yang tahun ini akan meluncur. Ini merupakan strategi kami untuk menghadirkan produk baru," kata Fadli, Manajer Investasi PT Minna Padi Aset Manajemen kepadaBisnis, akhir pekan lalu.

Dia menambahkan, hadirnya produk baru dapat memicu investor untuk melakukan pembelian. Langkah ini juga dilakukan perseroan untuk melengkapi produk yang saat ini telah tersedia.
🍗

JAKARTA, KOMPAS.com - Kinerja reksa dana saham masih lesu di tengah ketidakpastian pasar dan peningkatan volatilitas nilai tukar rupiah. Manajer investasi pun berupaya mengantisipasi berbagai sentimen negatif yang melanda pasar agar kinerja reksa dana yang dikelolanya tetap positif. Sebagai catatan, kinerja rata-rata reksa dana saham yang tercermin pada Infovesta Equity Fund Index terkoreksi 5,22 persen (ytd) per Agustus 2018. Penurunan kinerja rata-rata reksadana saham sejalan dengan pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan yang masih minus 7,93 persen (ytd) hingga Jumat (7/9/2018). Begitu pula dengan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang terkoreksi 9,33 persen (ytd). Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi, Alvin Pattisahusiwa menyampaikan, pada dasarnya MMI selalu melakukan penyesuaian secara taktikal berdasarkan situasi yang ada di pasar ketika mengelola reksa dana saham. 

Ini Beberapa Tips dari Bahana TCW Dia menambahkan, saat ini pihaknya lebih memilih untuk menjadikan saham dari emiten berorientasi ekspor, memiliki net gearing di level yang rendah, dan tidak memiliki utang dalam denominasi dollar AS. “Alasannya adalah asumsi depresiasi nilai tukar rupiah yang masih bisa terjadi dan antisipasi naiknya suku bunga acuan BI,” ucap Alvin, Jumat (7/9/2018). Senada, Direktur Bahana TCW Investment Management, Soni Wibowo mengatakan, aset dasar portofolio reksa dana saham yang dikelola Bahana sudah berkurang dari saham yang memiliki utang dollar AS berskala besar. Pihaknya juga lebih mengandalkan saham dari emiten yang memiliki efek netral terhadap sentimen kurs rupiah namun masih memiliki potensi pertumbuhan kinerja yang tinggi. Di luar itu, pada dasarnya Bahana tidak mengubah pembobotan aset dasar dalam portofolio reksadana saham secara ekstrem. “Kami tetap melakukan pembobotan normal sekitar 90—95 persen pada saham, sedangkan sisanya dalam bentuk kas,” kata Soni. Sementara itu, Managing Director, Head Sales & Marketing Henan Putihrai Asset Management, Markam Halim berujar, pihaknya sangat menekankan pemilihan aset dasar portofolio reksa dana saham berdasarkan pertimbangan jangka panjang dan tidak mudah digoyahkan oleh sentimen sesaat. Dia pun bilang, salah satu upaya yang bisa dilakukan pihaknya ketika pasar sedang bergejolak adalah memperbanyak porsi kas atau pasar uang dalam reksa dana saham. Selain itu, HPAM juga masih percaya dengan saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip. Sebab, ketika tekanan pasar mereda, saham seperti ini akan menjadi penggerak utama IHSG sehingga potensi keuntungannya tergolong besar. Terlepas dari itu, para manajer investasi optimistis kinerja reksa dana saham masih bisa positif sebelum tahun ini berakhir. Alvin misalnya. Dengan mengasumsikan IHSG berada di level 6.200, ia memperkirakan kinerja rata-rata reksa dana saham dapat mencapai 10 persen. (Dimas Andi)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengintip Strategi MI Kelola Reksa Dana Saham di Tengah Gejolak Pasar", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/10/060800626/mengintip-strategi-mi-kelola-reksa-dana-saham-di-tengah-gejolak-pasar

Editor : Erlangga Djumena
🍉

Bisnis.com, JAKARTA - Perubahan konstituen pada sejumlah indeks saham memaksa manajer investasi untuk merombak portofolio investasi. Terutama, untuk produk reksa dana yang menggunakan underlying asset emiten dengan nilai kapitalisasi pasar cukup besar.
Head Investment Avrist Asset Management, Farash Farich menjelaskan ada dua indeks yang sering dijadikan acuan untuk produk reksa dana, yakni LQ45 dan IDX30, di mana komposisi saham keduanya juga berubah.
Menurutnya, reksa dana indeks dan exchange traded fund (ETF) akan menyesuaikan dengan saham yang masuk dan keluar. "Untuk produk lainnya juga sama, terutama terkait saham yang kapitalisasinya cukup besar," kata dia kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Dia mencontohkan saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk. (INKP) yang masuk ke dalam IDX30 selama periode Agustus 2018-Januari 2019. Ini akan mempengaruhi strategi fund manager mengingat saham INKP terus menanjak dalam beberapa bulan terakhir.
Sementara itu, fund manager juga akan melihat reksa dana lain yang menggunakan benchmark indeks terkait, apakah perubahan konstituen di benchmark tersebut berpengaruh ke potensi reksa dana baik outperform atau underperform benchmark, sehingga dilakukan rebalancing.
"Rebalancing ini penting untuk bisa outperform. Portofolio harus menyesuaikan perubahan yang diperlukan untuk menjaga tracking error terhadap indeks tetap rendah untuk reksa dana indeks dan ETF," jelasnya.
Saham-saham yang masuk ke LQ45 periode Agustus 2018-Januari 2019 adalah PT Sentul City Tbk. (BKSL), PT ELnusa Tbk. (ELSA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), PT Medcio Energi Internasional Tbk. (MEDC), dan INKP.
Kelima emiten itu menggantikan PT Global Mediacom Tbk. (BMTR), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Hanson International Tbk. (MYRX), PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON), dan PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM).
Sedangkan emiten yang masuk ke IDX30 adalah INKP, MEDC, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), dan PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP). Mereka menggantikan BMTR, PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR), PWON, dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS).
Perubahan strategi juga dilakukan oleh PT BNP Paribas Investment Partners. Selain karena adanya perubahan indeks, masih belum terangkatnya pergerakan harga saham memaksa perseroan juga mengubah strategi.
Apalagi, mayoritas produk reksa dana yang dipasarkan oleh perusahaan tersebut menggunakan underlying asset saham. Setidaknya, 50% produk reksa dana BNP Paribas menggunakan aset dasar saham.
"Ini murni karena pasar yang lemah, otomatis ada perubahan strategi investasi itu karena kami banyak produk di saham," kata Direktur and Head of Marketing PT BNP Paribas Investment Partners, Maya Kamdani.
Dia menjelaskan perubahan strategi itu akan dilakukan untuk memanfaatkan momentum. Pasalnya, di tengah menurunnya harga saham banyak investir justru mulai melakukan pembelian produk reksa dana karena harga yang terjangkau.
Ini berbeda dengan kondisi jika pasar saham menanjak, di mana banyak investor yang melakukan aksi ambil untung alias profit taking untuk masuk ke produk dengan tingkat risiko yang lebih rendah yakni reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap.
"Tren peralihan ada, tapi sejalan dengan harga yang murah ini banyak investor mulai masuk. Strategi meracik portofolio tentu akan kami sesuaikan dengan kondisi pasar," ujarnya.
🌴
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Maybank Asset Management menutup reksadana pasar uang yang bertajuk Maybank Money Market Fund 2.
Berdasarkan keterangan dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, Rabu (4/7), penutupan reksadana Maybank Money Market Fund 2 di Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu yang selanjutnya disebut S- INVEST ini efektif pada 3 Juli 2018.

Penutupan ini dilakukan berdasarkan permohonan dari Bank Kustodian PT Bank Mega Tbk dan atas surat dari Otoritas Jasa Keuangan perihal Tanggapan atas Laporan Hasil Pembubaran dan Likuidasi Reksa Dana Maybank Money Market Fund 2 dengan No. S-586/PM.21/2018 tertanggal 30 Mei 2018.

🌲
Bisnis.com, JAKARTA - Setelah sempat melejit secara signifikan, industri reksa dana nasional kembali terkoreksi. Pembelian reksa dana sepanjang bulan lalu mengalami penurunan.
Dari data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total nilai aktiva bersih (NAB) per akhir Mei lalu tercatat senilai Rp504,39 triliun. Angka tersebut turun sebesar 0,61% dibandingkan totaal NAB per akhir April yang senilai Rp507,49 triliun.
Net subscription reksa dana juga anjlok hingga 65,7%. Pada bulan lalu net subscription tercatat hanya senilai Rp5,10 triliun, terpaut sangat jauh dibandingkan capaian pada bulan sebelumnya yang mencapai Rp14,87 triliun.
Kinerja pada bulan lalu itu sangat mengecewakan, mengingat pada bulan sebelumnya baik NAB maupun net subscription berhasil mencatatkan pertumbuhan yakni masing-masing sebesar 6,42% dan 188,73%. 
Head of Investment Division PT BNI Asset Management Susanto Chandra menilai, pada bulan lalu masyarakat cenderung mengurangi porsi investasinya di industri reksa dana, dengan alasan momentum Lebaran.
"Ini karena persiapan Lebaran, sehingga alokasi dana untuk investasi terlihat menurun. Karena masyarakat perlu pengeluaran untuk kebutuhan Lebaran," katanya saat dihubungi, Selasa (5/6/2018).
Menjelang lebaran, tingkat konsumsi masyarakat memang meningkat. Hal inilah yang menurut Susanto mempengaruhi iklim investasi di pasar modal, termasuk industri reksa dana.
Penurunan ini merupakamn tren yang kerapkali terjadi menjelang Lebaran.
Namun menurutnya pada bulan depan tepatnya setelah Lebaran iklim investasi kembali normal. "Seharusnya setelah Lebaran porsi investasi dapat meningkat secara perlahan," ujarnya.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menambahkan, selain momentum Lebaran, banyaknya hari libur juga menyebabkan menurunnya pembelian reksa dana dalam satu bulan terakhir.
Kata dia, investor ritel untuk saat ini masih disibukkan dengan kegiatan liburan sejalan dengan banyaknya tanggal merah serta libur sekolah. Adapun investor institusi menunda pengambilan kebijakan karena terpangkasnya hari kerja.
"Jadi baik investor ritel maupun institusi terkena pengaruh dari momentum ini sehingga net subscription reka dana menurun," kata dia.
Adapun penurunan dana kelolaan menurutnya disebabkan karena penurunan harga saham dan obligasi pada bulan lalu. Meskipun pada pekan terakhir Mei lalu indeks harga saham gabungan (IHSG) dan obligasi sempat membaik, namun itu belum mampu mengangkat kinerja industri.
Dia meyakini, pada paruh kedua tahun ini industri reksa dana bakal menggeliat. Selain karena faktor makro ekonomi yang diprediksi membaik, iklim investasi juga akan berjalan normal karena minimnya hari libur dibandingkan semester pertama.
"Semester kedua akan bagus industri reksa dana karena minim hari libur dan kondisi ekonomi juga mendukung," harapnya.
🌳

Bisnis.com, JAKARTA— Setelah sempat mencatatkan kinerja negatif sepanjang kuartal I/2018, kinerja indeks reksa dana mulai menunjukkan perbaikan pada April ini.
Berdasarkan data Infovesta Utama yang dipublikasikan Senin (16/4), seluruh indeks reksa dana membukukan kinerja positif selama pekan lalu. Kenaikan tertinggi dicetak oleh indeks reksa dana saham yang menanjak 1,34%, setelah pada pekan sebelumnya sempat terkoreksi 0,43%.
Posisi kedua ditempati oleh indeks reksa dana campuran yang naik 1,04%. Sementara itu, indeks reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang hanya menguat tipis. Unggulnya indeks reksa dana saham dan campuran tersebut tak terlepas oleh kinerja pasar saham yang lebih baik dibandingkan dengan pasar obligasi pada pekan lalu.
Membaiknya kinerja sepanjang pekan lalu membuat kinerja sepanjang tahun berjalan ikut terdongkrak. Hingga 13 April 2018, indeks reksa dana saham tercatat positif 0,11% atau unggul dari indeks acuannya, yakni indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tercatat -1,34%. Adapun, indeks reksa dana campuran tercatat 0,61% dan indeks reksa dana pendapatan tetap sebesar 0,48%.
Direktur Avrist Asset Management Hanif Mantiq menjelaskan, positifnya kinerja reksa dana sebenarnya tidak terlepas dari faktor eksternal. Pada kuartal I/2018, pasar modal dunia termasuk Indonesia disibukkan dengan tiga isu besar, yakni pergantian pemimpin The Fed, kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, serta perang dagang yang melibatkan AS dengan China.
Memasuki kuartal II/2018, isu itu telah mereda dan tekanan terhadap pasar berkurang. "Saat ini tekanan hanya dari Suriah. Tapi ini tidak akan separah seperti kuartal pertama lalu," katanya kepada Bisnis, Senin (16/4).
Hanif memprediksi, pasar saham akan menunjukkan perbaikan secara perlahan hingga akhir tahun. Sementara itu, khusus untuk indeks reksa dana pendapatan tetap, yang menjadi penopang adalah obligasi pemerintah. Pada bulan ini, pembelian obligasi pemerintah cukup tinggi.
"Di tengah aksi jual atau ambil untung pasar saham, ada perlawanan dari obligasi. Pembelian obligasi pemerintah bagus, tapi yang swasta masih belum bagus. Ini sudah cukup jadi perlawanan," katanya.
🍑

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas indeks reksadana pada pekan lalu tercatat menguat, kecuali indeks reksada pendapatan tetap. Berdasarkan data Infovesta Utama, indeks reksadana saham menguat paling tinggi sepekan kemarin, sebesar 1,89%.
Menyusul indeks reksadana campuran menguat 0,97%. Indeks reksadana pasar uang juga menguat sebesar 0,07%. Sedangkan, indeks reksadana pendapatan tetap menurun 0,16%.
"Melemahnya pasar obligasi pemerintah jadi sentimen negatif bagi kinerja reksadana pendapatan tetap sepekan lalu," kata Head of Investment Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana dalam riset, Senin (19/2).
Sementara, bursa saham justru menguat dan membuat indeks reksadana saham naik cukup tinggi. Wawan mengatakan kinerja pasar saham menjadi penopang kinerja reksadana saham dan campuran untuk mencetak kinerja tertinggi selama sepekan lalu.
🍴


INILAHCOM, Jakarta - Perusahaan jasa penyedia informasi dan riset, PT Infovesta Utama, mengemukakan dana kelolaan produk investasi reksa dana selama Januari 2018 mencatatkan pertumbuhan 4,33 persen menjadi Rp457,11 triliun dari posisi akhir tahun 2017.
"Jumlah dana kelolaan reksa dana pada bulan Januari 2018 di luar jenis penyertaan terbatas dan denominasi dolar AS," papar analis PT Infovesta Utama Viliawati dalam risetnya di Jakarta, Selasa (13/2/2018).
Ia menyampaikan bahwa reksa dana jenis saham dan pasar uang menjadi kontributor terbesar pertumbuhan dana kelolaan pada periode itu. Pertumbuhan dana kelolaan tersebut didukung oleh unit penyertaan reksa dana yang juga meningkat 3,95 persen dari posisi akhir tahun 2017.
Sejalan dengan reksa dana denominasi rupiah, Viliawati juga mengemukakan dana kelolaan reksa dana denominasi dolar AS juga mengalami penaikan, yaitu tumbuh sebesar 2,63 persen selama Januari 2018.
Meski secara total tumbuh, dia menyebutkan beberapa jenis reksa dana denominasi dolar AS mengalami penyusutan dana kelolaan, khususnya reksa dana pasar uang yang menurun 23,79 persen. Sementara itu, dana kelolaan reksa dana pendapatan tetap denominasi dolar AS naik 20,36 persen.


Terkait dengan kinerja reksa dana dalam sepekan, periode 2 s.d. 9 Februari 2018, Viliawati mengemukakan bahwa mayoritas indeks reksa dana membukukan kinerja negatif. Hanya indeks reksa dana pasar uang yang mampu mencatatkan kenaikan.
"Koreksi yang cukup dalam dialami oleh indeks reksa dana saham dan indeks reksa dana campuran yang turun 2,74 persen dan 1,49 persen. Indeks reksa dana pendapatan tetap terkoreksi 0,30 persen," paparnya.
Menurut dia, penurunan pada mayoritas indeks reksa dana itu diakibatkan oleh pasar saham dan obligasi pemerintah yang tertekan pada periode itu.
"Hanya obligasi korporasi yang masih mampu membukukan penguatan tipis," katanya. [tar]
🍷

per tgl 29 Desember 2017, akhir taon ditutup baik-baik aza @ reksa dana Indonesia: 










@ tgl 13 Oktober 2017, tren REKSA DANA bermacam-macam kategori maseh POSITIF KOK, well, para MI mesti TANCAP GAS, tapinya: 

🌳

TEMPO.COJakarta - PT BNP Paribas Investment Partners (BNPP IP) berkomitmen terus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui literasi keuangan. Di usianya yang ke-25, perusahaan manajer investasi itu berfokus menyelenggarakan lebih banyak program edukasi.

Presiden Direktur BNPP IP, Vivian Secakusuma, mengatakan Indonesia adalah negara kelima dengan ekonomi terbesar di Asia. "Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi BNPP IP," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 14 Agustus 2017

Indonesia juga telah mengantongi investment grade dari Moodys Investor Service, Fitch Ratings dan Standard & Poors (S&P) Global Rating. Vivian mengatakan peringkat tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan utama penanaman modal di dunia.

Baca: Jokowi Ingin Kepala Daerah Percepat Waktu Perizinan Bagi Investor

Perusahaan manajer investasi yang berasal dari Paris, Prancis, itu berharap dapat meningkatkan jumlah investor di Indonesia. Salah satunya melalui program edukasi investasi melalui BNP Paribas Investment Partners Investment Academy.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terdapat sekitar 525 ribu investor reksa dana yang terdaftar di Indonesia hingga Juni 2017. "Kami berharap program edukasi kami dapat membantu meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi di Indonesia dalam jangka panjang," kata dia.

BNPP IP merupakan salah satu pelopor di industri reksa dana. Sejak berdiri 1992 di Indonesia, BNPP IP telah dikenal sebagai perusahaan pertama yang bekerja sama dengan bank untuk mendistribusikan reksadana serta memperkenalkan reksadana tematik, reksadana kuantitatif, reksadana terproteksi. Tak hanya itu, pada tahun 2016, BNPP IP menjadi manajer reksadana syariah pertama yang berinvestasi pada efek luar negeri.

VINDRY FLORENTIN
Read more at https://www.tempo.co/read/news/2017/08/14/087899822/bnp-paribas-indonesia-tujuan-utama-penanaman-modal-dunia#D2mVROy2ESE12u8H.99

👌
JAKARTA–Total dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana hingga akhir tahun ini diperkirakan tembus Rp 444 triliun, naik 31% dari posisi akhir Desember 2016 yang mencapai Rp 338,8 triliun. Selama tahun berjalan (year to date/ytd) atau periode awal Januari hingga 25 Juli 2017), total AUM industri reksa dana tumbuh 14,6% dari Rp 337,8 triliun menjadi Rp 387,2 triliun.

“Jadi, industri reksa dana akan terus bertumbuh dengan pencapaian AUM hingga akhir tahun ini menjadi sekitar Rp 444 triliun,” ujar Dewan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Asri Natanegeri di Jakarta, Jumat (28/7).

Sementara itu, Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sujanto menjelaskan, selama tujuh tahun terakhir, pertumuhan AUM mencapai 152%. “Kalau lihat kenaikan dibandingkan kurun waktu tujuh tahun lalu sebesar Rp 153 triliun,” tutur dia.

Menurut Sujanto, pada kuartal II-2017, jumlah investor berdasarkan single identity number (SID) rekss dana naik menjadi 500 ribu dibandingkan pada kuartal I-2017 sekitar 450 ribu. Sedangkan dibandingkan pada akhir 2015 terjadi peningkatn 114%.

Menanggapi target 5 juta investor yang dipatok APRDI hingga lima tahun ke depan, Asri Natanegeri mengungkapkan target itu hanya bisa dicapai jika para manajer investasi (MI) melakukan penetrasi pasar secara agresif. “Soalnya angka pertumbuhan rata-rata masih 20-30%,” tandas dia.

Asri memperkirakan jumlag investor mencapai 750 ribu hingga 1 juta sampai akhir tahun ini. “Terutama dengan akses yang lebih luas, proyeksi itu memungkinkan,” ucap dia.

Dia menambahkan, hingga 26 Juli 2017, portofolio terbesar pada investasi reksa dana adalah reksa dana saham dengan total dana kelolaan Rp 108 triliun. Selebihnya merupakan reksa dana terproteksi dengan nilai dana kelolaan Rp 90,7 triliun, reksa dana pendapatan tetap (fixed-income) senilai Rp 83,8 triliun, dan reksa dana pasar uang senilai Rp 50 triliun.

Lainnya, menurut Asri, adalah reksa dana campuran dengan nilai dana kelolaan Rp 24,3 triliun, reksa dana syariah Rp 18 triliun, exchange traded fund (ETF) senilai Rp 7,4 triliun, dan reksa dana indeks sebesar Rp 1 triliun. (az)



JAKARTA kontan. Kado dari Standard & Poor's (S&P) untuk Indonesia berupa ratinginvestment grade membawa angin segar pada perkembangan pasar modal. Akibatnya, aliran dana asing yang masuk ke surat utang dalam negeri semakin deras.
Alhasil, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak dan meningkatkan investor reksadana. Kabar ini menjadi berkah bagi beberapa manajer investasi(MI). Bahkan sejumlah MI sudah meraih dana kelolaan melebihi target sampai akhir tahun.
PT Avrist Asset Management (Avram) misalnya telah memperoleh asset under management (AUM) per Mei 2017 sebesar Rp 1,67 triliun. Padahal, targetnya hanya Rp 1,5 triliun hingga akhir 2017.
"Kondisi pasar modal memang sedang mendukung, dampak S&P cukup positif mendorong investor yang tadinya menahan masuk ke pasar modal dan sekarang perlahan mulai berani masuk," ujar Direktur Avrist Asset Management Hanif Mantiq.
Ia optimistis, Avram bakal mencetak kinerja kinclong hingga tutup tahun ini. Karena itu, Avram mengerek target dana kelolaan hingga akhir tahun ini menjadi Rp 2 triliun.
Mengincar ritel
Demi mendongkrak target AUM, Avram menerbitkan produk anyar. Rencananya ada enam produk baru meluncur tahun ini. "Dua produk itu diantaranya terproteksi dan sukuk yang membagikan dividen," jelas Hanif. Selain itu, Avram juga akan menambah penjualan ke segmen ritel.
Dana Bahana TCW Investment Management juga sudah melebihi target. Soni Wibowo, Direktur Bahana TCW Investment Management mengatakan, perolehan AUM hingga Mei 2017 sebesar Rp 43 triliun, melesat 13,16% dibandingkan periode sama tahun lalu.
Hingga akhir 2017, Bahana menargetkan dana kelolaan Rp 42 triliun. "Sampai saat ini kami belum merevisi target karena masih menunggu kondisi pasar," ujar Soni.
investor institusi masih menjadi kontribusi terbesar dana kelolaan Bahana. "Ritel tetap menjadi fokus kami untuk produk-produk yang berisiko rendah. Kami tidak mematok target tertentu, tergantung demand saja," kata dia.
Sementara, Plt CEO PT Sucor Asset Management Jemmy P. Wawointana menuturkan dana kelolaan per Mei 2017 sebesar Rp 4,7 triliun melonjak 34,28% dibandingkan akhir tahun lalu.
Adapun hingga tutup tahun ini, Sucor menargetkan bisa memiliki dana kelolaan Rp 5,3 triliun. Nominal tersebut naik 26,19% dibandingkan realisasi akhir 2016 yang mencapai Rp 4,2 triliun. "Saat ini, jumlah investor bertambah dari distribusi yang menjual langsung ke ritel," kata Jemmy.
👄
JAKARTA kontan. Sepanjang April 2017, kinerja reksadana saham berhasil mengungguli reksadana jenis lainnya. Faktor pendongkrak kenaikan kinerja saham tak lain berkat saham-saham bluechip.

Data Infovesta Utama menunjukkan, kinerja reksadana saham seperti yang terlihat pada pergerakan Infovesta Equity Fund Index (IRDSH) mengalami kenaikan sebesar 0,93%. Namun masih di bawah rata-rata Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 2,11%.


Kemudian diikuti oleh return reksadana campuran yang terlihat dalam Infovesta Balanced Fund Index (IRDCP) yang naik 0,74%. Lalu, kinerja reksadana pendapatan tetap pada Infovesta Fixed Income Fund Index (IRDPT) melaju 0,57% dan di posisi terakhir terdapat reksadana pasar uang yang terlihat pada Infovesta Money Market Fund (IRDPU) naik 0,37%.

Meski begitu, secara year to date (ytd) hingga 28 April 2017, kinerja reksadana pendapatan tetap terlihat paling unggul yang mengalami kenaikan 4,43%. Sementara, kinerja reksadana saham baru naik 3,76%. Kenaikan tersebut masih di bawah rata-rata IHSG yang telah melesat 7,34% di periode yang sama.

Research & Investment Analyst Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai kinerja reksadana saham sepanjang April bisa paling melesat lantaran didukung oleh hasil laporan keuangan tahun 2016 dan kuartal I-2017 yang berhasil mencatatkan kinerja positif bahkan di atas ekpektasi.

Selain itu, juga didukung oleh kinerja emiten bluechip yang terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Apalagi harga-harga komoditas yang kian menanjak. “Otomatis ini membawa angin segar untuk reksadana saham,” paparnya.

Wawan optimistis, saham-saham bluechip seperti sektor keuangan bakal mengalami kenaikan 12%, komoditas 20%, infrastruktur dan konsumsi akan melaju masing-masing 15% dan 8%-10%.

Namun tak dipungkiri, Ia melihat kinerja reksadana pendapatan tetap masih paling unggul sepanjang empat bulan pertama ini lantaran ditopang oleh suku bunga yang relatif rendah juga derasnya dana asing yang terus merangsek masuk ke Surat Utang Negara (SUN). “Apalagi sikap optimis investor terkait rencana kenaikan rating dari Standard & Poor's,” jelas dia.

Hingga akhir tahun, Wawan memprediksi return reksadana saham bakal mencapai 10%-12%, campuran 7%-9%, pendapatan tetap 7%-8% dan pasar uang 4%-5%. Sementara, Ia optimistis IHSG akan melaju ke level 5.900-6.100 hingga akhir tahun 2017 nanti.
💃
Bisnis.com, JAKARTA--Kinerja reksa dana saham naik signifikan sepanjang pekan lalu dengan return sebesar 0,53% sepanjang 13 April-21 April 2017 menjadi 3,37% sepanjang tahun berjalan.
Reza Viola Purba, Research Analyst PT Infovesta Utama, menuturkan seluruh indeks reksa dana mencetak kinerja positif pada pekan lalu. Kinerja positif seluruh indeks reksa dana ditopang oleh menguatnya kondisi pasar saham dan obligasi, baik pemerintah maupun obligasi.
Pada pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) naik 0,85% atau 6,94% year-to-date ke level 5.664,48. Sementara itu, Infovesta Government Bond Index dan Infovesta Corporate Bond Index naik 0,14% dan 0,16% dalam 1 minggu.
"Indeks reksa dana saham mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada Jumat (21/4) dan berhasil mencatat kinerja mingguan tertinggi pada periode ini. Sebaliknya, kinerja mingguan terendah dicatat oleh indeks reksa dana pendapatan tetap," tulisnya dalam riset, Senin (25/4).
Berdasarkan data Infovesta Utama, Indeks Reksa Dana Saham mencetak return 0,53% sepanjang pekan lalu. Bahkan Indeks Reksa Dana Saham Syariah mampu tumbuh 1,31% sepanjang 13-21 April 2017.
Pada periode yang sama, kinerja Indeks Reksa Dana Campuran naik 0,11%, Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap naik 0,0002%, dan Indeks Reksa Dana Pasar Uang naik 0,12%.

Adapun sepanjang tahun berjalan, kinerja Indeks Reksa Dana Saham naik 3,37%, Indeks Reksa Dana Campuran 3,97%, Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap 4,19%, dan Indeks Reksa Dana Pasar Uang 1,52%.

Adapun lima produk reksa dana saham yang membukukan return month-to-date paling tinggi, yakni SAM Dana Cerdas 3,34%, PNM Ekuitas Syariah 3,34%, Reliance Saham Syariah 3,02%, Batavia Dana Saham Syariah 2,97%, dan Danareksa Syariah Saham 2,79%.

👄

Bisnis.com, JAKARTA - Reksa dana merupakan wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan ke dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi (MI) dan diadministrasikan Bank Kustodian.
Namun, sebagai instrumen investasi, reksa dana bukannya tidak memiliki risiko yang dapat mempengaruhi rencana keuangan Anda.
Terdapat sejumlah tips untuk memilih reksa dana yang tepat bagi kebutuhan Anda.
Lilis Setiadi, President Director PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, menjelaskan langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengecek keabsahan MI dan produk yang ditawarkan.
"Cek keabsahan MI dan reksa dana yang ditawarkan. Bisa melalui laman resmi www.ojk.go.id," jelasnya di sela-sela Seminar Optimalisasi Waspada Investasi, Selasa (11/4/2017).
Selanjutnya, jelas Lilis, kenali dan teliti lebih jauh MI yang Anda akan pilih. Bagaimana latar belakang pendiri dan pihak manajemen, berapa lama telah beroperasi, berapa besar dana kelolaannya dan pihak-pihak yang bekerjasama, seperti Bank Kustodian, auditor, serta agen penjual.
"Patut dipertanyakan jika MI itu sudah beroperasi dalam kurun waktu 20 tahun, namun dana kelolaannya baru Rp10 miliar, " jelasnya.
Lilis mengingatkan pada akhirnya calon investor wajib untuk memahami reksa dana yang akan diinvestasikan. Anda perlu mengecek sejak kapan produk tersebut telah diluncurkan dan bagaimana kinerjanya selama ini.
"Berapa besar portofolionya, pihak-pihak yang bekerjasama, dan kemudahan akses informasi," ingatnya.
👍
Jakarta - Reksa dana merupakan salah satu instrumen investasi yang memberikan tingkat keuntungan (return) yang cukup besar. Produk yang dijajakan oleh perusahaan manajer investasi (MI) itu mulai dikenal masyarakat luas.

Masing-masing MI biasanya menyajikan produk reksa dana yang berbeda-beda dengan daya tarik yang berbeda pula. Namun pada dasarnya ada 4 jenis produk reksa dana yang terbagi dari jenis saluran investasinya, yakni reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana pendapatan tetap, dan reksa dana pasar uang.

Tentunya pula masing-masing produk reksa dana dari masing-masing MI juga memiliki kinerja yang berbeda. DetikFinance telah merangkum kinerja produk reksa dana sepanjang Maret 2017, yang melansir data dari Infovesta, Jumat (7/4/2017). Namun data ini diambil sebelum Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlari kencang pada seminggu terakhir ini.

Reksa Dana Saham:
  1. KAM Kapital Syariah return 31,37%
  2. DMI Dana Saham Syariah return 29,01%
  3. Millenium Equity Prima Plus 25,43%
  4. Corfina Equity Syariah return 22,04%
  5. Treasure Saham Berkah Syariah 21,68%
Reksa Dana Campuran 
  1. Millenium Balance Fund return 13,15%
  2. Pacific Balance Syariah return 8,7%
  3. MNC Dana Kombinasi return 7,3%
  4. Mega Asset Mixed return 6,9%
  5. Mega Dana Kombinasi 6,8%
Reksa Dana Pendapatan Tetap
  1. Mega Asset Mantap return 11,06%
  2. PNM SBN 90 return 4,18%
  3. SAM Dana Obligasi return 4,16%
  4. Archipelago Sukuk Syariah I return 4,13%
  5. Bahana Prime Income Fund return 4,11%
Reksa Dana Pasar Uang
  1. Reksa Dana Pratama Dana Likuid return 0,75%
  2. Sucorinvest Money Market Fund return 0,72%
  3. Insight Money return 0,69%
  4. Insight Money Syariah return 0,62%
  5. TRAM PUNDI KAS 3 return 0,61%
(wdl/wdl)
👄

Bisnis.com, JAKARTA— Sepanjang tahun berjalan, sejumlah produk reksa dana berhasil mencatatakan return yang cukup tinggi.
Berdasarkan data Infovesta Utama yang dipublikasikan Senin (20/3/2017) dikemukakan bahwa seluruh reksa dana berhasil mencatatkan kinerja positif secara year-to-date. Kinerja tertinggi dicatat oleh reksa dana pendapatan tetap yang berhasil menguat sebesar 2,86% hingga 17 Maret 2017.
Adapun, indeks reksa dana saham menguat 1,72%. Kinerja ini terbilang sangat baik mengingat beberapa waktu lalu indeks reksa dana ini masih berada pada nilai negatif.

Berikut top 5 reksa dana dengan return tertinggi sepanjang tahun (per 17 Maret 2017):
Reksa Dana Saham
Sucorinvest Maxi Fund
14,22%
Sucorinvest Equity Fund
13,96%
HPAM Investa Ekuitas Strategis
12,55%
Syailendra Midcap Alpha Fund
8,38%
Eastpring Investments Value Discovery
7,76%

Reksa Dana Campuran
HPAM Flexi Plus
12,58%
Sucorinvest Flexi Fund
12,42%
HPAM Premium 2
8,54%
Archipelago Balance Fund
6,62%
Syailendra Dana Investasi Dinamis
6,60%

Reksa Dana Pendapatan Tetap
Simas Pendapatan Prima
5,47%
Mandiri Obligasi Optima
5,45%
SAM Dana Obligasi
5,22%
BNP Paribas Maxi Obligasi
4,94%
Pacific Fix Income
4,92%

Reksa Dana Pasar Uang
Reksa Dana Pratama Dana Likuid
1,89%
Insight Money
1,65%
CIMB Principal Cash Func
1,59%
Syailendra Dana Kas
1,58%
Sucorinvest Money Market Fund
1,58%
Sumber: Infovesta Utama
JAKARTA -- Bertumbuh 25% setahun dalam delapan tahun terakhir, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana bakal menembus Rp 1.000 triliun dalam beberapa tahun ke depan. Dengan sosialisasi dan edukasi yang lebih gencar serta pemanfaatan teknologi informasi, jumlah investor reksa dana bisa mencapai 10 juta dalam dua tahun yang akan datang.
Penipuan berkedok investasi yang masih terus terjadi menunjukkan besarnya potensi yang belum tergarap dengan baik.

Jumlah investor reksa dana saat ini yang baru sekitar 500.000 dan NAB sebesar Rp 352,7 triliun atau sekitar US$ 26 miliar belum mencerminkan kemampuan riel penduduk dan ekonomi Indonesia. Malaysia dengan penduduk 30,5 juta memiliki 18,2 juta investor reksa dana dengan NAB di atas US$ 155 miliar.

Para pelaku pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonsia (BEI), pemerintah, dan institusi pendidikan perlu bahu-membahu meningkatkan sosialisasi dan edukasi pasar modal, meningkatkan literasi dan akses pasar.

Pandangan, optmisme, dan imbauan ini mengemuka dalam diskusi tentang Prospek Reksa Dana di Indonesia yang diadakan Majalah Investor di Jakarta, Kamis (16/3). Diskusi yang dipandu Pemred MajalahInvestor Primus Dorimulu menampilkan lima pembicara, yakni Direktur Pengelolaan Investasi OJK Sujanto, Presidium Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Edward Lubis, Ketua I Asosiasi Bank Agen Penjual Efek Reksa Dana Indonesia (ABAPERDI) Mushidahat, Wakil Ketua Asosiasi Daan Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri, dan Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito. (jn)


Di sisi lain, kinerja reksa dana masih di bawah target. Target NAB reksa dana sebesar Rp 1.000 triliun pada 2017, namun faktanya baru mencapai Rp 352 triliun. Sedangkan jumlah investor yang diharapkan menembus 5 juta investor pada akhir 2017, namun faktanya baru sekitar 500 ribu investor.

Saat ini ada 4 isu utama di industri reksa dana. Pertama, iuran yang dipungut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih dikeluhkan oleh manajer investasi. OJK membebankan fee sebesar 0,45% dari nilai aktiva bersih (NAB) atau dana kelolaan manajer investasi. Persoalannya, manajer investasi menganggap dana yang mereka setorkan tidak sebanding dengan dana yang sudah dikembalikan kepada industri untuk sosialisasi dan edukasi.

Kedua, pengembangan agen penjual dalam bentuk distribusi baru di luar bank. Diharapkan, reksa dana nantinya semakin mudah dibeli di tempat lain seperti di mini market, selain pemanfaatan teknologi yang menjadi faktor penting.

Ketiga, untuk membangkitkan kebutuhan terhadap reksa dana, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bisa menjadi potensi penambahan investor reksa dana, tidak cukup hanya menarik iuran jaminan sosial sebesar 3% dari penghasilan. Sebagai contoh, BPJS Malaysia mengelola 23% penghasilan tiap pekerja (11% diambil dari gaji dan 12% dari perusahaan). Private pension plan bisa disosialisasikan untuk masuk ke reksa dana.

Keempat, dibutuhkan reksa dana khusus untuk menampung dana repatriasi. Reksa dana khusus ini memungkinkan dibukanya potensi investasi ke luar negeri. (jn)

💪
Jakarta - Majalah Investor kembali memberikan penghargaan kepada reksa dana yang dinilai memiliki kinerja terbaik. Penghargaan itu diberikan pada acara "Penganugerahan Reksa Dana Terbaik 2016" yang diselenggarakan di Soehanna Hall, Energy Building Jakarta, Rabu (3/3). Tahun ini adalah tahun ke-15 Majalah Investor melakukan pemeringkatan reksa dana dibantu lembaga riset Infovesta Utama.
Tahun ini, sebanyak 36 penghargaan diberikan kepada 29 reksa dana yang dikelola 20 manajer investasi. Selain itu, ada 4 reksa dana dan satu manajer investasi favorit, serta dua penghargaan khusus untuk manajer investasi yang berkontribusi terhadap sektor riil.
“Pemberian penghargaan ini merupakan apresiasi terhadap reksa dana yang mampu bertahan dan memiliki kinerja terbaik, sekaligus mendorong pengelola reksa dana agar terus meningkatkan kinerja,” kata Pemimpin Redaksi Majalah Investor, Primus Dorimulu.
Serupa dengan tahun sebelumnya, ada dua kategori pemeringkatan, yaitu, "Best Performance" dan "Most Favorite". "Best Performance" ditentukan berdasarkan reksa dana yang memenuhi kriteria tertentu dan memiliki penilaian tertinggi, sedangkan "Most Favorite" ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak dalam survei.
Penilaian dilakukan terhadap kinerja reksa dana yang mencerminkan ketepatan strategi dan fleksibilitas manajer investasi dalam mengelola reksa dana dan penilaian atas pertumbuhan unit penyertaan (UP) reksa dana sebagai gambaran kepercayaan investor terhadap produk reksa dana tersebut. Seluruh jenis reksa dana dinilai menggunakan bobot yang sama, yaitu 70 persen untuk aspek kinerja dan 30 persen untuk aspek pertumbuhan unit penyertaan (UP).
Pemeringkatan yang dibuat PT Infovesta Utama, lembaga riset reksa dana yang membantu tim litbang Majalah Investor dalam melakukan pemeringkatan reksa dana menghasilkan 12 penghargaan untuk reksa dana saham. Berikutnya, sembilan reksa dana campuran, enam reksa dana pendapatan tetap rupiah, tiga reksa dana pendapatan tetap USD dan enam reksa dana pasar uang.
PT Sinarmas Asset Management tahun ini memborong penghargaan dengan meraih 7 awards. Berikutnya PT Schroder Investment Management Indonesia dengan lima penghargaan. Manajer investasi lain yang menerima awards untuk reksa dana yang dikelolanya adalah PT Pacific Capital Investment, PT Corfina Capital, PT Pratama Capital Asset Management, PT Henan Putihrai Asset Management, PT Ciptadana Asset Management, PT Batavia Prosperindo Asset Management, PT Panin Asset Management, PT Nikko Securities Indonesia, PT Kresna Asset Management, PT MNC Aset Management, PT BNI Asset Management, PT NET Asset Management, PT Manulife Aset Manajemen, PT Mega Capital Investama, PT Philip Asset Management, dan PT Trimegah Asset Management.
Penghargaan khusus juga diberikan untuk manajer investasi yang memiliki kontribusi terbesar terhadap sektor riil, dengan mengelola reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) berbasis proyek. Penghargaan khusus ini diberikan kepada PT PNM Investment Management dan PT Danareksa Investment Management.
Sementara penghargaan sebagai reksa dana favorit diberika kepada reksa dana Schroder Dana Prestasi sebagao reksa dana saham favorit, reksa dana Schroder Dana Kombinasi sebagai reksa dana campuran favorit, reksa dana CIMB-Principal Bond sebagai reksa dana pendapatan tetap favorit, reksa dana Bahana Dana Likuid sebagai reksa dana pasar uang favorit. Dan manajer investasi favorit diberikan kepada PT Schroders Investment Management Indonesia.
Kategori Penilaian
Sebelum melakukan penilaian, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh reksa dana yang akan diperingkat, yaitu minimal berusia 1 tahun per 30 Desember 2015, termasuk reksa dana jenis saham, campuran, pendapatan tetap, pasar uang, indeks, atau ETF (exchange traded fund); dalam denominasi rupiah, kecuali jenis pendapatan tetap; bukan reksa dana syariah; tidak membagikan dividen; serta minimal memiliki dana kelolaan Rp 25 miliar per 30 Desember 2015.
Pemeringkatan diikuti oleh 338 reksa dana dari 53 manajer investasi. Seluruh reksa dana tersebut kemudian dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yakni jenis reksa dana, terdiri dari lima  kategori, yaitu saham, campuran, pendapatan tetap denominasi rupiah, pendapatan tetap denominasi dolar AS, dan pasar uang. Reksa dana indeks dan ETF dikelompokkan ke kategori saham atau pendapatan tetap sesuai dengan alokasi portofolio dominannya. Periode penilaian, terdiri dari tiga kategori, yaitu 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun. Khusus untuk jenis saham, ditambahkan kategori 10 tahun.
Kelas AUM, terdiri dari 3 kategori, yaitu Rp 25 miliar-Rp 250 miliar, Rp 25 miliar–Rp 1,5 triliun, dan di atas Rp 1,5 triliun. AUM dilihat berdasarkan posisi per akhir Desember 2015. Apabila dalam satu kelompok terdapat kurang dari 5 reksa dana, maka akan digabungkan ke kelompok di atas/di bawahnya. Kategori ini tidak berlaku bagi reksa dana jenis pendapatan tetap berdenominasi dolar dan reksa dana jenis campuran. Sebagai tambahan, kategori ini sedikit berbeda dibandingkan dengan tahun lalu yang memiliki batasan Rp 25 miliar-Rp 100 miliar, Rp 100 miliar-Rp1 triliun, dan di atas Rp 1 triliun.
Profil risiko (khusus untuk reksa dana jenis campuran), terdiri dari 3 kategori dibagi berdasarkan rata-rata bulanan alokasi portofolio pada saham selama periode penilaian, yaitu agresif, dengan rata-rata > 60 persen, moderat dengan rata-rata 41- 60 persen, dan konservatif dengan rata-rata < 41 persen
Untuk pemeringkatan "Most Favorite", Infovesta melakukan survei terhadap produk reksa dana jenis saham, campuran, pendapatan tetap, dan pasar uang beserta manajer investasi. Beragam investor turut mengikuti survei ini, baik individual maupun institusi. Voting dilakukan untuk memilih reksa dana dan manajer investasi yang dinilai terbaik dan dipercaya hingga maksimal tiga pilihan untuk setiap kategori dari lima kategori di atas. Reksa dana dan manajer investasi yang mendapatkan suara terbanyak menjadi pemenang.
Anselmus Bata/AB
BeritaSatu.com
JAKARTA okezone - Investasi saham, termasuk di dalamnya investasi Reksa dana menjadi unggulan di tahun 2016. Kini investasi tersebut, khususnya Reksa dana masih tetap menjanjikan di tahun 2017. Agus B. Yanuar, Direktur Utama Samuel Aset Manajemen (SAM)pernah bilang, industri reksa dana semakin membaik dari tahun ke tahun.
”Ada beberapa katalis positif yang berpotensi mendorong industri reksa dana di tahun 2017. Rupiah yang stabil, kinerja keuangan Emiten yang meningkat, perbaikan pada data makro, penguatan harga komoditas, tingkat bunga rendah, inflasi yang terukur, minat investor global pada emerging market yang tetap tinggi, dan banjirnya likuiditas global akan menempatkan IHSG ke tingkat yang lebih tinggi dengan potensi naik 15%-20% tahun depan,” ujarnya di Jakarta.
Selain itu, bertambahnya partisipasi investor institusi dan semakin meningkatnya pemahaman investor individu tentang perlunya berinvestasi untuk tujuan keuangan jangka menengah dan jangka panjang, akan membuat produk reksa dana semakin menjadi pilihan.
Di samping itu, imbal hasil produk reksa dana sesuai dengan jenis produk dan aset dasarnya. Reksa dana saham berpotensi memberikan imbal hasil antara 18%-25%, reksa dana campuran 13,5%-15%, reksa dana obligasi 7%-12%, sementara reksa dana pasar uang 4%-5%.
Salah satunya, Reksa dana Lautandhana Optima Balances Fund. Reksa dana campuran besutan PT Lautandhana Investment Management ini meluncur 22 Desember lalu. Pasar yang ketika itu kurang bersahabat untuk Reksa dana saham jadi salah satu alasan manajer investasi mengeluarkan Reksa dana campuran.
“Jadi, kalau kami keluarkan Reksa dana saham, semua investor takut return-nya bisa jatuh dan kurang stabil,” kata Product and Compliance Lautandhana Management Anita Wijaya.
Itu sebabnya, Lautandhana Management merilis Reksa dana berbasis saham, obligasi, dan deposito. “Jadi, return dari portofolio investasi lebih stabil. Kalau saham lagi jelek, kami bisa beli lebih banyak obligasi. Kalau obligasi jelek, bisa ke deposito,” beber Anita.
Untuk memaksimalkan imbal hasil produk Reksa dana campuran teranyarnya, Lautandhana Management menerapkan kebijakan investasi dengan komposisi minimal 5% hingga maksimal 79% ke efek bersifat ekuitas. Lalu, 1%–75% ke efek bersifat utang yang diterbitkan Pemerintah RI dan korporasi berbadan hukum Indonesia, dan 20%–79% ke instrumen pasar uang dalam negeri.
Hanya, saat ini manajer investasi yang berdiri 2005 lalu tersebut lebih banyak menempatkan dana kelolaan Lautandhana Optima Balances Fund ke surat berharga negara (SBN). Porsinya mencapai 60%–70%. Sisanya yang 30%–40% masuk ke deposito. “Menjelang liburan akhir tahun, kinerja yang stabil ada di SBN, dan kami memilih tenor sedang (lima tahun–tujuh tahun),” ungkap Anita.
Untuk deposito, Lautandhana Management tidak menetapkan jangka waktu jatuh temponya. Yang jelas, anak usaha Lautandhana Securindo ini menaruh dana kelolaan Reksa dana Lautandhana Optima Balances Fund di deposito bank pemerintah dan swasta terkenal serta memiliki rating khusus. Sedang untuk obligasi swasta, mereka memilih surat utang dengan rating minimal BBB+.
(mrt)
👄

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah produk reksadana mampu mencatat kinerja melampaui indeks acuannya di sepanjang 2016 lalu.  Berikut paparan sejumlah reksa dana yang jadi jawara serta portofolionya.
Reksadana Saham
Berdasarkan data Infovesta Utama, reksa dana saham yang kinerjanya paling moncer sepanjang tahun lalu adalah Treasure Fund Super Maxxi besutan Treasure Fund Investama. Produk ini mendulang imbal hasil sebesar 50,86 persen di tahun 2016 saja.
Mengekor di bawahnya, ada Sucorinvest Equity Fund yang memberikan return 47,99 persen. Kemudian, ada Sucorinvest Sharia Equity Fund dengan return 41,19 persen.
Bandingkan dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Di periode tersebut, IHSG hanya mencatat kenaikan 15,32 persen. Sementara Infovesta Equity Fund Index hanya terkerek 7,70 persen.
Senior Research & Investment Analyst Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, reksa dana saham berkinerja terbaik rata-rata menitikberatkan portofolionya pada sektor pertambangan, industri, keuangan dan konsumsi.
“Sektor pertambangan saja naiknya 71 persen, sektor industri di 31 persen,” kata dia.
Tidak percaya? Mari lihat portofolio Sucorinvest Equity Fund. Berdasarkan fund fact sheet, dari 97,3 persen dana yang ditempatkan di instrumen saham, lima efek terbesarnya adalah ANTM, BBNI, GGRM, TLKM, dan WIKA.
“Kita overweight di mining. Tahun lalu porsinya sekitar 23 persen,” kata Direktur Ivestasi Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana.
reksa dana Campuran
Di jajaran reksa dana campuran, produk jawaranya adalah Net Dana Flexi besutan Net Assets Management dengan return 38 persen.
Bandingkan dengan kinerja Infovesta Balanced Fund Index yang hanya tumbuh sekitar 9,29 persen.
Di posisi kedua, ada SAM Dana Berkembang dengan imbal hasil 30,27 persen dan SAM Dana Bersama yang mencetak imbal hasil 29,85 persen.
Fund Manager Net Assets Management Andri Supratman mengatakan, dengan gencarnya pembangunan infrastruktur tahun lalu, reksadana Net Dana Flexi menitikberatkan portofolionya pada saham-saham yang berkaitan dengan infrastruktur.
“Sekitar 50 persen dari portofolio diisi oleh saham perusahaan infrastruktur, seperti KRAS dan SMGR. Sisanya, kami sebar di industri keuangan, pertambangan, dan perkebunan,” ujar dia.
reksa dana Pendapatan Tetap
Pada jenis reksa dana pendapatan tetap, produk Pendapatan Tetap Abadi 2 milik Bahana TCW Investment Management menjadi pencetak return terbaik, dengan imbal hasil sebesar 20,09 persen.
Disusul oleh Mega Dana Ori Dua dengan return 15,28 persen dan Mega Dana Pendapatan Tetap dengan return 14,93 persen.
Pada periode yang sama, rata-rata return reksa dana pendapatan tetap, sebagaimana tercermin dari Infovesta Fixed Income Fund Index, hanya sebesar 8,02 persen dan Mega Dana Pendapatan Tetap dengan return 14,93 persen.
Pada periode yang sama, rata-rata return reksa dana pendapatan tetap, sebagaimana tercermin dari Infovesta Fixed Income Fund Index, hanya sebesar 8,02 persen.
Menurut Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo, pihaknya memilih surat utang negara (SUN) durasi panjang untuk dikoleksi pada Pendapatan Tetap Abadi 2.
“Saat ini, sekitar 90 persen portofolio diisi oleh SUN dengan durasi lima tahun,” terang Soni.
Menurutnya, investor di reksa dana pendapatan tetap adalah investor dengan horizon investasi jangka panjang.
Sehingga ia mengambil keuntungan dari naiknya harga obligasi, seiring penurunan suku bunga yang terjadi beberapa kali tahun lalu.
reksa dana Pasar Uang
Pada reksa dana jenis pasar uang, Insight Money milik Insight Investments Management menduduki peringkat teratas dengan return 8,46 persen.
Kemudian di bawahnya ada Cipta Dana Cash dengan kinerja 8,22 persen dan Sucorinvest Money Market Fund dengan return 7,95 persen.
Sedangkan Infovesta Money Market Fund mencatat kenaikan 4,63 persen.
Dalam mengelola Sucorinvest Money Market Fund, Jemmy mengalokasikan 60 persen dana kelolaan ke instrumen obligasi yang jatuh tempo kurang dari setahun dengan peringkat minimal idAA-.

Lalu 40 persen sisanya ke kas untuk menopang likuiditas. (Petrus Sian Edvansa)
🙌🙌
Jakarta - Kinerja reksa dana saham dalam setahun terakhir cukup positif seiring dengan naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Bahkan, ada reksa dana saham yang mencatatkan keuntungan hingga 50% dalam setahun.

Mengutip data Infovesta, Rabu (4/1/2016), rata-rata kinerja reksa dana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index, dalam kurun waktu setahun atau 30 Desember 2015-30 Desember 2016 tercatat naik 7,70%. 

Angka ini lebih rendah dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatatkan kenaikan hingga 15,32%.

Jika dirinci lebih jauh, ada kinerja reksa dana saham yang mencatatkan keuntungan melejit hingga 50,856% dalam setahun, yaitu Treasure Fund Super Maxxi.

Selain itu, reksa dana saham Sucorinvest Equity Fund juga meraup imbal hasil 47,993% dalam setahun disusul Sucorinvest Sharia Equity Fund sebesar 41,187%, SAM Indonesian Equity Fund 39,968%, dan OSO Sustainability Fund 39,311%. (drk/ang)
👋

Bisnis.com, JAKARTA— Hingga November 2016, pertumbuhan nilai aktiva bersih (NAB) atau dana kelolaan industri reksa dana sudah mencapai 21,61%.
Berdasarkan data Pusat Informasi Reksa Dana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) nilai dana kelolaan hingga November 2016 sudah mencapai Rp315,56 triliun.












































ilustrasi - bisnis
Nilai tersebut naik hingga 21,61% dibandingkan dengan akhir tahun lalu yang mencapai Rp259,49 triliun.
Adapun, jumlah unit penyertaan industri reksa dana mencapai 231,23 miliar unit, atau naik 27,06% dibandingkan dengan unit penyertaan akhir tahun lalu yang mencapai 181,99 miliar unit.
Sementara itu, NAB reksa dana secara bulanan pada November ini tumbuh tipis hanya 0,56%.

Perkembangan NAB 2016
Bulan
NAB (Rp triliun)
Januari
263,54
Februari
272,02
Maret
281,93
April
288,18
Mei
291,84
Juni
299,80
Juli
305,88
Agustus
312,89
September
306,17
Oktober
313,78
November
315,56
 Sumber: Pusat Informasi Reksa Dana OJK
🙌
JAKARTA kontan. Gangguan aksi demonstrasi ke pasar sepertinya memang benar adanya. Setelah sebelumnya sejumlah pelaku pasar merasakannya, kini giliran PT Schroder Investment yang turut merasakan dampak dari sentimen negatif tersebut.
Chief Executive Officer Schroder, Michael T Tjoajadi bilang, berlarut-larutnya aksi demonstrasi telah memberikan dampak negatif bagi pergerakan IHSG di pengujung tahun ini, bahkan akan berimplikasi buruk terhadap ekonomi dalam negeri secara umum.
"Demo terus, ini memberikan dampak negatif. Demo berjalan damai saja sudah memberikan dampak negatif, apalagi jika terjadi kerusuhan," jelas Michael, Jumat (25/11).
Sentimen negatif kian menguat karena isu demo sudah melebar. Bukan hanya soal dugaan penistaan agama, tapi sudah ditunggangi dengan sejumlah agenda politik tertentu. Karena hal ini juga yang menyebabkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersengal-sengal belakangan ini.
Jika spesifik pada sektornya, menurut Michael, sektor properti menjadi sektor yang terekspos paling besar sentimen negatif tersebut.
Sebab, karena sentimen itu para pelaku usaha properti lebih memilih untuk menunggu atau bahkan menunda pengerjaan proyek terkait upaya mencari kepastian pasar berlangsungnya sejumlah aksi demo.
Lagi-lagi, dampak negatifnya cukup luas. Apalagi, sentimen asing juga kurang mendukung setelah Donald Trump terpilih menjadi presiden Amerika Serikat (AS) khsusunya di pasar valas.
"Bukan hanya rupiah, hampir semua mata uang asing melemah terhadap dolar AS," tambah Michael. Ini karena pasar melihat adanya ketidakpastian terkait kebijakan baru yang akan diambil Trump nanti.
👀


JAKARTA. Kemarin (16/11), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang sempat menguat sekitar 2,11% ke level 5.185,46. Namun, sejak dihelatnya pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada 8 November lalu, IHSG secara perlahan terus mengalami koreksi. Bahkan mencapai level 5.078 pada Selasa (15/11) lalu. Reksadana saham pun terkena imbasnya.
Mengacu data dari Infovesta, Infovesta Equity Fund Index (IRDSH) per 15 November 2016, dalam 30 hari terakhir indeks sudah merosot sebesar 6, 816%. Sedangkan sejak awal bulan November, penurunannya sebesar 7,04%.
Direktur Sucroinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengaku, penurunan kinerja reksadana saham besutan perusahannya secara umum hampir serupa dengan penurunan IHSG.
Untuk tetap dapat memaksimalkan return di saat seperti ini, Jemmy sendiri memiliki strategi khusus. Dia bilang, pada saat volatilitas saham cukup tinggi biasanya mereka akan menggeser alokasi saham pada portofolionya dan meningkatkan jumlah uang tunai. “Kami juga lebih banyak melakukan trading jangka pendek,” kata Jemmy.
Meskipun IHSG tercatat menurun, Direktur Samuel Asset Management Agus Yanuar tidak terlalu kaget. “Memang biasanya setiap tahun di bulan November akan terjadi koreksi,” kata Agus.
Belum lagi adanya dua peristiwa besar yang menggoyang pasar. “Pertama ada pemilihan umum AS, lalu hingar-bingar pilkada di Indonesia,” ucap dia.
Bahkan Agus sendiri mengakui, pihaknya sudah sejak awal November mengurangi porsi sahamnya dan mengalihkannya ke uang tunai. “Untuk antisipasi saat seperti ini, kita tambah porsi cash menjadi sekitar 10%,” ucap dia

Dalam menggeser portofolio, Jemmy mengaku tidak terlalu melakukan perubahan yang terlalu mencolok. Dari 90% saham, kemudian dipangkas menjadi 85% saja. Lalu selebihnya dialokasikan ke uang tunai. Dalam meracik sahamnya sendiri, Jemmy menitik beratkan pada sektor perbankan dan komoditas, terutama CPO.
😜
Jakarta detik - Kinerja reksa dana saham masih terus positif di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Secara year to date (ytd) atau dari 30 Desember 2015 hingga 31 Oktober 2016, reksa dana saham sudah naik tinggi.

Mengutip data Infovesta, Selasa (8/11/2016), rata-rata imbal hasil reksa dana saham berdasarkan Infovesta Equity Fund Index, secara ytd mencapai 12,81%, lebih rendah dibandingkan kinerja IHSG yang mencapai kenaikan 18,06%.

Imbal hasil tersebut merupakan data yang tidak termasuk reksa dana dengan dana kelolaan di bawah Rp 10 miliar sesuai ketentuan minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika dirinci lebih jauh, ada reksa dana saham yang mencatatkan keuntungan hingga 47,097% sejak 30 Desember 2015 hingga 31 Oktober 2016, yaitu Sucorinvest Equity Fund.

Sucorinvest Sharia Equity Fund mencatat keuntungan 42,229%, sementara SAM Indonesia Equity Fund 42,14%, SAM Dana Cerdas 36,761%, dan Archipelago Equity Growth 33,543%. (drk/ang)


JAKARTA — Reksa dana saham kembali membukukan kinerja paling tinggi sepanjang Oktober 2016 seiring dengan laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang naik 1,07% dibandingkan dengan akhir September 2016.

Berdasarkan Infovesta Equity Fund Index, rerata return produk reksa dana saham yang beredar di pasar sepanjang Oktober 2016 mencapai 0,22%. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja rerata produk reksa dana campuran dan reksa dana pendapatan tetap. Pasalnya, Infovesta Balanced Fund Index tercatat -0,19% dan Infovesta Fixed Income Fund Index -0,83% sepanjang bulan lalu.
Sepanjang tahun berjalan, kinerja reksa dana saham juga paling unggul. Secara rinci, Infovesta Equity Fund Index naik 12,81%, Infovesta Balanced Fund Index 12,17%, dan Infovesta Fixed Income Fund 10,1% pada periode Januari-Oktober 2016.
Kendati membukukan rerata return paling tinggi, reksa dana saham belum mampu melampaui kenaikan IHSG. Pasalnya, IHSG naik 1,07% month on month atau 18,06% year to date ke level 5.422,54 pada penutupan perdagangan Senin (31/10).
Kinerja rerata produk reksa dana berbasis obligasi pun masih di bawah kenaikan indeks acuannya. Mengacu pada Infovesta Government Bond Index, kinerja rerata obligasi negara yang dapat diperdagangkan mencapai 11,9% ytd, sedangkan Infovesta Corporate Bond Index naik 8,55% ytd.
Direktur Investasi Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan secara historis, periode November-Desember selalu terjadi kenaikan di pasar saham. Dengan begitu, Jemmy memproyeksi sampai akhir tahun kinerja reksa dana saham akan mendominasi.
"Indeks reksa dana saham mungkin bisa capai return 16%, sedangkan reksa dana pendapatan tetap mungkin sekitar 12% sampai akhir tahun," ungkapnya, Selasa (1/11).
Jemmy masih optimistis reksa dana pendapatan tetap masih berpotensi membukukan kinerja yang bagus seiring dengan pemulihan ekonomi nasional dan kenaikan harga komoditas. Selain itu, kinerja reksa dana berbasis obligasi ini diperkirakan terdorong apabila Indonesia mengantongi rating investment grade dari Standard & Poor's pada akhir tahun ini.
Sejumlah produk reksa dana saham Sucorinvest AM membukukan return tertinggi di antara 188 produk serupa yang beredar di pasar. Tiga produk dengan return tinggi sepanjang Januari-Oktober 2016, yakni Sucorinvest Equity Fund 47,1%, Sucorinvest Syaria Equity Fund 42,23%, dan Sucorinvest Maxi Fund 33,51%.
Head of Research PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya menuturkan potensi upside returnreksa dana saham pada kuartal IV/2016 cenderung terbatas. Perkiraannya, hingga akhir tahun reksa dana saham akan membukukan kinerja 13%-15% atau naik sekitar 3% dari posisi akhir September 2016.

WINDOW DRESSING
Edbert menilai berat bagi reksa dana saham untuk membukukan return di atas IHSG. Secara historis, imbuhnya, kondisi tersebut hanya terjadi saat pasar saham dalam tren bullishsignifikan.
"Saat ini valuasi saham-saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia sudah cukup mahal. Laju IHSG juga dibayangi tantangan pada kuartal IV ini, seperti Pemilu AS pada November dan eksekusi kenaikan Fed Fund Rate pada akhir tahun," ujarnya, baru-baru ini.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menuturkan menjelang akhir tahun kinerja reksa dana saham akan diwarnai aksi window dressing yang dilakukan oleh para pelaku pasar. Dalam 15 tahun terakhir, lanjutnya, IHSG tidak pernah rugi pada Desember.
"Pada 2001-2015, kisaran kenaikan IHSG pada Desember antara 0,4%-12%, tetapi tidak pernah rugi. Rata-ratanya 3%, jadi akan positif untuk kinerja reksa dana saham pada akhir tahun," tuturnya.
Secara historis, lanjutnya, volatilitas eksternal tidak menyurutkan potensi kinerja positif pasar saham jelang penghujung tahun. Kendati begitu, investor reksa dana saham disebut cenderung merealisasikan keuntungan pada saat indeks naik tinggi.
"Ada potensi kenaikan yang cukup besar akhir tahun. Sekarang nasabah tunggu IHSG koreksi ke kisaran 5.300-5.400 untuk masuk," pungkasnya.
Hingga 26 Oktober 2016, Panin Asset Management mengantongi dana kelolaan sebesar Rp10,03 triliun. Dana kelolaan tersebut sempat turun seiring dengan aksi profit taking oleh investor.
Rudiyanto menambahkan dana hasil tax amnesty sudah mulai mengalir ke salah satu manajer investasi gateway ini. Dana tersebut masuk ke produk reksa dana saham, campuran, dan pendapatan tetap yang ditampung dalam rekening khusus. Namun, dia enggan mengungkap nominal dana yang masuk.
"Mudah-mudahan akhir tahun yang sempat profit taking pada September masuk lagi sehingga target dana kelolaan Rp15 triliun-Rp16 triliun bisa tercapai," ujarnya.
Produk reksa dana saham jagoan Panin AM yang membukukan return tinggi secara year to date, misalnya, Panin Dana Teladan 31,19%, Panin Dana Maksima 19, 79%, dan Panin Dana Syariah Saham dengan kinerja 19,55% sepanjang Januari-September 2016.

Jakarta beritasatu - Pemerintah telah menunjuk 55 lembaga gateaway yang terdiri dari perbankan, manajer investasi dan perusahaan perantara perdagangan (sekuritas). Tercatat, ada 19 perusahaan sekuritas, 18 manajer investasi, dan 18 bank yang terpilih bisa menampung dana tax amnesty. Ada beberapa ketentuan yang dituntut pemerinah mengenai dana ini. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 118/2016 tentang Pengampunan Pajak, dana repatriasi tax amnesty wajib diinvestasikan di Indonesia minimal selama tiga tahun. Dan dana repatriasi dan hasil investasinya wajib dilaporkan secara berkala setiap enam bulan selama tiga tahun.
Beberapa manajer investasi yang ditunjuk pemerintah menyatakan sampai saat ini belum berencana menerbitkan reksa dana khusus untuk menampung dana-dana ini. Sejumlah manajer investasi tersebut menyatakan akan mengunakan reksa dana yang sudah ada saja. Seperti disampaikan Director of Business Development PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Putut E Andanawarih, pihaknya sedang menimbangkan beberapa faktor dalam menampung dana repatriasi ini.
Karena ada faktor yang menyatakan kerahasian yang dijamin. “Ini lagi dicari win win solution. Produknya seperti apa,” kata dia. MAMI juga menyiapkan tim khusus untuk mencari tahu keinginan investor. Begitu juga faktor jangka waktu yang mengharuskan diinvestasikan di Indonesia selama tiga tahun dan juga kewajiban pelaporan berkala. “Keharusan penempatan di Indonesia ini juga perlu dipikirkan,” tuturnya.
Sampai dengan saat ini, MAMI masih mengandalkan reksa dana yang sudah ada untuk menampung dana repatriasi. Sementara untuk reksa dana offshore syariah yang dikelola MAMI, tidak bisa dijadikan sebagai instrumen repatriasi. Hal ini karena keharusan penempatan portofolio yang sepenuhnya harus berada di dalam negeri.
Presiden Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia (SIMI) Michael Tjoajadi mengaku, hingga saat ini belum ada nasabah yang melakukan repatriasi ke SIMI. ”Belum, karena repatriasi boleh hingga November, Desember. Deklarasi bisa sekarang, tapi mau bawa pulang duitnya nanti boleh," ujarnya. Untuk memaksimakan penyerapan dana repatriasi ini, Michael mengungkapkan akan menggandeng beberapa bank. Pihaknya dan perbankan akan bersama-sama menawarkan produk dan pelayanan.
Hal yang sama disiapkan PT Panin Asset Management. Disampaikan oleh Direktur Panin Asset Management Rudiyanto, Panin akan memanfaatkan produk-produk reksa dana yang sudah ada. Menurutnya, saat ini Panin sudah memiliki produk reksa dana yang cukup lengkap. “Namun jika ada permintaan khusus dari dana potensi yang besar, tidak menutup kemungkinan kami bisa membuat reksa dana baru," katanya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan aturan Nomor 26/POJK.04/2016 tentang Produk Investasi di Bidang Pasar Modal Dalam Rangka Mendukung Undang-Undang Tentang Pengampunan Pajak. Aturan ini memberikan kemudahan bagi investor yang ikut berpartisipasi dalam program pengampunan pajak (tax amnesty). Isi pokok POJK tersebut yang berhubungan dengan pengelolaan dana antara lain, untuk Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), pada saat pencatatan bisa berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) dan dapat belum memiliki perusahaan sasaran.
Selama dana nasabah RDPT maupun Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) belum diinvestasikan pada perusahaan sasaran atau portofolio efek, manajer investasi yang mengelola RDPT diberikan keleluasaan untuk menempatkan dana tersebut pada deposito bank persepsi lebih dari 10% dari NAB.
Sementara yang mengelola KPD diberikan keleluasaan untuk menempatkan dana tersebut pada deposito pada Bank Persepsi lebih dari 25% dari dana nasabah KPD. Ada juga keringanan dari sisi nilai minimal investasi untuk setiap nasabah untuk KPD. Dari minimum Rp 10 miliar menjadi Rp 5 miliar.
OJK juga menyederhanakan dokumen untuk pendaftaran Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA), Kontrak Investasi Kolektif Efek Dana Investasi Real Estate (DIRE), Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi (EBA SP), sehingga Manajer Investasi dan Bank Kustodian dapat menyiapkan produk investasi dalam waktu yang selaras dengan batasan waktu pada Undang-Undang tentang Pengampunan Pajak.
Bagi penempatan dana pada deposito bagi RDPT yang belum melakukan investasi pada perusahaan sasaran yang semula paling lama enam bulan, diperpanjang menjadi paling lama satu tahun sejak RDPT dicatatkan. Sebagai informasi, kedelapan belas manajer investasi yang ditunjuk yaitu PT Danareksa Investment Management, PT Schroder Investment Management Indonesia, PT Eastspring Investments Indonesia, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, PT Bahana TCW Investment Management, PT Mandiri Manajemen Investasi, PT BNP Paribas Investment Partners, PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, PT BNI Asset Management, PT Panin Asset Management, PT Ashmore Asset Management Indonesia, PT Sinarmas Asset Management, PT Syailendra Capital, PT Trimegah Asset Management, PT PNM Ivestment Management, PT Ciptadana Asset Management, PT Bowsprit Asset Management, dan PT Indosurya Asset Management.


Jakarta detik -Kinerja reksa dana saham kian cemerlang. Secara year to date (ytd) atau dari 30 Desember 2015 hingga 31 Agustus 2016 sudah naik tinggi.

Mengutip data Infovesta, Selasa (13/9/2016), rata-rata imbal hasil reksa dana saham secara ytd mencapai 15,30%, sedikit lebih rendah dibandingkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 17,27%.

Dalam sebulan atau Month on Month (MoM) dari 29 Juli 2016 hingga 31 Agustus 2016, imbal hasil reksa dana saham tercatat naik 1,28%, sementara IHSG naik 3,26%.

Imbal hasil tersebut merupakan data yang tidak termasuk reksa dana dengan dana kelolaan di bawah Rp 10 miliar sesuai ketentuan minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika dirinci lebih jauh, ada reksa dana saham yang mencatatkan keuntungan hingga 36% sejak awal tahun hingga 31 Agustus 2016, yaitu Sucorinvest Equity Fund.

Sucorinvest Sharia Equity Fund mencatat keuntungan 35,24%, sementara Archipelago Equity Growth 33,84%, SAM Dana Cerdas 32,43%, dan BNI-AM Dana Saham Syariah Musahamah 31,55%.
(ang/wdl) 


Jakarta KONTAN. Dana kelolaan PT Panin Asset Management (PAM) makin mengembang. Program pengampunan pajak atau tax amnesty bakal memperbesar dana kelolaan manajer investasi ini.
Per Juli 2016, total dana kelolaan Panin sebesar Rp 11,56 triliun. Jumlah ini tumbuh 4,87% dibandingkan periode sama tahun lalu. Enam produk reksadana saham Panin masih menjadi kontributor utama dana kelolaan yakni sebesar Rp 9,4 triliun. 
Hingga akhir tahun nanti, Panin menargetkan dapat meningkatkan dana kelolaan menjadi Rp 15 triliun hingga Rp 16 triliun. Kenaikan dana kelolaan diharapkan datang dari program amnesti pajak.
Namun, sebagai salah satu penampung dana repatriasi tax amnesty, Panin tidak memiliki target khusus dalam meraih dana kelolaan. Target utama Panin adalah membantu pemerintah dalam menyukseskan tax amnesty. 
Panin pun gencar melakukan pendampingan kepada calon nasabah. Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management mengatakan, pihaknya  telah memulai pendampingan kepada masyarakat untuk mengisi formulir tax amnesty.
Sejauh ini, proses pengisian formulir memakan waktu cukup lama hingga lebih dari empat jam. Itu baru proses awal pengisian formulir. 
Belum lagi ada serangkaian proses yang harus dilalui para wajib pajak. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi Panin untuk menjaring dana tersebut ke dalam reksadana.
"Hingga saat ini, sudah ada deklarasi dan sudah ada dana yang masuk ke reksadana," kata Rudiyanto kepada KONTAN, Jumat (26/8). Namun, ia tidak menyebutkan berapa dana yang telah masuk ke reksadana Panin. 
Panin melihat antusias investor untuk menggali informasi terkait tax amnestysangat tinggi namun cenderung wait and see terlebih dahulu karena masih tersisa tenggat waktu untuk deklarasi.
Catatan saja, tarif tebusan untuk deklarasi untuk periode 1 Juli 2016 hingga 30 September 2016 sebesar 2%. Rudiyanto memprediksi, wajib pajak akan memanfaatkan periode penebusan selanjutnya yaitu 1 Oktober 2016 hingga 31 Desember 2016 dengan tarif tebusan 3%. 
Saat ini, Panin tengah menawarkan produk kontrak pengelolaan dana (KPD) yang dikhususkan menampung dana repatriasi. Jumlah KPD akan disesuaikan dengan nasabah, sebab satu KPD mewakili satu nasabah.

Untuk reksadana terbuka (open end), pihaknya belum mengeluarkan produk khusus penampung dana repatriasi.


INILAHCOM, Jakarta - PT Schroder Investment Management Indonesia sedang mengincar Assets Under Management (AUM) atau dana kelolaan mencapai Rp80 triliun hingga akhir tahun.

Presiden Direktur Schroder Investment, Michael Tjoajadi mengatakan target tersebut tumbuh sebanyak 15% dari perolehan realisasi tahun lalu yang hanya Rp68 triliun. "AUM akhir tahun diperkirakan akan mencapai Rp80 triliun, " ujar dia di Jakarta, Minggu (7/8/2016).


Menurut dia, pihaknya banyak mengelola reksadana saham dan fix income. Dengan komposisi ini, menandakan investor.
Ia berharap, AUM akan tercapai dengan dorongan adanya tax amnesty.Sehingga Schroder telah siap. "Hingga Juni total AUM, mencapai Rp84 triliun," katanya. [hid]
- See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2315363/schroder-bidik-dana-kelolaan-tumbuh-15#sthash.cOaXd2st.dpuf
INILAHCOM, Jakarta - PT Maybank Asset Management catatkan dana kelolaan syariah sebesar Rp 663 miliar per akhir Juli 2016.
CEO Maybank AM, Denny R. Thaher mengatakan, ada lima saham besar dalam penempatan portofolio investasi Maybank Syariah Equity Fund, diantaranya di sektor otomotif, konsumsi, infrastruktur dan telekomunikasi.
"Dana kelolaan Maybank Syariah Equity Fund hingga 29 Juli 2016 tercatat Rp 615,90 miliar," kata dia di Jakarta, Kamis (4/8/2016).
Adapun alokasi investasinya lanjut dia, yaitu sebanyak 99.64 persen saham, 0.36 persen pasar uang, dan lainnya sebesar 0,11 persen. Sementara kalau dilihat data statistik, kinerja Maybank Syariah Equity Fund per 29 Juli 2016 tercatat 4.3% dalam satu bulan, 10,74% dalam tiga bulan, dan 17.25% dalam enam bulan.

"Kami terus akan menjaga konsistensi dari kinerja produk syariah kami, meningkatkan dana kelolaan dan melakukan inovasi-inovasi melalui produk Reksa dana baru. Kami juga didukung oleh tim yang solid, yaitu Fund Manager serta Dewan Pengawas Syariah yang berpengalaman," jelas dia.
Maybank AM kembali berencana meluncurkan produk baru berbasis Syariah yaitu Reksa dana saham yang berbasis efek syariah luar negeri, Maybank Asiapac Syariah Equity USD. Produk ini menetapkan minimum investasi awal dan selanjutnya sebesar US$ 10.000.
"Dengan berinvestasi melalui produk tersebut, diharapkan para investor berkesempatan memiliki potensi kinerja yang menarik sebagai diversifikasi investasi terhadap saham syariah dalam negeri." [jin]
- See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2314893/juni-2016-aum-maybank-asset-management-rp663-m#sthash.2ZEAnXJl.dpuf